KEDUDUKAN dan kewenangan Penjabat (Pj) Gubernur itu (hampir) persis sebagaimana gubernur definitif – kecuali dalam hal melakukan pinjaman daerah (utang daerah). Itu sebabnya kedudukan dan kewenangan H Hakamudin Djamal (17 November 2000-11 Januari 2002) dulu dan H Nata Irawan (16 Januari-12 Mei 2017) sangatlah strategis. Demikian pula yg akan dijalankan oleh Fadlansyah Lubis (katakanlah apabila itu yang ditunjuk oleh Presiden RI) mulai 12 Mei 2022 hingga sekitar Maret atau Mei 2025,  hingga adanya Gubernur dan Wagub Banten definitif hasil Pilkada Banten 27 November 2024 mendatang.

Pj Gubernur berwenang mengajukan dan membahas APBD Banten 2023 bersama pimpinan dan anggota DPRD Banten. Ia juga berwenang melakukan promosi, mutasi, dan demosi terhadap pejabat dan pegawai di lingkungan Pemerintah Provinsi Banten. Dan juga kewenangan-kewenangan lainnya yang melekat pada diri seorang gubernur definitif. Apalagi dia “tidak boleh” memiliki Wakil Gubernur. Hanya akan dibantu oleh sekretaris daerah beserta jajaran perangkat daerah di bawahnya. Posisinya begitu “sentral”.

Kedudukan dan kewenangan Pj Gubernur berbeda dengan kedudukan dan kewenangan pelaksana tugas (Plt) Gubernur. Plt Gubernur sangat terbatas – hal itu sebagaimana pernah dialami oleh Hj Ratu Atut Chosiyah yang merangkap sebagai Wagub (20 Oktober 2005-11 Januari 2007) dan oleh H Nata Irawan (28 Oktober 2016-16 Januari 2017).

Melihat dan mengingat kewenangan seorang Pj Gubermur yang demikian strategis, maka “pendampingan” dan pengawasan oleh pihak DPRD Banten dan oleh seluruh pemangku kepentingan (stake holder) di Banten (eksponen pendiri dan pejuang pembentukan Provinsi Banten, tokoh-tokoh masyarakat, perguruan tinggi, orpol, ormas, mahasiswa, media massa, LSM, dan lainnya) menjadi keharusan. Lebih-lebih figur Pj Gubernur Banten yang ketiga ini – katakanlah Fadlansyah Lubis — betul-betul “orang baru” di Provinsi Banten.

“Baru” dari sisi kultur, meskipun pendidikan program sarjananya dijalani di Unpad Bandung (yang berkultur Sunda). Juga karena merupakan pejabat yang sebelumnya sama sekali belum pernah bertugas di Provinsi Banten.

Demi kemajuan, kemandirian, kemakmuran dan kesejahteraan warga Banten sudah saatnya berbagai komponen warga Banten kompak dan bersatu menerima kehadiran Pj Gubernur Banten seraya mengucapkan Selamat Datang atau “Wilujeng Sumping” atau “Katuran Rawuh” di Provinsi Banten.

Eksponen pendiri dan pejuang pembentukan Provinsi Banten, Puwnten (Paguyuban Warga Banten), PUB (Paguyuban Urang Banten) serta pihak-pihak lainnya harus bersatu, guyub dan kompak mengawal dan mengawasi kiprah dan kinerja Pj Gubernur Banten yang baru ini agar tidak menyimpang dari cita-cita mulia pembentukan Provinsi Banten, yakni mengurangi kebodohan, kemiskinan, dan memajukan dari berbagai ketertinggalan.

Provinsi Banten diperjuangkan dan didirikan oleh segenap komponen warga (Keresidenan) Banten sejak tahun 1952 hingga 4 Oktober 2000. Oleh karena itu jangan sekali-kali diserahkan begitu saja kepada Pj Gubernur Banten, DPRD Banten beserta OPD-OPD yg ada dengan “Cek Kosong”. Tapi harus mengacu kepada cita-cita mulia pembentukan Provinsi Banten.

Ka H Tryana Sam’un, Ketua Umum Badan Koordinasi Pembentukan Provinsi Banten (Bakor PPB) masih eksis dan tentu harus ditemui oleh Pj Gubernur Banten. Harus ditanya apa saja yang menjadi tugas-tugad dan “PR” ke depan. Misalnya, soal tingkat rata-rata lama pendidikan (yang masih “Baru level lulus SLTP”), soal kemiskinan (yang masih 6,6% atau sekitar 900.000 jiwa), soal pengangguran (yang tertinggi pada level nasional) dan lain-lain, termasuk soal korupsi yang sudah akut.

Kita juga ingin mendoakan almarhum H Uwes Corny dan almarhum H UU Mangkusasmita (Ketua Umum dan Sekretaris Umum KPPB) dan almarhum HM Irsjad Djuwaeli dan almarhum H TB Najiullah Ibrahim (Ketua Umum dan Sekretaris Umum Pokja PPB) yang telah kembali ke hadirat Allah SWT. Semoga Allah SWT mengampuni dosa-dosa beliau dan menerima amal ibadahnya. Aamiin Yra.

Doa yang sama juga untuk tokoh-tokoh lainnya yg telah menghadap Illahi Rabbi, antara lain  H TB Chasan Sochib, H Muchtar Mandala, H Sagaf Usman, H TB Edi Suwandi, H Soepardi, H Djadjuli Mangkusubrata, H Aceng Ishak, E Iwa Tuskana Supandri, H Iwan Kusuma Hamdan serta tokoh-tokoh lainnya yang tidak disebutkan satu per satu. Juga ucapan terima kasih kepada mereka semua dan kepada para tokoh yang saat ini masih berkiprah.

Jangan bertikai sesama warga Banten dan sesama warga bangsa. Tetaplah fokus mendahulukan pencapaian cita-cita mulia pembentukan Provinsi Banten. (*)

*H Akhmad Jajuli adalah aktivis sosial dan politik di Provinsi Banten