Jumat, September 30, 2022
BerandaOlahragaPersaingan Liga 3, Berebut Gengsi Halalkan Segala Cara

Persaingan Liga 3, Berebut Gengsi Halalkan Segala Cara

Tangerang7.com, Tangerang – Liga 3 nasional telah memasuki babak 16 besar. Artinya, 16 tim yang yang lolos dan terbagi dalam 4 grup, AA, BB, CC, dan DD, dipilih 8 tim, yaitu juara grup dan runner up promosi ke Liga 2.

Berikutnya, juara grup masing-masing bertemu di babak semifinal pada Sabtu-Minggu (26-27/3/2022) dan pemenang berebut sebagai jawara Liga 3 nasional pada Rabu (30/3/2022).

Pertarungan strategi di level krusial ini menimbulkan berbagai spekulasi. Artinya, perjuangan panjang di tingkat provinsi hingga bisa bertahan di ajang Liga 3 nasional diperlukan perjuangan berat dan pengorbanan berdarah-darah.

Belum lagi, gegap gempita mempertaruhkan gengsi mencari celah dari lubang jarum agar bisa selamat melaju ke Liga 2. Informasi yang berseliweran menyebut, para pejabat penting di PSSI ikut andil mengemban misi menyelamatkan tim ‘titipan’ dengan kompensasi dan harga selangit.

Bagi penulis, kurang etis menyebut oknum-oknum yang secara terang-terangan atau tersembunyi dituding terlibat dalam penunjukan perangkat pertandingan, mulai unsur wasit, asisten wasit, wasit cadangan, pengawas pertandingan (match commissioner), inspektur wasit/penilai wasit, ketua delegasi, hingga panpel melalui pertimbangan dan selentingan tidak lepas dari kepentingan untuk meloloskan tim yang ‘masuk paket istimewa’. Semua harus dibuktikan.

Benarkah suara sumbang yang terus menghujam ke sistem dan perangkat pertandingan sudah kategori darurat? Sekali lagi, menurut catatan penulis, tidak semuanya benar. Karena dalam struktur federasi PSSI, mengikuti regulasi dan kode disiplin (kodis) yang memuat rambu-rambu sistemik untuk mencegah adanya permainan settingan.

Saya belum berani menyebut masuk kategori apa sudah menjurus ke match fixing, suap atau mengondisikan perangkat pertandingan. Yang jelas, fakta bisa disaksikan bersama klub-klub yang mendapatkan layanan istimewa saat bertanding, bahkan terkesan wasit yang seharusnya berpegang teguh pada regulasi dan rule of the game, terkesan buta aturan dan menghalalkan segala cara.

Padahal, tujuan dari regulasi dan kodis PSSI dibuat untuk mengatur dan menjelaskan jenis-jenis pelanggaran disiplin, menetapkan tindakan berupa sanksi agar kodis ditegakkan sehingga pertandingan dan kompetisi berjalan disiplin sesuai dengan laws of the game, berlangsung fair, respect, dan sportif.

Benih-benih persaingan tidak sehat terangkum dalam proses penjaringan Liga 3 di provinsi. Bukan lagi main bola, menunjukkan skill, kelincahan mengolah bola, dan ketangkasan kiper menyelamatkan gawang tidak kebobolan. Malah terjadi baku pukul.

Pemicunya sederhana, para pemain dan official yang kurang paham dengan peraturan, regulasi dan kodis atau memang perangkat pertandingan, khususnya wasit sebagai pengadil di lapangan hijau, asal tiup peluit, ditambah asisten wasit atau hakim garis yang rabun atau terlanjur mengikuti ‘pemesan’ agar memenangkan salah satu tim. Akhirnya, ambyar semua.

Perangkat pertandingan dituding telah mengabaikan produk hukum tertinggi di dunia sepakbola. Konon, mereka lebih takut kepada yang menugaskan dan berwenang untuk mengatur jadwal, daripada menjunjung regulasi dan kodis. Sepertinya, semua yang terlibat telah mengabaikan tujuan mulia dari PSSI, bisa mengibarkan sang Merah-Putih dan mengedepankan harkat, marwah dan martabat bangsa.

Saya tidak menyalahkan ada gesekan dalam babak 16 besar, karena tinggal selangkah bisa berkibar dan promosi ke Liga 2. Sekali lagi, dengan biaya yang tidak sedikit. Penulis yang telah mengikuti jalannya Liga 3 mulai level provinsi hingga Liga 3 nasional, tiap tim yang telah lolos ke babak 16 besar, bisa dipastikan kisaran anggaran yang dikeluarkan mencapai miliaran rupiah.

Apalagi, kondisi lagi pandemi covid-19. Mulai kebutuhan konsumsi, akomodasi, penginapan, transportasi, dan biaya non teknis, tentu menguras dana tidak sedikit, pikiran, dan emosi.

Kebetulan, pertandingan babak 16 besar Liga 3 nasional digelar di Jawa Timur. Selain berbagai pertimbangan dan fasilitas, ada 4 tim dari Jatim yang lolos, yaitu Detras Sidoarjo, Persedikab Kediri, Putra Delta Sidoarjo/Putra Jombang, dan Gresik United.

Sedang tim lain, Farmel FC, Persikota, Persipa Pati, PSGC Ciamis, Persidago, Mataram FC, PSDS Deli Sedang, PS Palembang, Karo United, Persikab Bandung, PS Siak, dan Serpong City FC.

Kesimpulan penulis, siapa pun yang tampil dengan beragam ikhtiar, termasuk urusan non teknis, kualitas, dan soliditas tim merupakan modal utama. Walaupun dibela wasit, dikerjai perangkat pertandingan, kalau tim tidak bikin blunder di dalam kotak pinalti, dan bisa meredam emosi, wasit juga akan berpikir seribu kali. Kecuali wasit dan perangkat pertandingan edan.

Kalau wasit sudah terbukti gelap mata, asal tiup pelanggaran, maka federasi PSSI harus tegas dan lugas. Bukan sekadar menghukum sanksi dibebaskantugaskan, tapi ada degradasi bila perlu vonis tegas untuk menanggalkan korps pengadil di lapangan.

Sanksi lugas dan tegas, membuat wasit tidak sekadar memburu pundi-pundi uang, tapi berpikir tentang nasib karier di perwasitan dan sanksi moral dikucilkan dari dunia sepakbola.

Ayo, bangkit sepakbola Indonesia. Jangan hanya bikin prestasi memalukan dengan mempraktikkan adu jotos di lapangan dan Wasit berakrobatik meniupkan peluit saktinya. Waktunya, memunculkan pemain-pemain bertalenta, berakhlak serta memiliki jiwa nasionalis untuk mengharumkan nama bangsa Indonesia dan Merah Putih. (*)

Catatan ;

HS Makin Rahmat

Jurnalis, Ketua Komdis Asprov PSSI Jatim

 

 

RELATED ARTICLES
ADVERTORIAL

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini

- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img
- Advertisment -spot_img

Most Popular

Tangerang7 Smart

Tangerang7 Niaga