Tangerang7.com –  Allah SWT memerintahkan kepada ummahatul mukminin dan juga seluruh muslimah secara umum, untuk menetap di rumah-rumah mereka. Perintah tersebut memiliki manfaat yang besar bagi kaum wanita dalam berbagai aspek.

“Dan hendaklah kalian tetap di rumah kalian dan janganlah kalian berhias dan bertingkah laku seperti orang-orang jahiliyah yang dahulu dan dirikanlah sholat, tunaikanlah zakat dan taatilah Allah dan rasul-Nya. Sesungguhnya Allah bermaksud hendak menghilangkan dosa kalian, hai ahlul bait dan membersihkan kamu sebersih-bersihnya.” (Al-Ahzab:33)

Lebih Dekat dengan Allah

Menetapnya seorang muslimah di rumah, menahan diri untuk tidak keluyuran dan sesuka hati tanpa keperluan syra’i, merupakan salah satu wujud ketaatan kepada Allah dan Rasul-Nya. Ketaatan tersebut akan mendatangkan keridhaan Alla SWT dan pahala bagi dirinya.

Selain itu, menetapnya wanita di dalam rumah memberikan peluang bagi dirinya untuk melakukan aktifitas taqarrub ilallah (mendekatkan diri kepad Allah). Dengan di rumah ia akan lebih memiliki waktu dan kesempatan untuk melakukan ibadah-ibadah nafilah, juga waktu luang untuk mengaji dan mengkaji Al-quran, serta amalan lain yang kemungkinan tidak semat ia lakukan jika ia sibuk beraktivitas di luar.

Persis seperti yang disampaikan oleh Rasulullah SAW, “Dan saat-saat yang paling dekat dengan Rabb-Nya adalah saat ia berada di bagian rumahnya yang paling dalam.” (Silsilah Ash-Shahihah, 2688).

Karena itulah penting unutk mengetahui keutamaan menetapnya wanita di rumah. Bahkan sholat di masjid yang diganjar dengan pahala 27 derajat untuk laki-laki,menjadi tidak lebih utama, ketika seorang wanita sholat di rumahnya.

Ummu Hamid, istri Abu Hamid As-Sa’idi, pernah mendatangi Nabi dan berkata,”Wahai Rasulullah, saya senang shalat bersama Engkau.” Rasulullah bersabda, “Aku tahu kau senang sholat bersamaku. Tapi shalatmu di dalam rumahmu itu lebih baik daripada sholat di halaman dalam rumahmu. Sholatmu di halaman dalam itu lebih baik dari pada sholat di dalam kompleks rumahmu. Sholatmu di kompleks rumahmu lebih baik daripada sholat di masjid kaummu. Sholat di masjid kaummu itu lebih baik daripada sholat di masjidku.” Ummu Hamid pun memerintahkan agar dibuatkan tempat sholat di bilik yang paling dalam di rumahnya dan sholat di tempat itu hingga ia wafat. ((HR. Ahmad)

Bebas dari Fitnah

Perintah untuk menetap di dalam rumah dalam ayat yang tersebut di atas, diiringi dengan larangan untuk berhias dan bertingkah laku seperti wanita jahiliyah. Seorang wanita yang enggan menetap di rumah lantaran hobi hang out dan keluar rumah tanpa alasan syar’i, seakan menjadi alasan untuk berhias agar tampil cantik dan menarik ketika akan keluar rumah.

Beperiannya seorang wanita dari rumahnya, akan memicu berbagai fitnah dan kerusakan. Karena Rasulullah SAW telah mengingatkan, “Wanita itu aurat. Bila ia keluar dari rumah, setan akan menghiasinya.” (HR. Tirmidzi). Dengan menetap di dalam rumah, berarti ia berada dalam benteng yang kokoh dan penjagaan yang kuat. Jika ia keluar dari rumahnya, hilanglah rasa aman yang dimilikinya seperti halnya ketika ia berada di dalam rumah.

Setan tak perlu bersusah payah mencari umpan, karena wanita yang keluar tersebut telah menjadi umpan sekaligus perangkap ampuh untuk menjebak manusia ke dalam fitnah dan kerusakan. Oleh karena itu, Abdullah bin Mas’ud berpesan, “Tahanlah wanita di rumah, karena sesungguhnya wanita itu adalah aurat. Apabila ia keluar rumah, setan menatapnya dengan tajam dan berbisik kepadanya, “Tidaklah engkau melewati seorang pun melainkan ia pasti kagum terhadapmu’.”

Setan menghiasi wanita hingga dirinya merasa cantik dan menganggap dirinya seolah tampak menarik di mata lelaki yang melihatnya. Sebaliknya, setan juga memperdayai laki-laki yang dilewatinya agar tegoda oleh si wanita.

Fokus dengan Tanggung Jawab Domestik

Seorang wanita identik dengan tanggung jawab domestic yang berkaitan dengan peran dan tugasnya sebagai isteri dan ibu. Ia bertugas melayani suami dan selalu berusaha mencari keridhaan suami selama tidak bermaksiat kepada Allah. Dengan mengharap ridha-Nya, ia akan senantiasamemberikan yang terbaik untuk rumah tangga dan keluarganya, mengurus dan mengaturnya. Merawat anak-anaknya dan mentarbiyah mereka dengan sebaik-baiknya.

Syaik Muhammad bin Shalih Al ‘Utsaimin mengatakan bahwa perbaikan masyarakat bisa dilakukan dengan dua cara : Pertama, perbaikan secara lahiriyah, yaitu perbaikan yang berlangsung di pasar, masjid, dan berbagai urusan lahiriyah lainnya. Hal ini banyak didominasi kaum lelaki, karena merekalah yang sering Nampak dan keluar rumah. Kedua, perbaikan masyarakat di balik layar, yaitu perbaikan yang dilakukan di dalam rumah. Sebagian besar peran ini diserahkan kepada kaum wanita sebab wanita merupakan penanggung jawab di rumah.

Keberadaan wanita di rumah akan membuatnya focus dengan tanggung jawab domestiknya. Fokus dalam melayani suami, karena ia akan lebih memahami apa yang bisa menyenangkan dan membuat nyaman suaminya ketika sang suami ‘berlabuh’ di rumah. Menyambutnya ketika ia datang dan berhias untuknya. Merawat diri dan kecantikannya. Juga, always avaible ketika sang suami membutuhkannya.

Begitu pula dengan anak-anak, ia akan lebih bisa mengonsentrasikan perhatiannya dalam mengasuh dan mendidik anak-anaknya. Sehingga, ia tahu benar bagaimana tumbuh kembang anak-anaknya secara langsung. Dengan demikian, ia akan lebih cermat dan tanggap dalam melaksanakan tanggung jawab kerumahtanggaan. (**/t7)

 

Sumber : An-Najah, Edisi 91