oleh

Tingkah Pengendara Hindari Penilangan, Rusak Motor hingga Mengaku Teroris

Tangerang7.com, Serpong – Jika Anda tengah mengemudikan kendaraan bermotor dan tiba-tiba diberhentikan polisi lalu lintas, bagaimana reaksi Anda? Bagaimana jika ternyata Anda melakukan pelanggaran Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang lalu lintas dan angkutan jalan? Tentu berharap tidak ditilang atau hanya diberikan sanksi teguran, bukan?

Berbicara pelanggaran lalu lintas dan reaksi pengendara saat diberhentikan polisi, kurun Februari-Maret 2019 menjadi sejarah tersendiri di Kota Tangerang Selatan. Dua pengendara sepeda motor atau bikers bertingkah saat hendak ditilang polisi. Meskipun terjadi di tempat dan waktu berbeda, namun aksi keduanya cukup membuat heboh.

Kamis (7/2/2019), Adi Saputra seketika viral di media sosial. Berawal dari beredarnya video pria kelahiran Agustus 1998 itu mengamuk dan merusak sepeda motor yang dikendarainya lantaran tidak terima ditilang polisi di sekitar Pasar Modern BSD, Jalan Letnan Sutopo, Kecamatan Serpong.

Ia melakukan perusakan dengan mengangkat lalu membanting motor berwarna merah putih. Ia juga mencopot sejumlah perlengkapan motor tersebut secara membabi buta. Awalnya, anggota Satlantas Polres Tangsel Bripka Oki Ranto Hippa memberhentikan pelanggar lalu lintas yang berusaha melawan arus karena menghindari petugas yang sedang melaksanakan pengaturan lalu lintas di putaran Pasar Modern BSD.

Oki kemudian melaksanakan penindakan dengan memberikan surat tilang. “Pelanggar marah dan membentak-bentak petugas, serta merusak kendaraannya sendiri,” Kata Kasat Lantas Polres Tangsel AKP Lalu Hedwin.

Tidak hanya melawan arus, Adi dan teman wanitanya tidak menggunakan helm dan tidak dapat menunjukkan surat-surat berkendara berupa SIM dan STNK. “Kami tetap melakukan penindakan dengan tilang. Barang bukti satu unit sepeda motor telah diamankan di Satlantas Polres Tangsel,” tandas Hedwin.

Sepeda Motor Bodong

Beberapa saat kemudian, aksi ABG itu kembali viral di media sosial. Ia membakar kertas mirip STNK. Dalam video viral, Adi tampak mengenakan pakaian yang sama dalam video saat dirinya mengamuk dan merusak motor di Jalan Letnan Sutopo.

“Kan tadi (polisi, red) nanyain STNK nih, ini STNK-nya nih,” kata Adi sembari mencoba menyalakan korek api untuk membakar selembar kertas mirip STNK.

Menanggapi hal itu, polisi melakukan penyelidikan. Polisi kemudian melakukan upaya paksa terhadap pria yang viral di media sosial tersebut. Adi merupakan penjual kopi di Pasar Modern BSD. Ia ditangkap di salah satu indekos di Rawa Mekar Jaya.

Usut punya usut melalui proses pengecekan berbasis data, Adi diketahui belum memiliki SIM. Nomor polisi yang terpasang pada motor Honda Scoopy yakni B 6395 GLW tidak sesuai peruntukannya, di mana seharusnya pelat nomor yang terpasang adalah B 6238 VDL.

Kepada polisi, Adi mengaku melakukan perusakan motor karena merasa emosi. Hasil pemeriksaan urine dan darah pun tidak menunjukkan indikasi bahwa ia dalam pengaruh obat-obatan terlarang atau bahan adiktif lainnya.

Polisi menetapkan Adi sebagai tersangka dengan dua sangkaan, yakni pidana dan pelanggaran lalu lintas. Motor Honda Scoopy yang dibanting-banting Adi tidak terdaftar alias bodong. Dijerat pasal sesuai KUHP tentang membuat surat palsu, penipuan dan penggelapan, dan atau penadahan serta menghancurkan barang yang digunakan untuk membuktikan sesuatu di muka petugas yang berwenang. Ia juga dijerat pasal merusak barang milik orang lain.

“Pasal 263 dan atau pasal 372 dan atau pasal 378 juncto pasal 480 dan atau pasal 233 dan atau pasal 406 KUHP. Ancaman hukumannya sampai dengan 6 tahun penjara,” jelas Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan dalam jumpa pers di Mapolres Tangsel, Jumat (8/2/2019).

Adapun untuk pelanggaran lalu lintas, Adi dijerat sesuai Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009. Di mana, melanggar pasal 281, pasal 288 ayat 1, pasal 280, pasal 291 ayat 1 dan ayat 2, serta pasal 282.

Stres Dicerai Istri

Kasus Adi belum selesai di meja hijau. Tingkah bikers menggemparkan kembali terjadi di Kota Tangerang Selatan, Kamis (14/3/2019). Tepatnya di perempatan German Centre, Kecamatan Serpong. Bikers laki-laki berteriak mengaku bagian dari kelompok teroris ketika hendak diberhentikan polisi lalu lintas.

“Saya ini teroris. Saya teroris yang kelompok ngebom Sarinah (Jakarta), anak buah Amrozi,” kata Kasat Reskrim Polres Tangsel Alexander Yurikho menirukan ucapan bikers tersebut.

Namun, ancaman tak membuat nyali Brigadir Gatot Tri Prasetyo dkk menjadi ciut. Personel Satlantas Polres Tangsel ini justru melakukan pengejaran terhadap sang bikers yang terus melaju agar lolos dari penilangan. Terlebih karena selain tidak pakai helm, motor pria bertato itu tidak dilengkapi pelat nomor.

Gatot pun berhasil mencegat bikers tersebut dan mengamankan sepeda motor Yamaha Mio GT. Saat dilakukan pemeriksaan, ternyata ia tidak memiliki identitas apapun. SIM dan STNK juga tidak dapat ditunjukkan kepada polisi. Adapun pelat nomor yang terpasang di bagian depan adalah B 3316 NZB.

Beberapa saat kemudian polisi mengungkap fakta tentang pria mengaku teroris tersebut. Ia adalah Ahmad Syahrudin (32), warga Kelurahan Lengkong Gudang, Kecamatan Serpong. Ternyata, ia pengidap penyakit mental kronis atau skizofernia paranoid. Hal ini dikuatkan dengan surat rujuk balik dari Rumah Sakit Dr H Marzoeki Mahdi Bogor, Jawa Barat.

“Selain itu, keterangan dari keluarganya bahwa yang bersangkutan mulai terindikasi mengidap penyakit jiwa setelah perceraian dengan istrinya pada April 2018,” tandas Alex.

Fakta tersebut terungkap setelah penyelidik Satreskrim Polres Tangsel menjemput keluarga Syahrudin. Lalu saudara keempat Syahrudin, Zaenal Arifin, datang ke Mapolres Tangsel dengan membawa data administrasi kependudukan dan data medis lengkap.

Alex mengatakan, sepeda motor Yamaha Mio GT yang dikendarai Syahrudin saat diberhentikan polisi adalah milik Fajri, kakak tertua dari Syahrudin. Fajri merupakan anak ke 8 dari 10 bersaudara. Syahrudin menggunakan motor itu tanpa izin dari Fajri.

“Kepentingan yang bersangkutan menggunakan sepeda motor milik kakak tertua dalam keluarganya untuk mengantarkan hand phone kepada Zaenal. Hand phone tersebut tanpa SIM (Subscriber Identity Module) card,” pungkas Alex. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya