oleh

Terpesona Kemajuan Desa Ponggok, Haji Badri Ingin Adopsi di Tangerang

Tangerang7.com – Sejumlah pejabat terpikat usai berkunjung ke Desa Ponggok, Kecamatan Polanharjo, Kabupaten Klaten. Eksistensi dan kemajuan desa itu patut diacungkan jempol. Bagaimana tidak, kepala desa setempat menggelorakan perekonomian dengan melibatkan masyarakat.

Kemarin, anggota DPD RI Ahmad Subadri berkunjung ke sana. Senator asal Banten ini juga mengajak rombongan kerjanya ke desa berpenduduk sekitar 1.825 jiwa itu. Haji Badri -sapaan akrab Ahmad Subadri- disambut oleh Kepala Desa Ponggok Junaedhi Mulyono.

Penampilan orang nomor satu di desa itu cukup santai. Bersepatu kets tanpa kaus kaki, bercelana jins biru, berkemeja putih bermotif, dan bertopi. Sangat kontras dengan para stafnya yang berpakaian dinas.

Penampilan santai Junaedhi juga terlihat di foto struktural pemerintahan desa yang terpampang di kantor desa itu. Foto para stafnya berpakaian batik biru, termasuk dua kepala dusunnya. Lagi-lagi, Junaedhi hanya berkemeja putih dan bertopi.

“Penampilan saya memang begini dari dulu,” kata Junaedhi dengan logat Jawa-nya yang kental, Rabu (6/2/2019).

Kepada Haji Badri dan rombongan, Junaedhi memaparkan kinerjanya. Ia memajukan desanya dimulai dari data, potensi, dan bergerak dengan melibatkan masyarakat. Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) menjadi wadah menggali potensi dan menyejahterakan masyarakatnya.

Salah satu konsep yang dijalankannya adalah melibatkan masyarakat untuk berinvestasi. Dengan uang Rp 100 ribu yang dikumpulkan dari sekitar 2.000 orang, Junaedhi mengelola potensi desanya yakni air. Berbagai usaha, seperti lokasi wisata kini dikelola BUMDes dan terus mengalami kemajuan.

“Kepercayaan masyarakat juga menjadi kunci kita bisa membangun dan memajukan desa,” kata Junaedhi.

Ia menyebutkan, Desa Ponggok saat ini telah dikembangkan menjadi desa wisata air. Desa Ponggok memiliki luas sekitar 77.225 hektare.

Di desa itu terdapat beberapa umbul atau mata air, antara lain umbul besuki, umbul sigedang, umbul ponggok, dan umbul kapilaler. Sumber air yang melimpah juga dimanfaatkan untuk membudidayakan ikan, terutama ikan nila.

Diketahui, Junaedhi menjabat kepala desa selama dua periode. Ia adalah putra asli Desa Ponggok yang berpendidikan sarjana hukum.

Ahmad Subadri dan Junaedhi Mulyono berbincang di Kantor Kepala Desa Ponggok.

Haji Badri pun mengaku terpesona dengan kemajuan Desa Ponggok. Menurut pria yang juga anggota MPR RI itu, Desa Ponggok sangat inspiratif dan harus bisa menjadi inspirasi desa-desa lain di Indonesia, terutama di Provinsi Banten. Haji Badri bahkan berencana mengundang Junaedhi ke Kabupaten Tangerang.

“Saya ingin mengundang pak kades berkunjung ke Kabupaten Tangerang. Setidaknya, saya ingin minta waktu tiga hari untuk pak kades memberikan pengalaman dan ilmunya,” kata Haji Badri yang kemudian disanggupi Junaedhi. Ia bersedia berbagi pengalaman dengan desa-desa lain di Indonesia.

Haji Badri mengatakan, Desa Ponggok adalah cermin upaya memajukan Indonesia. “Membangun Indonesia itu harus dari desa,” ujarnya.

Dia begitu terkagum-kagum dan mengapresiasi ketika Junaedhi memaparkan gagasan dan kerjanya memajukan Desa Ponggok. Haji Badri mengajak para kepala daerah untuk mendorong aparatnya di desa bisa berbuat dan berkinerja seperti Desa Ponggok.

“Memang yang agak menjadi kendala adalah trust. Kepercayaan masyarakat. Sangat tidak mudah kepala desa mengajak masyarakat ikut membangun dengan cara menarik uang,” tandas politisi Partai Hanura ini. (kam/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *