oleh

Tempat Sampah yang Kini Jadi Taman Hijau Penuh Kupu-kupu

Tangerang7.com, Neglasari – Tumpukan sampah di tempat pembuangan sampah Rawa Kucing, Kedaung Wetan, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang, dikelilingi oleh tanaman. Dari 32 hektar TPA, 15 ha untuk sampah dan 2 ha untuk penghijauan taman, dan sisanya untuk infiltrasi air.

Tempat pembuangan akhir sampah Rawa Kucing (TPA), telah berubah secara signifikan setelah hampir lima tahun. Saat ini, fasilitas pengelolaan limbah telah menjadi taman pendidikan publik yang hijau.

Pohon-pohon tinggi terlihat di mana-mana saat memasuki taman di TPA Rawa Kucing. Taman ini berisi pohon-pohon dari berbagai spesies, bentuk dan ukuran. Jalan setapak yang dipenuhi pepohonan melintasi taman.

“TPA lebih dingin dan lebih hijau. Luar biasa,” kata Pudji pengunjung taman di TPA Rawa Kucing akhir pekan lalu dengan dua orang temannya.

Pudji dan teman-temannya berhenti sesekali untuk memotret pemandangan indah TPA Rawa Kucing. Mereka mencari secara khusus untuk mengambil gambar kupu-kupu dan capung berwarna-warni yang terbang di antara dedaunan dan dahan.

“Kehadiran kupu-kupu dan capung menunjukkan bahwa udara di sini sejuk dan segar,” kata Kepala Unit Layanan Teknis (UPT) TPA Rawa Kucing Diding Sudirman, yang didampingi oleh Kepala Administrasi TPA Rawa Kucing Marsan.

TPA Rawa Kucing adalah satu-satunya fasilitas pengelolaan limbah yang menerima semua sampah yang tidak dikelola oleh masyarakat dan bank sampah yang beroperasi di 104 kelurahan di Kota Tangerang.

TPA ini menerima 1.300 ton sampah setiap hari yang kemudian diproses oleh para pekerja dan pemulung. Pemulung memilah sampah dan kaleng plastik, serta sepatu dan mainan, yang membantu mengurangi volume sampah yang dibawa ke lokasi pemrosesan.

“Sejak saya muda, sekitar 15 tahun, saya telah membantu ayah saya sebagai pemulung di TPA,” kata Sandi (52), pemulung asal Pandeglang di TPA.

“Saya bisa mengumpulkan 10 kantong sampah besar dalam sehari. Saya bisa mengumpulkan 20 kilogram gelas plastik dan botol minuman, belum lagi sepatu bekas, kaleng dan sampah lainnya,” imbuhnya.

Plastik bekas dan kaleng bisa dijual kembali seharga Rp 600 per kg. Barang karet dapat dijual kembali seharga Rp 1.000 per kg, dan botol kaca dan plastik dijual kembali dengan harga Rp 2.000-6.000 per kg.

Sarmi (35), dan suaminya Endi (38), juga telah bekerja sebagai pemulung di TPA Rawa Kucing selama 10 tahun terakhir. Mereka mendapat penghasilan bagus dari pekerjaan mereka.

Di sana ada sebuah bukit yang disebut Ambekan. Bukit itu adalah tumpukan sampah yang sudah lama dan telah dipadatkan, sehingga tidak akan roboh.

Di TPA Rawa Kucing ada area sementara yang dilengkapi dengan kompor yang menggunakan metana yang dihasilkan dari limbah. Gas mengalir tanpa gangguan. Pesatnya perkembangan fasilitas TPA Rawa Kucing tidak dapat dipisahkan dari pertumbuhannya yang cepat dari 20 hektar menjadi 32 hektar. Sejak 2015, kawasan ini telah menjadi situs wisata pendidikan dan rekreasi. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya