oleh

Satgas Mafia Tanah Tangkap Eks Kades di Cikupa dan Honorer Pemkot Tangsel

Total 10 Tersangka

Tangerang7.com – MY, mantan Kades Talagasari, Kecamatan Cikupa, Kabupaten Tangerang, ditangkap polisi terkait kasus pembebasan tanah. Satgas Mafia Tanah Polda Banten juga menangkap DJ, warga Balaraja. Penangkapan keduanya lantaran melampirkan dokumen palsu saat mengajukan penerbitan hak milik seluas 5.411 meter persegi.

Tidak hanya MY dan DJ, tetapi polisi menciduk delapan orang lainnya. Satgas menangkap 10 orang atas dugaan kasus mafia pembebasan lahan di Kabupaten Serang dan Kabupaten Tangerang. Komplotan itu diduga menyerobot tanah milik orang termasuk tanah di sekitar pembangunan Tol Serang-Panimbang. Para mafia tersebut ditangkap dalam kelompok terpisah.

“Betul, 10 tersangka tersebut saat ini dilakukan penahanan di Rutan Mapolda Banten,” kata Kasubdit II Hardabangtah AKBP Sofwan Hermanto dikutip dari detik.com, Selasa (5/2/2019).

Sofwan yang juga Ketua Satgas Mafia Tanah Polda Banten menjelaskan, pelaku dalam kelompok pertama berinisial MY dan DJ. Keduanya melakukan gugatan perdata untuk mengambil hak orang dengan penerbitan hak milik yang syarat suratnya palsu.

Kelompok kedua yakni berinisial JM, mantan Kades Cisait, Kabupaten Serang; seorang PNS di Pemkab Serang berinisial IS; dan seorang wiraswasta berinisial ES. Ketiganya diduga memalsukan akta jual beli (AJB) dan memalsukan tanda tangan pemilik tanah seluas 19,661 meter persegi untuk dialihkan haknya.

Kelompok ketiga, jaringan mafia perumahan yang menawarkan perumahan dengan luas tanah 9.600 meter persegi. Padahal, tanah tersebut merupakan milik orang lain dengan kepemilikan dan perizinan yang sah. Tersangka adalah SW dan HL, selaku direktur dan komisaris PT PNM.

Adapun tersangka lainnya yaitu tiga orang yang mengaku tim pembebasan lahan untuk Tol Serang-Panimbang. Antara lain seorang pegawai honorer di Pemkot Tangsel berinisial PH, seorang PNS di Pemkot Serang berinisial SS, dan seorang wiraswasta berinisial LM.

PH, SS, dan LM diduga menawarkan 23 bidang tanah seharga Rp 5,5 miliar. Sementara tanah itu sudah dijual ke orang berbeda. “Namun bidang tanah tidak bisa dikuasai karena tanahnya sudah dijual ke orang lain,” ujar Sofwan. (dtc/srh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya