oleh

Saling Ejek di Medsos Berujung Tawur, Satu Pelajar Tewas

Tangerang7.com, Tigaraksa – OP (17), pelajar tingkat sekolah menengah atas (SMA) di Kabupaten Tangerang, tewas terkena sabetan senjata tajam. Nyawa OP melayang dalam perkelahian massal alias tawur di Kawasan Industri Olex, Pasir Bolang, Tigaraksa.

Kapolresta Tangerang AKBP Ade Ary Syam Indradi mengatakan, aksi tawur pada Kamis (28/11/2019) itu bermula dari saling ejek antara dua pelajar di media sosial (medsos). Kedua pelajar tersebut berasal dari sekolah berbeda. Usai saling ejek, para pelajar bersepakat untuk tawur.

“Dua kelompok pelajar itu tawuran menggunakan senjata celurit, parang, badik, bambu runcing, hingga stik golf,” kata Ade dalam keterangan tertulis, Selasa (3/12/2019).

Saat tawur terjadi di Kawasan Industri Olex, jumlah kelompok OP lebih sedikit daripada kelompok lawan. “Korban meninggal karena dibacok dari belakang. Setelah ada korban tewas, para pelaku tawuran langsung berhamburan melarikan diri,” ujar Ade.

Polisi Tangkap 10 Orang Tersangka

Video tawur antar-pelajar itu pun sempat beredar di media sosial seperti WhatsApp. Lantas, polisi bergerak cepat untuk datang ke tempat kejadian perkara dan melakukan penyelidikan.

Alhasil, polisi mengamankan sebanyak 10 orang, terdiri dari 9 berstatus pelajar dan 1 merupakan alumni. Kesembilan pelajar itu masih di bawah umur, masing-masing berinisial KP (16), HS (16), DD (15), AS (15), SZ (14), MRO (15), AR (17), RH (15), dan S (15).

Adapun orang dewasa yakni berinisial YOR. Pria 19 tahun ini merupakan alumni salah satu SMA di Kabupaten Tangerang. YOR diajak untuk terlibat dalam tawur antar-pelajar itu. Kini, YOR bersama 9 pelajar telah ditetapkan sebagai tersangka.

Dokumentasi Humas Polresta Tangerang.
Tiap Senin, Polisi Jadi Irup di Sekolah

Atas kejadian tersebut, Ade mewajibkan seluruh anggota Polresta Tangerang untuk menjadi inspektur upacara (irup) di sekolah tiap Senin. “Mulai Senin depan, anggota menjadi irup dengan tema anti tawuran,” ujar dia.

Guna mencegah hal serupa, Ade akan mengajak semua kalangan seperti dinas pendidikan, tokoh agama, hingga wali murid, agar berperan menjaga peserta didik dari tawur. Menurut dia, pencegahan tawur tak dapat dilakukan hanya oleh polisi.

Peran orang tua dan unsur masyarakat lainnya sangat penting agar anak sadar bahwa tawur adalah tindakan negatif dan berbahaya.

“Ini sudah memprihatinkan, tawuran pelajar kembali menyebabkan orang meninggal. Perlu peran semua pihak agar kejadian seperti ini tak terulang,” pungkas Ade. (rls/srh/*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *