oleh

Raih Penghargaan Prince Claus dari Kerajaan Belanda

Lambat laun, karya sastra Eka berkembang menjadi gaya tersendiri yang menggabungkan antara cerita rakyat, hal yang tabu, kisah pewayangan, silat khas Indonesia, komik horor, cerita realisme magis untuk menggambarkan pengalaman orang yang nyata dan berlapis-lapis.

“Karyanya penuh mitos seperti Gabriel Garcia Marquez. Penuturan cerita dengan fantasi yang begitu kaya, keindahan prosanya, dan tema universal yang diangkatnya juga menjadikan karya Eka Kurniawan lebih unggul,” tandas Rob Swartbol.

Sementara itu, Eka mengaku belajar dari karya-karya Pramoedya Ananta Toer hingga akhirnya menemukan gayanya sendiri untuk menghasilkan sebuah karya sastra. Lulusan Fakultas Filsafat Universitas Gadjah Mada itu seringkali memadukan elemen tradisi, sejarah dari mulut ke mulut, pencak silat, hingga komik horor untuk menggambarkan pengalaman masyarakat yang sangat berlapis.

Tak heran jika karya-karya Eka yang dinilai unik ini sering disejajarkan dengan penulis Gabriel Garcia Marquez dan Haruki Murakami. Salah satu novelnya, Cantik Itu Luka di tahun 2002 telah diterjemahkan ke dalam 34 bahasa.

Dalam novel itu, Eka mampu mengisahkan tragedi keluarga yang menggambarkan topik yang jarang disoroti, yakni kekerasan fisik dan seksual di masa kolonialisme Belanda dan Jepang, serta kediktatoran Presiden Suharto melalui karya satire yang lucu.

Menurut pria kelahiran Tasikmalaya 1975 itu, anugerah Prince Claus sesuatu yang spesial. “Penghargaan ini tidak mengacu kepada buku tertentu. Sebelumnya saya memperoleh penghargaan karena ‘Lelaki Harimau’ (2004), kalau penghargaan ini melihat secara keseluruhan dari kekaryaan saya. Jadi lebih spesial,” ujar Eka di Erasmus Huis.

Di penghargaan-penghargaan sebelumnya, novel bertajuk Lelaki Harimau atau Man Tiger mengantar Eka ke jajaran sastrawan dunia. Jurnal Foreign Policy menobatkan Eka sebagai salah satu dari 100 pemikir paling berpengaruh di dunia pada 2015.

Pada Maret 2016, novel Lelaki Harimau juga berhasil menorehkan prestasi sebagai buku Indonesia pertama yang dinominasikan di ajang penghargaan bergengsi The Man Booker International Prize. Nama Eka masuk dalam peta kesusastraan dunia.

Dewan Juri Tanya Kesediaan Penerima Penghargaan

Sejak keluar sebagai penerima Prince Claus 2018, Eka banyak ditanyakan soal anugerah tersebut. Serta apa alasan dari tim juri memberikan penghargaan.

“Saya tidak tahu kenapa saya terpilih dan siapa yang menominasikan, tapi saya bisa bilang mereka menghubungi saya sekitar dua bulan sebelumnya dengan mewanti-wanti jangan bilang siapa-siapa, ya tentu saja,” ujar Eka berkelakar.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya