oleh

Potensi Industri Hilir Sawit dan Keuangan Berkelanjutan di Tangerang

TANGERANG – Industri dan pendanaan pada sektor perkebunan sawit belum menjadi  fokus usaha. Namun ada peluang besar di dalamnya. Ini tersirat dalam Konferensi Minyak Sawit Internasional atau Internasional Palm Oil Conference (IPOC), di Bali, 2 November 2018 lalu.

Saat ini, pertumbuhan pesat industri sawit baru pada aspek kuantitatif, terutama pada peningkatan produksi tandan buah segar (TBS), serta ekses ekspansi usaha berupa perluasan lahan baru. Berkat dukungan modal kuat  korporasi, tumbuhnya investasi serta gairah pengusaha lokal hingga dikembangkannya model bisnis perusahaan inti dan para petani sawit sebagai plasmanya.

Pertumbuhan ini menjadikan Indonesia dikenal sebagai produsen hulu atau crude & kernel palm oil (CPO & KPO) terbesar di dunia. Kemudahan perizinan otoritas daerah hingga pusat, turut menjadi daya tarik sehingga menjadikannya sebagai salah satu pilihan investasi terbaik investor lokal dan mancanegara.  Badan Pusat Statistik (2017) mencatat,  52 persen dari 12 juta hektare lahan sawit nasional dimiliki perusahaan perkebunan swasta (PBS), 41 persen diusahakan oleh perkebunan rakyat (PR), dan sisanya dikelola perkebunan negara (PBN).

Implikasinya bernilai ekonomi tinggi, serta meningkatkan kesejahteraan petani sawit dan masyarakat luas. Lebih dari 7 juta warga negara terlibat langsung maupun tidak langsung dalam aktifitas bisnis ini.  Industri ini menjadi penyumbang besar devisa sekaligus penghemat anggaran negara, yakni sebagai substitusi dan komplimenter bio-energi.

Namun, jika dilihat dari porsi penyaluran pembiayaan, total pendanaan perbankan ke sektor sawit hingga Juni 2018 baru mencapai sekitar 6,37 persen. Tahun 2017 lalu, Otoritas Jasa Keuangan (OJK) mewacanakan program keuangan berkelanjutan (Sustainable Finance). Hal ini merupakan tindak lanjut agenda Sustainable Finance Forum di Denpasar, Bali, beberapa waktu lalu. Bersama World Bank melalui anak usahanya, International Finance Corporation (IFC) dan Sustainable Banking Network (SBN), OJK berupaya mendorong implementasinya di Indonesia. Terutama terkait penanganan dampak perubahan iklim (climate change).

OJK saat ini tengah merancang kebijakan tersebut bagi industri keuangan dalam negeri dengan mengadopsi berbagai upaya strategis pemicu pertumbuhan ekonomi dan bisnis berkelanjutan lainnya.  Sebagai pembanding kajian adalah peranan industri sawit dari sisi perbankan.

Selain imbas sosial dan budaya masyarakat lokal, industri ini juga berdampak pada perubahan peran dan fungsi hutan tropis primer dan lahan gambut alami.  Isu globalnya adalah perubahan peran dan fungsi kawasan yang diklaim sebagai paru-paru dunia. Contoh, faktor daya dukung lingkungan dan ketersediaan lahan ideal untuk tanaman sawit makin terbatas. Ada indikasi, sebagian investor ‘secara tidak langsung’ melalui petani sawit telah merambah kawasan hutan tropis primer.

Rasio lahan konservasi dibandingkan dengan lahan komersial secara umum makin menyempit.  Bahkan sampai mengkonversi lahan yang cenderung bisa merugikan jika tetap ditanami sawit secara komersial, selain dampak asap karena pembakaran lahan. Praktiknya hingga saat ini masih terjadi perbedaan sistem, cara dan teknologi budidaya antara perkebunan besar dan perkebunan rakyat. Selain produktifitas perkebunan rakyat masih rendah, perbedaan tersebut dikhawatirkan dapat berdampak menaikkan potensi risiko ledakan serangan hama dan penyakit di luar kendali.

Dampak penurunan kualitas ekologis di atas, telah menjadi isu sensitif berbagai diskusi lokal hingga konferensi internasional. Kajian umum dan kebijakan dari pemangku kepentingan utama perlu dilakukan secara periodik dengan wacana yang jelas tujuannya, efektif dalam proses, serta transparan dalam pengaturan. Jika tidak ada pembatasan khusus, selektif, dan bersifat temporer oleh pengambil kebijakan, strategi pertumbuhan industri yang hanya bertumpu pada aspek kuantitatif akhirnya di kemudian hari bisa berdampak negatif bagi industri itu sendiri secara langsung.

Selain itu, terdapat tekanan akibat kampanye serta gerakan dunia anti produk CPO & KPO yang disponsori secara sentimen oleh produsen minyak nabati lainnya. Sementara pada sisi lainnya, terdapat hambatan non tarif seperti batasan kuota, subsidi produk, anti dumping policy, automatic import licensing, serta product ecolabelling.

Konferensi Minyak Sawit Internasional di Bali, 2 November 2018 lalu.

Wacana program sustainable finance, menjadi peluang usaha industri hilir sawit dan industri perbankan. Konferensi Internasional Industri Sawit di Bali, menggambarkan betapa besar potensi pertumbuhannya di masa depan. Sambil menunggu aturan tersebut digulirkan, keduanya memiliki kesempatan mensimulasikan berbagai  asumsi yang ditimbulkan.

Pertama, jika regulasi  yang diterbitkan mendorong intensifikasi usaha pada peningkatan produk hilir yang berguna lebih luas. Implikasinya adalah kebutuhan pendanaan barang modal dan teknologi yang mengubah produk hulu menjadi berbagai bahan baku industri hilir, berdevisa tinggi dan siap ekspor.  Pemberian insentif seperti green bond atau green index yang akan diberikan kepada perkebunan besar yang membantu petani rakyat mampu meningkatkan kapasitas produksi dengan sistem dan teknologi perkebunan modern.

Kedua, insentif (green scoring) kepada seluruh industri keuangan yang mendukung program keuangan berkelanjutan, yang dihasilkan dari keselarasan antara kepentingan ekonomi, sosial, dan lingkungan serta tata kelolamya.

Ketiga, percepatan kebijakan mandatori dan implementasi agar Badan Usaha Milik Negara (BUMN) bidang energi meningkatkan kapasitas produksi biodiesel dengan kandungan minyak sawit lebih dari 20 persen.  Atau diproduksinya sumber energi terbarukan yang berasal dari pengolahan limbah cair minyak sawit yang berpotensi tinggi.

Ketiganya merupakan kombinasi asumsi saling terkait dan satu kesatuan yang menjadi dasar implementasi program keuangan berkelanjutan bagi industri keuangan.

Ini kesempatan perbankan dengan dukungan pemerintah, untuk melobi dan mendapatkan komitmen pendanaan baru berorientasi lingkungan dari negara-negara industri maju. Antara lain melalui pendanaan antar negara bilateral maupun creditor group, merealisasikan program pertukaran utang negara sesuai dengan protokol konservasi lingkungan dan perubahan iklim dunia, serta program transfer oksigen bersih (debt nature swap). Mengembangkan dan meningkatkan peran perbankan dalam program bank peduli lingkungan dan perusahaan ramah lingkungan.

Sebagaimana Roadmap Program Keuangan Berkelanjutan OJK,  yang mencakup dimensi dan prinsip 4P, yaitu pro-growth, pro-jobs, pro-poor dan pro-environment. Karena konsep prinsip 4P ini, seharusnya sudah sejak awal menjadi ciri, karakter, kebutuhan serta posisi perbankan yang peduli lingkungan. Inisiatif program sustainable finance bukan sekadar branding dan pencitraan, apalagi hanya dianggap corporate social responsibility semata.  Secara konsep, prinsip ini justru menjadi aspek kritis yang mendapat perhatian penting bagi perbankan.

Potensi besar pembiayaan kepada kelompok petani (cluster), pengusaha mikro, kecil dan menengah (UKM) yang menghasilkan produk hilir tanaman kelapa sawit. Hal ini merupakan skema menarik dalam meningkatkan nilai ekosistem pendanaan sesuai konsep peduli lingkungan, peduli sosial dan tatakelola yang baik.

Namun kontribusi perbankan terhadap industri sawit masih relatif kecil, karena menghadapi berbagai tantangan internal, serta regulasi yang mengaturnya.  Misalnya, aturan main terkait skema pembiayaan proyek yang menimbulkan penangguhan penerimaan bunga, margin dan atau bagi hasil (IDC= interest during construction). Padahal bagi pekebun sawit rakyat dan UKM sawit, usaha ini memerlukan tiga hingga empat tahun pertama, tanaman sawit baru mengahasilkan produksi atau panen tandan buah segar dan produk hilir industri sesuai harapan.

Aturan main IDC ini perlu direlaksasi oleh regulator. Juga diperlukan kombinasi insentif investasi dan fiskal bagi industri besar yang menyerap produk hilir petani sawit, agar tidak melakukan ekspor langsung CPO & KPO. Walaupun wacana ini masih memerlukan kajian terpadu dari berbagai pihak. Tetapi secara bisnis, industri perbankan  sebagai salah satu kontributor pertumbuhan ekonomi, dapat meningkatkan peran strategisnya kepada sektor ini secara maksimal. Hingga pada gilirannya dapat berkontribusi lebih besar lagi  dalam program inisiatif sustainable finance. Tangerang Raya sebagai salah satu sentra industri hilir sawit terbesar. (bs/srh).

Oleh : Budhi Santoso

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya