oleh

Panitia Kurban Diimbau Tak Pakai Kantong Plastik Hitam

Tangerang7.com, Tigaraksa – Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang telah menerbitkan surat imbauan perihal pendistribusian daging kurban pada Iduladha 1440 Hijriah. Imbauan itu terdiri dari tiga poin dan sudah disebarkan kepada seluruh panitia hewan kurban di 29 kecamatan.

“Salah satunya untuk tidak menggunakan plastik hitam dan plastik sekali pakai dalam distribusi daging kurban,” kata Kepala Bidang Kesehatan Hewan dan Kesehatan Masyarakat Veteliner DPKP Kabupaten Tangerang Febya Satyaningsih dalam keterangan tertulis, Senin (29/7/2019).

Alasannya, kantong plastik hitam merupakan hasil daur ulang. Bahan daur ulang tersebut mengandung zat karsinogen dan berbahaya bagi kesehatan. “Selain itu, kantong plastik sekali pakai tidak ramah lingkungan dan membutuhkan waktu lama untuk terurai secara alamiah,” jelas Febya.

Sebagai pengganti, kata dia, panitia kurban bisa menggunakan plastik ramah lingkungan seperti banyak beredar saat ini. “Memang harganya sedikit mahal dibandingkan dengan plastik sekali pakai, tapi jenis plastik ini mudah terurai alami, jadi lebih ramah lingkungan,” ujar Febya.

BACA JUGA:  Pengin Hadiah Menarik? Tukarkan Sampah Plastik Anda di Tangcity Mall

Namun demikian, dia memberikan kebebasan bagi panitia kurban untuk menggunakan bahan alternatif lain yang tidak memberatkan dan merepotkan dalam pembungkusan daging kurban. Misalnya, menggunakan daun pisang atau daun lainnya.

“Asalkan hygiene dan bahan yang dipakai mudah didapatkan, mungkin di daerah perdesaan materi daun lebih mudah didapat,” kata Febya.

Selain itu, masyarakat penerima hewan kurban diimbau untuk membawa wadah atau tempat sendiri dari rumah sehingga lebih praktis.

Dua Kali Pemeriksaan

Sementara untuk memastikan hewan kurban layak potong dan layak konsumsi, DPKP Kabupaten Tangerang mengerahkan sebanyak 87 petugas pemeriksa hewan. Pemeriksaan itu akan dilakukan di lokasi penjualan dan pemotongan hewan kurban.

“Pemeriksaan hewan kurban akan dilakukan dua kali, yakni pemeriksaan prapemotongan dan pemeriksaan pascapemotongan,” ujar Febya.

Dia menjelaskan, pemeriksaan prapemotongan meliputi catatan administrasi hewan, surat keterangan kesehatan hewan dari daerah asal, serta kesehatan fisik hewan yang dianggap layak untuk kurban. Adapun pascapemotongan, petugas akan melakukan pemeriksaan bagian-bagian tubuh hewan kurban yang biasanya akan dikonsumsi, seperti daging, hati, usus, dan jeroan.

“Apakah mengandung bakteri atau hal lainnya, biasanya ditemukan cacing hati,” pungkas Febya. (srh/srh)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya