oleh

Niat Awal Tak Terwujud, Kini Justru Ekspor Kaki Palsu

Tangerang7.com, Neglasari – Pada tahun 2005, ia mendapatkan perawatan intensif akibat kecelakaan lalu lintas. Lebih kurang dua bulan ia berbaring di rumah sakit.

Selama dirawat, ia tentu memiliki banyak kesan. Salah satunya melihat pasien menangis karena diamputasi. Ia adalah Ali Saga, warga Kompleks Serbaguna Sitanala Lorong 6, Kecamatan Neglasari, Kota Tangerang.

Ketika itu, spontan muncul belas kasihan di benak Ali. Ia pun berjanji dalam hati untuk memberikan kaki palsu kepada pasien tersebut.

“Ada salah satu pasien menangis karena tidak mampu membeli kaki palsu. Di kamar rumah sakit, saya berjanji akan membuatkan kaki palsu untuknya,” kata Ali, Rabu (26/6/2019).

Hingga akhirnya dokter menyatakan kondisi kesehatan Ali sudah membaik. Ia lalu bergegas pulang. Begitu tiba di rumah, ia mencoba membuat kaki palsu dengan bahan seadanya.

Tetapi sayang, setelah kaki palsu hampir jadi, pasien perempuan itu tidak bisa dihubungi. Niat Ali pun tak terwujud. Kendati demikian, Ali tak berputus asa. Ia mencari orang yang telah diamputasi di wilayah Neglasari. Setelah ditemukan, ia memberikan kaki palsu tersebut secara cuma-cuma.

Seiring berjalannya waktu, Ali memanen buah dari kebaikan yang sudah ia lakukan. Pada suatu hari, salah satu yayasan mendatangi kediaman Ali. Orang-orang itu menyatakan tertarik dengan kaki palsu buatan Ali.

Bukan isapan jempol belaka, Ali diminta untuk memproduksi sebanyak 150 buah kaki palsu. Satu kaki palsu akan dibayar Rp500 ribu.

Ali pun senang sekaligus bingung. Pasalnya, ia tidak mungkin mengerjakan kaki palsu sebanyak itu seorang diri. Ia kemudian merekrut beberapa tetangganya untuk memproduksi kaki palsu.

Akhirnya, Ali mendapat kontrak dari yayasan tersebut untuk keliling Indonesia. Tujuannya, membagikan kaki palsu secara gratis.

Tak hanya dari yayasan itu. Pesanan kaki palsu datang dari berbagai wilayah di Indonesia. Bahkan dari luar negeri. Ali kini mengekspor kreasi kaki palsu ke beberapa negara, di antaranya Malaysia, Singapura, Jerman, Swiss, dan Belanda.

Pengorbanan Ali terbayar berlipat ganda. Dari niat awal hanya membantu sesama, sekarang justru menjadi mata pencaharian. Ia berhasil menjadikan kreasi kaki palsu sebagai ladang amal sekaligus bisnis. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *