oleh

Merebut Kembali Hak Pejalan Kaki

Tangerang7.com, Tangerang – Trotoar di Kota Tangerang masih menjadi ruang yang diperebutkan banyak pihak, seperti pejalan kaki, pengguna kendaraan bermotor, dan pedagang kaki lima. Akibatnya, hak pejalan kaki di trotoar belum sepenuhnya bisa terpenuhi.

Anggraeni, seorang karyawan swasta, mengaku kerap merasa tidak aman saat berjalan kaki di Kota Tangerang. Salah satunya karena trotoar sering diserobot pengendara motor. “Saya merasa tidak aman saat jalan kaki di Jalan Teuku Umar seberang Plaza Shinta ke arah Rumah Sakit Tiara. Pengendara motor nyerobot naik ke trotoar nggak mau antre di lampu merah,” kata Anggraeni kepada Tangerang7.com, Selasa (22/01/2019).

Anehnya, menurut Anggraeni, dia dan para pejalan kaki lainnya justru yang mengalah dan menepi memberi jalan untuk pengendara motor. Padahal, trotoar tersebut merupakan hak pejalan kaki. “Hak pejalan kaki belum terpenuhi karena harus bersaing dengan sepeda motor,” ujarnya.

Pengguna trotoar lainnya, Astisa Aulia Winata, berharap pemerintah dapat lebih menjamin hak dan keselamatan pejalan kaki. Minimal membenahi jalur pejalan kaki agar tidak digunakan pengendara motor.

“Pemerintah perlu banyak membangun trotoar dengan layak misalnya dengan memasang tiang pembatas atau pagar besi agar pengendara motor tidak bisa nyerobot. Semoga saja pengendara motor lebih sadar trotoar itu khusus untuk pejalan kaki,” katanya.

Mahasiswi Universitas Bina Sarana Informatika ini melihat kesadaran pengendara motor masih sangat minim untuk menghormati hak pejalan kaki. Padahal tindakan pengendara yang menyerobot trotoar sangat membahayakan pejalan kaki.

“Seharusnya motor tidak melewati trotoar agar pejalan kaki bisa lewat dengan tenang dan tidak merasa terganggu,” kata Astisa.

Trotoar Bantaran Sungai Cisadane - Tangerang7.com
Trotoar di Jalan Benteng Jaya Kota Tangerang terlihat lengang. (Google Map)
Pedestrian Lengang

Pemkot Tangerang bukan tidak peduli dengan hak pejalan kaki. Sejumlah upaya sudah dilakukan untuk merebut dan mengembalikan hak pejalan kaki. Dari menata dan mempercantik trotoar, menertibkan pedagang yang menggunakan trotoar sampai membangun pedestrian.

Namun sejumlah warga melihat, pembangunan pedestrian di Kota Tangerang kurang tepat sasaran. Jalur pejalan kaki lebih banyak dibangun di wilayah yang jarang dilalui. Sebagai contoh, di sepanjang bantaran Sungai Cisadane dekat Jembatan Berendeng, Kota Tangerang.

Pedestrian dibangun dengan cantik di sana. Padahal, di sana lengang. Trotoar di bantaran sungai itu hanya dilewati warga pada hari-hari tertentu. Sementara pada beberapa jalan arteri lain yang justru dilalui oleh banyak pejalan kaki, seperti Jalan Kisamaun, tidak dilengkapi dengan trotoar. Selain itu, di beberapa trotoar tidak ada jalur untuk penyandang disabilitas.

Mikaila, warga Ciater, Kota Tangsel, juga punya pengalaman tak mengenakkan ketika berjalan kaki dari Pasar Anyar lewat Jalan Jalan Kisamaun menuju Pasar Lama Kota Tangerang. Dia pernah terserempet mobil dan motor karena jalan tersebut tak dilengkapi dengan trotoar. “Jalan kaki jadi mendebarkan karena tidak ada trotoar di situ,” kata Mikaila.

Selain jalan di bantaran Sungai Cisadane, Pemkot Tangerang membangun pedestrian lainnya di sejumlah jalan. Di antaranya pedestrian sepanjang Jalan M Yamin atau depan Lembaga Pemasyarakatan Wanita dan di sepanjang Jalan Sudirman dengan panjang dua kilometer dan lebar empat meter. Bahkan Pemkot Tangerang berangan-angan nantinya jalur pedestrian di Kota Tangerang bakal seperti Orchard Road Singapura yang sangat memanjakan pejalan kaki.

Pedestrian Taman Potret - Tangerang7.com
Pedestrian dibangun di Jalan Perintis Kemerdekaan Kota Tangerang. (Google Map)
Tempati Trotoar Denda Rp50 Juta

Trotoar memang belum ada di seluruh penjuru Kota Tangerang. Pembangunannya masih terbatas pada jalan-jalan tertentu. Selain itu penyalahgunaan trotoar juga masih kerap terjadi. Padahal, penertiban secara rutin sudah dilakukan. Bahkan tahun lalu, Pemkot Tangerang sampai mengeluarkan Peraturan Daerah Nomor 8 Tahun 2018 tentang Ketenteraman, Ketertiban Umum, dan Perlindungan Masyarakat.

Perda ini juga menjadi upaya Pemkot Tangerang melindungi trotoar. Perda tersebut menyasar pedagang yang memanfaatkan trotoar, jalur hijau dan tempat lain yang tidak sesuai peruntukannya. Mereka dilarang menempati trotoar. Pelanggarnya bisa dikenakan sanksi berupa denda Rp 50 juta. Jika tidak mampu membayar, maka sebagai gantinya akan dipenjara selama 3 bulan.

“Penegakan perda sudah dilaksanakan. Pedagang kaki lima yang melanggar didenda minimal 500 ribu dan paling banyak 50 juta subsider kurungan badan selama tiga bulan,” jelas Kepala Bidang Penegakan Produk Hukum Daerah Satpol PP Kota Tangerang Kaonang kepada Tangerang7.com, beberapa waktu lalu.

Sementara mengutip laporan Global Status Report on Road Safety atau Laporan Dunia Status Keamanan di jalan yang dirilis Organisasi Kesehatan Dunia (WHO), menyebutkan pejalan kaki di Indonesia menempati posisi kematian di jalan terbanyak setelah pengendara sepeda motor pada 2016.

Tingkat kematian pejalan kaki di jalan mencapai 16 persen dari total kematian akibat kecelakaan sebanyak 31.282 jiwa pada 2016. Sementara angka kematian dari kecelakaan sepeda motor mencapai 74 persen.

Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus mengatakan, dengan statistik itu, artinya setiap hari ada sekitar 14 pejalan kaki tewas di jalan di Indonesia. “Trotoar sudah nyaman, tetapi belum aman juga,” katanya, Minggu (20/1/2019).

Jalan Sudirman Kota Tangerang tanpa trotoar. (Google Map)
Angkot Tabrak Pejalan Kaki

Kecelakaan yang menimbulkan korban pejalan kaki juga pernah terjadi di Kota Tangerang pada 4 April 2018. Tiga pejalan kaki ditabrak angkot jurusan R11 jurusan Perum-Cikokol. Dua orang yang ditabrak adalah perempuan bernama Ameri dan Hani Handayani. Satu korban lainnya adalah pria bernama Rian Saputra.

Hani sempat mendapatkan perawatan di RSU Tangerang karena menderita luka lecet di perut, paha, dan tangan. Sedangkan dua korban lainnya mengalami bengkak di kaki dan pundak.

Tahun sebelumnya, 2 Mei 2017, kecelakaan juga dialami dua pejalan kaki. Satu di antaranya bahkan tewas setelah ditabrak angkot jurusan Kalideres-Kutabumi, di Jalan Daan Mogot, tepatnya di depan TMP Taruna, Kota Tangerang.

Selain belum aman, banyak trotoar yang masih putus-putus. Di Jalan Sudirman, depan Tangcity Mall misalnya, sebagian ruas jalan terdapat trotoar yang sudah baik. Tetapi tiba-tiba trotoar menghilang depan Ruko Business Park Tangcity sampai persimpangan bawah jembatan penyeberangan orang. Kondisi ini membuat sebagian warga enggan berjalan kaki.

Padahal menurut Ketua Koalisi Pejalan Kaki Alfred Sitorus, kondisi trotoar yang baik merupakan salah satu faktor utama yang dapat mendorong warga beralih dari kendaraan pribadi ke transportasi massal umum.

Wakil Direktur The Institute of Transportation and Development Policy (ITDP) Indonesia Faela Sufa mengatakan, pengguna transportasi umum pastilah pejalan kaki. Guna meningkatkan minat warga menggunakan transportasi umum, trotoar yang aman dan nyaman sangat penting. Bukan hanya di koridor utama, melainkan juga di kawasan di sekitarnya. (fdy/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya