oleh

Menanti Stadion Benteng Hidup Lagi

Tangerang7.com, Tangerang – Pemkot Tangerang memprioritaskan revitalisasi Stadion Benteng pada tahun ini. Langkah tersebut diambil setelah Pemkot menerima penyerahan aset dari Kabupaten Tangerang.

Dewan Penasehat KONI Banten sekaligus Dewan Kehormatan KONI Kabupaten Tangerang, Satim Sofyan (74) mengatakan, Stadion Benteng sudah selayaknya dihidupkan kembali. Sehingga roh persepakbolaan maupun olahraga pada umumnya bisa bangkit kembali di Tangerang Raya.

“Saya sebagai orang Tangerang dan bagian komunitas olahraga berharap agar setelah Stadion Benteng ini, diserahkan kepada Kota Tangerang, dapat dipugar atau direvitalisasi dan dibuatkan stadion lagi. Yang pasti harus stadion yang representatif dan dapat menggelar berbagai even yang lebih hebat lagi,” ujar Sofyan seperti dikutip dari Kompas, Jumat (18/01/2019).

Sofyan juga berharap fungsi lahannya tidak berubah. Tetap sebagai tempat dan sarana berolah raga. Menurut dia, kehadiran sarana olah raga ini sangat penting buat pembinaan atlet sekaligus untuk generasi muda.

“Stadion Benteng ini memiliki cerita sejarah yang indah dalam persepakbolaan Tangerang, dua klub yakni Persita Tangerang dan Persikota Tangerang. Sejarah yang sudah dirintis pendahulu ini harus diteruskan,” harap Sofyan yang juga mantan manajer Persita selama beberapa periode.

Stadion Benteng bukanlah stadion yang kemarin sore. Stadion ini diresmikan pada 11 Januari 1989. Kehadiran stadion ini makin menggairahkan persepakbolaan di Kabupaten dan Kota Tangerang. Dua klub kebanggaan warga Tangerang sempat berkembang di sana, yaitu Persatuan Sepak Bola Indonesia Tangerang atau Persita dan Persatuan Sepak Bola Indonesia Kota Tangerang (Persikota).

Stadion yang diresmikan tahun 1989 itu banyak menyimpan kisah dan sejarah persepakbolaan Tangerang. Kisahnya terus meredup sejak sekitar tahun 2000 hingga tahun 2018. Kini, stadion berkapasitas 25.000 orang itu tinggal cerita.

Ungu dan Kuning Mendominasi

Sofyan yang mulai menjadi Manajer Persita sejak 1989 itu mengatakan Persita sudah mengikuti kompetisi sepak bola Indonesia mulai tahun 1953. Namun, mereka lebih sering berlatih di lapangan-lapangan yang kosong karena belum ada stadion ataupun lapangan bola khusus untuk beraktivitas.

“Sejak diresmikan Stadion Benteng, klub Persita Tangerang secara rutin berlatih dan berlaga di stadion tersebut. Sebelum adanya bangunan stadion, klub kami sering latihan di lapangan kosong. Latihannya berpindah-pindah dari satu lapangan ke lapangan lain,” cerita Sofyan.

Dari stadion inilah, lanjut Sofyan, Persita Tangerang mengukir prestasi hingga mencapai puncak berlaga di pertandingan kelas Liga Utama. Lapangan LPK dan Achmad Yani di Kota Tangerang (dulu masih berada di wilayah Kabupaten Tangerang) mulai kerepotan dengan membeludaknya pendukung klub yang fanatik dengan klub kesayangannya itu.

Sementara klub Persikota Tangerang juga mulai menggunakan stadion ini sebagai markas mereka sekitar 1996, setelah mereka diterima sebagai salah satu anggota PSSI. Setelah kedua klub ini menggunakannya, stadion ini semakin ramai. Riuh para suporter dengan pakaian kebesaran berwarna ungu (Persita Tangerang) dan kuning (Persikota Tangerang) membuat kedua warna itu selalu mendominasi stadion setiap kali klub mereka berlaga.

Setiap kali berlaga masyarakat yang fanatik dengan masing-masing klub akan memenuhi tribun menyaksikan tim andalannya bertanding. Bahkan, terkadang karena tidak memiliki tiket untuk masuk, fans berat klub baik Persita dengan pakaian berwarna ungu atau Persikota dengan warna kuning masuk setelah pertandingan putaran pertama selesai, sehingga bayaran didiskon sampai gratis.

Fanatisme pendukung atas klubnya yang terlalu berlebihan membuat penonton selalu ribut setiap kali klub kesayangannya berlaga. Bahkan, saat Persita lawan klub siapa saja, pasti berujung penonton ribut. Begitu juga dengan Persikota.

Wahidin Coba Satukan Lewat Kaus

Keramaian semakin memuncak, saat memasuki tahun 2000. Kala itu, baik Persita dan Persikota masuk dalam satu divisi liga yang sama. Benteng Viola yang setia mendukung Persita dan Benteng Mania yang menjadi barisan pendukung Persikota selalu bersitegang. Warna stadion menjadi terbelah dua, ungu dan kuning.

Ketika kedua klub bertemu, keributan antara pendukung kedua klub tersebut tidak terhindarkan. Bahkan, sempat menelan korban jiwa. Keributan itu membuat pengguna jalan takut yang melintas jalan sekitar stadion.

Dulu pernah, di waktu Wali Kota Tangerang dijabat Wahidin Halim, dibuatkan kaus bagi fans kedua klub ini dengan menyatukan kedua warna dalam satu kaus. Sisi satu warga ungu dan sisi satu lagi warna kuning.

Dalam perkembangannya, fanatisme penonton semakin menggelora membuat setiap kali pertandingan di stadion tersebut berujung dengan perkelahian. Hingga akhirnya tahun 2012, Majelis Ulama Indonesia (MUI) Kota Tangerang mengeluarkan fatwa melarang pertandingan sepakbola di Tangerang. Polres Metro Tangerang pun tidak mengizinkan gelaran pertandingan sepakbola di tempat itu lagi.

Satim Sofyan bercerita sejak larangan itu, gaung persepakbolaan tidak lagi bergema di Tangerang. Persita Tangerang menjadi nomaden, berpindah-pindah tempat berlatih dan berlaga lagi. Kalau main di Karawang, mereka berlatih di Karawang. Kalau di Serang, berlatih di Serang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya