oleh

Menangis Tak Mau Diam, Bayi 4 Bulan Tewas Dipukul Ayahnya

Tangerang7.com, Tangerang –  Segalak-galaknya harimau, ia tidak akan memangsa anaknya sendiri. Akan tetapi, berbeda dengan Slamet Muhammad Nurdin (24), warga Kampung Bulak Kambing, RT 01/RW 01, Kelurahan Pajang, Kecamatan Benda, Kota Tangerang. Kekesalan membuatnya menyiksa anak kandungnya, Syaifullah (4 bulan), hingga sang anak tewas.

Kapolres Metro Tangerang Kota Kombes Abdul Karim mengatakan, peristiwa meninggalnya bayi mungil itu kemudian dilaporkan ke polisi. Slamet pun menjadi tersangka pembunuh bayinya sendiri.

Saat jumpa pers di halaman Mapolres Metro Tangerang Kota, Jumat (8/2/2019), Abdul membeberkan kronologi kejadian tersebut. Peristiwa itu diketahui pertama kali oleh Sumini (22), ibu kandung korban yang juga istri Slamet, Rabu (06/02/2019) sekitar pukul 17.30 WIB,

Sebelum tewas, korban sedang bermain bersama ibunya di dalam rumah. Ketika itu, Slamet baru saja pulang dari bekerja. Sumini kemudian menyerahkan balitanya itu kepada sang suami. Sementara, Sumini ke depan rumah melayani pembeli di warungnya. Rumah mereka selama ini memang dijadikan tempat berjualan oleh Sumini. “Korban kemudian diberikan kepada tersangka untuk digendong,” kata Abdul.

Kesal Dengar Tangisan

Saat tersangka menggendong korban, bayi mungil itu rewel dan menangis. Tersangka mencoba menenangkannya. Namun korban tetap menangis. Tersangka menjadi kesal dan memukul bayi malang itu. “Karena merasa kesal dan lelah baru saja pulang kerja, tersangka kemudian memukul korban sebanyak tiga kali. Dua kali pada bagian dada, serta sekali pada bagian perut,” jelas Abdul.

Akibat pukulan itu, sang bayi langsung diam. Dia tak bersuara. Ibu korban menghampiri dan kaget melihat kondisi bayinya sudah tak bernapas. Dia menanyakan apa yang terjadi kepada tersangka sambil menangis. Tersangka kemudian mengajak istrinya ke RSUD Kalideres untuk mengecek kondisi sang bayi.

“Dari hasil autopsi dokter menyatakan korban mengalami kekerasan di punggung yang menyebabkan patah tulang iga dan terjadi pendarahan serta gangguan proses pernapasan,” jelasnya.

Polisi menjerat tersangka dengan pasal tentang perlindungan anak dan pasal penghapusan kekerasan dalam rumah tangga dengan ancaman hukuman penjara paling lama 15 tahun. (orn/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya