oleh

Lagi, Nelayan Dadap Ditangkap atas Laporan Pengembang Reklamasi

“Alasan lain kenapa para nelayan datang ke kapal tersebut karena ada hak mereka saat pembebasan lahan proyek reklamasi ternak yang digusur belum dibayarkan sekitar Rp5,4 miliar”

Tangerang7.com, Kosambi – Kabar buruk kembali menimpa nelayan di pesisir utara Tangerang. Seorang nelayan Dadap bernama Muhamad Alwi dikabarkan ditahan oleh Kepolisian Daerah Metro Jaya sejak 13 November lalu.

Penahanan Alwi diduga buntut perseteruan dengan PT Kukuh Mandiri Lestari, pengembang proyek pembangunan jembatan Pulau C Reklamasi Teluk Jakarta ke Pantai Dadap, Kecamatan Kosambi, Kabupaten Tangerang.

Berikut ini penuturan Nur Pehatul Janna, putri dari Alwi, sebagaimana dikutip Tangerang7.com dari Tempo.co pada Rabu (20/11/2019).

Sebelum ditahan, Alwi mendapatkan surat panggilan atas penetapan sebagai tersangka. Ia disangkakan dengan Pasal 335 Kitab Undang-Undang Hukum Pidana tentang perbuatan tidak menyenangkan.

“Dia datang kooperatif memenuhi panggilan penyidik, tapi sampai tengah malam justru langsung ditahan. Padahal surat panggilannya hanya penetapan tersangka, bukan penangkapan dan penahanan,” ujar Nur.

Nur mengatakan, penetapan tersangka dan penahanan ayahnya berkaitan dengan peristiwa pada 11 Desember 2017. Saat itu, sekitar 40 perahu nelayan Dadap dan Kamal Muara mendatangi kapal keruk Hayyin milik PT Kukuh Mandiri Lestari. Nelayan mempertanyakan aktivitas kapal itu di area reklamasi.

Menurut Nur, pengembang saat itu juga menurunkan puluhan orang dari ormas. Lantas, keributan terjadi dan nelayan diduga melakukan perusakan kapal Hayyin.

“Alasan lain kenapa para nelayan datang ke kapal tersebut karena ada hak mereka saat pembebasan lahan proyek reklamasi ternak yang digusur belum dibayarkan sekitar Rp5,4 miliar,” ujar Nur.

Pasca-peristiwa Desember 2017, Alwi sempat dipanggil polisi untuk diperiksa sebagai saksi pada 30 Juli 2018. Menurut Nur, ayahnya dipanggil atas laporan polisi dari Martin Rens Doppo, kuasa hukum PT Kukuh Mandiri Lestari yang merupakan perusahaan patungan antara Agung Sedayu Group dan Salim Group.

Perusakan Bagan Ternak

Pengacara Alwi, Pius Situmorang, mempertanyakan dua alat bukti permulaan yang dijadikan penyidik untuk menetapkan kliennya sebuah tersangka. Dia mengaku sudah menanyakan masalah itu namun tak memperoleh jawaban. “Ada di level pimpinan katanya,” ujar Pius.

Menurut dia, penangkapan dan penahanan juga dialami oleh nelayan Dadap lain bernama Ade Sukanda. Penangkapan berlangsung tak lama setelah Ade melakukan konferensi pers untuk menagih pembayaran kompensasi oleh pengembang atas perusakan bagan ternak kerang hijau milik nelayan.

Pius mengatakan, kasus perusakan bagan ternak terjadi pada Desember 2015. Alwi dan beberapa nelayan lain sempat melaporkan masalah ini ke Kepolisian Sektor Penjaringan, Jakarta Utara. Namun, kelanjutan kasus itu disebut tidak jelas hingga sekarang.

“Seharusnya polisi tidak meneruskan laporan pihak PT Kukuh Mandiri Lestari ini. Sementara laporan soal bagan itu sebelumnya saja tidak dilanjutkan,” ujar Pius.

Nur pun menyampaikan hal serupa ihwal kasus perusakan bagan ternak. Dalam kasus itu, kata dia, empat satpam di pulau C reklamasi dan salah satu staf PT Kapuk Naga Indah sempat dipanggil polisi untuk diperiksa sebagai saksi. Informasi itu didapatkan melalui keterangan dari Surat Pemberitahuan Perkembangan Hasil Penyidikan (SP2HP) ke-2.

“Setelah SP2HP itu, tidak ada lagi pemberitahuan keberlanjutan kasus perusakan,” kata Nur.

Menurut dia, PT Kapuk Naga Indah mengaku sudah memberikan ganti rugi ke sebagian nelayan Dadap. Namun Nur mengatakan bahwa nelayan yang menerima ganti rugi dari anak perusahaan Agung Sedayu Group tersebut bukan berasal kelompok yang berhak.

“Yang menerima itu mungkin hanya orang-orang yang tidak tahu atau tidak sadar sedang diperalat,” kata dia.

Penangkapan Waisul Kurnia

Berdasarkan catatan redaksi Tangerang7.com, penangkapan nelayan Dadap atas laporan pengembang reklamasi bukan kali ini saja. Di mana, Ketua Forum Masyarakat Nelayan Kampung Baru Dadap Waisul Kurnia pernah berurusan dengan Kepolisian Daerah Metro Jaya.

Waisul dilaporkan kuasa hukum PT KNI karena pernyataannya di salah satu media massa terkait pembangunan jembatan menuju pulau reklamasi yang melintasi Kampung Baru Dadap, Kosambi, Tangerang.

Surat penangkapan Waisul beredar di media sosial. Dalam surat tersebut, Waisul ditangkap untuk menjalani pemeriksaan karena diduga keras melakukan tindak pidana pencemaran nama baik dan ujaran kebencian melalui media elektronik terhadap PT KNI pada Juli 2018.

“Awalnya Waisul ini mempertanyakan apakah ada sosialisasi yang sudah dilakukan sehubungan dengan pembangunan jembatan yang melintasi wilayah Dadap. Namun kemudian itu justru dijadikan bahan untuk melaporkan pencemaran nama baik terhadap PT KNI,” ujar Marten Siwabessy, kuasa hukum Waisul seperti dilansir Kompas.id, Jumat (8/3/2019).

Menurut kuasa hukum Waisul lainnya, Zulham Kurniawan, kliennya dilaporkan karena pernyataannya di media daring saat menyampaikan aspirasi masyarakat nelayan Kampung Dadap terkait pembangunan jembatan penghubung pulau reklamasi di kawasan Kampung Nelayan Baru Dadap ke Pulau C, Jakarta Utara.

Masyarakat Kampung Nelayan Baru Dadap keberatan dengan jembatan penghubung Dadap-Pulau C sepanjang 5 kilometer, yang 900 meter di antaranya dibangun di wilayah Kabupaten Tangerang. Masyarakat resah karena pembangunan jembatan di depan muara Dadap itu mengganggu hilir mudik perahu dan kapal nelayan.

Pada 18 Juli 2018, Waisul diwawancarai sejumlah jurnalis terkait pembangunan jembatan reklamasi di Dadap. Salah satu media online nasional mengunggah video hasil reportasenya ke Youtube dengan judul “Nelayan Dadap Protes Pembangunan Jembatan”. Di dalamnya memuat pernyataan Waisul yang mempertanyakan kejelasan proyek tersebut.

Video itu kemudian dijadikan barang bukti untuk melaporkan Waisul ke polisi. Waisul dituduh mencemarkan nama baik dan mengandung ujaran kebencian karena pernyataannya saat menyebut tak ada sosialisasi pembangunan kepada masyarakat nelayan. (*)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya