oleh

Kota Cerdas di Tengah Bayang-Bayang Kesenjangan

Komunitas Berpagar Menjamur

Tangerang7.com, Tangsel – Kota Tangsel dinobatkan sebagai kota metropolitan cerdas ketiga se-Indonesia oleh Kompas dalam Indeks Kota Cerdas Indonesia 2019. Namun, kota ini masih dibayangi persoalan-persoalan. Dari kesenjangan sosial sampai meningkatnya angka kejahatan.

Studi Vesselinov dan Cazessus (2007) di Amerika Serikat yang dikutip Tangerang7.com dari Kompas Jumat (11/01/2019) menyimpulkan, permukiman real estat yang disebut komunitas berpagar (gated community) mempertegas ketimpangan sosial di masyarakat. Real estat yang dibangun oleh pengembang didominasi oleh warga berpendidikan tinggi, sementara mayoritas warga permukiman biasa adalah warga tanpa gelar perguruan tinggi.

Real estat juga lebih banyak dihuni oleh profesional di pasar tenaga kerja primer, seperti pebisnis, pengacara, dan dokter. Adapun permukiman nonreal estat dihuni warga di pasar tenaga kerja sekunder, seperti tukang kebun, dan petugas kebersihan, dan petugas keamanan.

Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Derajad Widhyharto, yang sedang melaksanakan riset tentang komunitas berpagar di Kabupaten Tangerang dan Kota Tangsel, berpendapat, pengembang real estat hadir untuk menyediakan permukiman kelas menengah yang bekerja di Jakarta. Efeknya adalah kesenjangan.

“Mereka yang gagal berkompetisi secara ekonomi, mayoritas masyarakat asli Kota Tangsel, termarjinalkan. Muncullah narasi baru di kota ini, yaitu si kaya dan si miskin. Orang akan dengan mudah mengatakan, ’orang kaya itu yang tinggal di BSD’. Tembok-tembok perumahan menimbulkan kesenjangan,” kata Derajad.

Derajad mengatakan, akumulasi dari kesenjangan itu adalah kriminalitas antarwarga nonreal estat. Kesulitan dalam bersaing secara ekonomi yang erat kaitannya dengan tuntutan hidup yang tetap tinggi.

“Mereka tidak bisa menyentuh warga di real estat karena pengamanannya ketat dan temboknya tinggi. Akhirnya, yang terjadi adalah kriminalitas dalam konteks umum,” kata Derajad.

Laporan Kejahatan Meningkat

Sepanjang 2018, Satuan Reserse Kriminal Polres Tangsel menerima 1.205 laporan tindak pidana dari masyarakat. Jumlah ini meningkat dari 952 pada 2017. Dengan angka kejahatan yang meningkat, tingkat penyelesaian kasus juga meningkat pada 2018. Yaitu sebesar 68,71 persen.

Tersangka begal dihadirkan di hadapan wartawan 03 Desember 2018. (Foto: Dok. Humas Polres Tangsel)

Pada tahun sebelumnya, jumlah kasus yang diselesaikan 59,9 persen. Jenis kejahatan yang terjadi meliputi pencurian dan perampokan, pengeroyokan, penipuan dan penggelapan, serta kekerasan terhadap anak.

Seperti dilansir Kompas, Jumat (11/01/2019), Kepala Satreskrim Polres Tangsel AKP Alexander Yurikho mengatakan, kejahatan memang tidak dapat dihilangkan sepenuhnya dan dapat terjadi di mana saja. “Kita harus berpikir bahwa crime is the shadow of civilization. Di mana ada peradaban, di situ ada kejahatan. Kejahatan bisa terjadi di mana saja di tujuh kecamatan di Tangerang Selatan,” kata Alexander.

Meski demikian, Alexander mengatakan, tingkat kriminalitas jauh lebih rendah di wilayah yang dibangun oleh pengembang di kota ini. Sebab, kawasan real estat telah memiliki pengamanan mandiri. Sistem kluster pun dinilainya sudah modern, misalnya dengan penerapan pencegahan kejahatan dengan desain lingkungan (crime prevention through environmental design/CPTED) dalam bentuk kamera pemantau (CCTV).

“Tidak bisa dibohongi, mereka yang memiliki rumah di kawasan real estat adalah mereka yang bekerja dan punya uang. Kriminalitas tetap terjadi di sana, tetapi masih jauh lebih aman dibandingkan daerah yang tidak dimasuki pengembang seperti Pamulang dan Ciputat,” kata Alexander.

Begal Masih Berkeliaran

Warga Pamulang, Ryan (23), mengatakan, wilayah sekitar tempat tinggalnya memang kurang aman. Begal berusia di bawah 18 tahun merupakan fenomena biasa, begitu juga dengan premanisme. Komaruddin (34), pengojek online, juga merasa daerah tempat tinggalnya di Jombang, Ciputat, tidak aman. Mereka yakin pelaku-pelaku kejahatan masih berkeliaran mengincar mangsanya di sekitar tempat tinggal.

Beberapa kali kepolisian menggerebek pengguna dan pedagang narkoba di kampung sekitar kontrakannya. Satuan Reserse Narkoba Polres Tangerang mencatat, kasus narkoba meningkat dari 269 pada 2017 ke 313 pada 2018.

Sejumlah wilayah Kota Tangsel dibangun oleh beberapa pengembang besar, antara lain BSD City, Alam Sutera, Summarecon Serpong, dan Bintaro Jaya. BSD City, Alam Sutera, dan Summarecon yang terpusat di wilayah Serpong memiliki area seluas 75,5 kilometer persegi, lebih dari setengah luas total Kota Tangsel, yaitu 147,2 kilometer persegi.

Terkait dengan tren tersebut, Polres Tangsel melaksanakan langkah pencegahan kriminalitas dengan mengadakan penyuluhan dan diskusi kelompok terhadap siswa, karang taruna, organisasi masyarakat, hingga aparat keamanan lainnya. Selama 2018, diadakan 30 penyuluhan dan 12 diskusi mengenai berbagai topik.

Kepala Satbinmas Polres Tangsel AKP Vilawati mengatakan, penyuluhan tersebut lebih banyak dilaksanakan di permukiman yang tak dibangun pengembang. “Di real estat, kegiatan warga kalangan menengah atas lebih terpola dan terjadwal sehingga ruang gerak untuk bertindak kriminal lebih kecil. Kejahatan lebih rawan terjadi di permukiman biasa,” katanya.

Menurut Vilawati, konsentrasi warga yang putus sekolah dan tidak bekerja lebih banyak di luar real estat sehingga kejahatan lebih sering terjadi di area tersebut. Adapun faktor pergaulan dan lingkungan pertemanan juga memengaruhi, terutama terkait kasus tawuran atau pengeroyokan.

Kota Tangsel mendapatkan peringkat ketiga kota metropolitan se-Indonesia dengan skor 61,68. Selain karena pemerintahan yang didukung aplikasi, seperti Siaran (Sistem Pelaporan dan Penugasan), Kota Tangsel juga didukung kreativitas masyarakatnya, misalnya kegiatan komunitas LabTanya yang melibatkan warga dalam berbagai aktivitas seni serta membangun permukimannya. (bs/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya