oleh

KLB Odong-Odong, Sama Saja Merampas Istri Orang Lain. Bang Zul : Sadarlah Agar Kembali ke Jalan yang Benar

Tangerang7.com, Tangerang – Pelaksanaan kongres luar biasa (KLB) Partai Demokrat di Deli Serdang, Sumatera Utara, ibarat seorang suami memiliki istri yang sah dengan bukti surat nikah, tapi direbut pria lain.

“Coba pikirkan dan bayangkan. Apa benar cara seperti itu ? Inilah yang dialami Partai Demokrat. Tanpa mengikuti AD/ART yang sah dari Kemenkumham, tiba-tiba menggelar KLB,” kata anggota DPR RI Fraksi Partai Demokrat Zulfikar Hamonangan, Rabu (10/3/2021).

Dikatakan, KLB di Deli Serdang hanya dihadiri segelintir orang yang tidak memenuhi syarat sebagai pemilik suara sah. Yang hadir kurang lebih 34 ketua DPC dan satu ketua DPD. Partai Demokrat memiliki 514 DPC yang tersebar di kabupaten dan kota di Indonesia. Kemudian, 34 DPD yang ada di 34 provinsi.

“Untuk musyawarah daerah atau musda saja tak cukup syarat. Apalagi untuk kongres. Ini seperti pemilihan ketua RT. Lucu sekali hal yang dipertontonkan di publik seperti ini. Mereka yang hadir bukanlah pemilik suara. Asal datang saja. Ibarat naik bus, semua orang disuruh masuk tanpa ada tiket,” ujar Bang Zul, sapaan akrabnya.

Ia mengatakan, silakan saja mereka membawa berkas hasil KLB ke Kemenkumham. “Boleh-boleh saja mereka antar berkas KLB ke Kemenkumham. Boleh-boleh saja Kemenkumham menerimanya, tapi terimalah dengan tertawa. Semua ini dongeng. Kalau disahkan mau jadi apa negeri ini, jika dasar hukum yang jelas tidak ditertibkan,” katanya.

Ia mengingatkan, hasil Kongres V tahun 2020 telah melahirkan kepengurusan baru dan mengesahkan AD/ART Partai Demokrat di bawah kepemimpinan Mas AHY. Sehingga, tidak ada alasan apapun bagi mereka melakukan KLB.

“Ini sangat unik. Pertanyaannya, misalnya apakah boleh di partai lain juga begitu dapat menggunakan AD/ART partai tahun 1956. Jika pemerintah tidak hati-hati dalam hal ini, sangat berisiko. Nanti jadi preseden buruk bagi semua partai dan bagi demokrasi kita. KLB kok bisa digelar orang-orang yang karena tidak sejalan dengan ketua umum,” ungkap Kepala Badan Pembinaan Jaringan dan Konstituen DPP Partai Demokrat ini.

Untuk itu, ia berharap, kejadian ini menjadi pengalaman, pelajaran, dan ukuran bagi partai lain agar menolak. Partai-partai lain diharapkan juga dapat menyuarakan hal ini dengan menolak KLB odong-odong tersebut.

“Jika tidak, apakah partai-partai lain mau terancam dengan contoh yang dirasakan Mas AHY saat ini. Ayolah, kita semua sadar dan lebih bijak melihatnya. Ini adalah cara yang salah, walaupun politik sering disebut menghalalkan segala cara. Lakukanlah politik yang cerdas dan lebih bermoral. Jika cara di Deli Serdang dilakukan itu sama saja seperti merampas pakaian milik istri orang lain atau bahkan merampas istri orang lain,” kata anggota Komisi VII DPR RI ini.

Oleh karena itu, ia meminta kawan-kawan yang ada di kelompok sebelah untuk sadar diri dan kembali pada jalan yang benar. Jika selama ini ada hal-hal yang dirasakan tidak pas, untuk bisa duduk bersama, selesaikan secara internal.

“Masih banyak jalan menuju Roma daripada nanti masuk neraka. Di internal partai ada dewan kehormatan, temui dan minta silaturahmi agar partai kita jangan tercerai-berai. Kita selesaikan dapur kita, apa saja syarat-syarat yang kurang atau bumbu apa yang kurang ketika kita mau masak sayur sop. Jalan yang terbaik musyawarah menuju mufakat. Jika tidak yakin, merugilah bagi orang-orang yang jahat,” tandasnya. (t7/set)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya