oleh

Kibar Ziyadah Tuan Babi

Penulis: Hani Mariah

“Wahai duli yang tertawan dalam jerat riba. Kebahagiaanmu dalam menikmati harta sesungguhnya tidaklah besar dari penderitaanmu kelak. Kebahagiaanmu saat ini adalah topeng penderitaan di jeruji penjara dosa dalam jiwamu dan kelak Tuhan membalasmu”

Setelah menempuh perjalanan jauh dan melelahkan, tibalah kera bertubuh kecil itu di pegunungan. Pegunungan yang konon penuh kebahagiaan, keindahan tanpa kesengsaraan. Di sana dia terkulai lemas. Terbaring di atas rumput kering yang termakan oleh waktu.

Setelah mengistirahatkan tubuhnya sejenak, kera bangkit kembali mencari tempat ramai pedagang. Dia sangat lapar. Energinya terkuras oleh kejamnya perjalanan hidup.

Berjuntai-juntai pepohonan telah ia lewati. Duka, luka, lara dan rasa lelah, ia tak peduli. Sampai tiba di ujung tanduk kerapuhan, pandangan buram dan alam seolah menghakiminya. Yang terakhir ia dengar adalah suara besar serta dekapan tegas yang melingkupi dirinya.

***

Satu minggu kemudian…

Kera tersenyum dengan raut ceria menyambut kedatangan panda gemuk yang selama satu minggu merawatnya dengan baik. Tetapi senyumannya pudar ketika yang datang adalah seekor babi dengan kulitnya yang hitam mentereng serta tanduknya yang berwarna emas. Ia yakin lapisan itu terbuat dari emas bertatah pertama.

Babi hitam itu mengajak kera pergi keluar dan berhenti di sebuah perkebunan luas yang indah dipandang mata. “Siapa namamu, wahai bocah?” tanya babi hitam dengan endusan keras. “Namaku Mouke” jawabnya.

“Silakan kelilingi kebun ini sesuka hatimu dan carilah tempat tinggal yang nyaman,” ujar babi hitam kemudiam pergi meninggalkan Mouke. “Tuan babi! Tunggu!” teriak Mouke.

Babi hitam menghentikan langkahnya tanpa menengok. “Siapakah seseorang yang memberikan perawatan dan segala hal? Panda?” tanya Mouke.

“Ayahku yang memberikan perawatan dan makanan, panda itu pembantu,” jawab babi hitam. “Bolehkah aku bertemu dengannya untuk menyampaikan rasa terima kasihku?” tanya Mouke.

“Tidak perlu kau bertanya boleh atau tidak. Ayahku akan menemui besok,” ujar babi hitam seraya berlari kencang meninggalkan Mouke tanpa aura persahabatan.

***

“Begitulah kau kemarin dan beginilah kau sekarang. Ini kehendakku sebagai penyelamat hidupmu,” kata Mouke menatap ayah babi hitam tanpa berkedip.

Ia lemparkan beribu pertanyaan pada jiwa, namun jiwa bagai takdir yang hanya menatap tetapi tidak mampu berbicara. Mouke berdiri hampa. Pikirannya berputar kencang mengingat segala ucapan kakeknya dahulu.

“Jika kau terjerat 1Ziyadah kau harus berusaha menyelesaikannya segera, sebab 2Khatiya. Jika kau terjerat ziyadah hidupmu akan semakin susah sebab Tuhan murka kepadamu. Jika kau terjerat ziyadah tamatlah riwayatmu oleh buas, kerakusan dan egoisme sang penguasa,” terngiang ucapan sang kakek dan ucapan-ucapan lainnya yang lebih mengerikan, terutama balasan Tuhan.

“Aku tak perlu bertanya sanggup atau tidaknya engkau menjalani imbalan yang aku sampaikan. Terpenting imbalan itu segera diserahkan sesuai jatuh tempo selama satu bulan. Jika satu bulan tak mampu, maka jumlah imbalan akan bertambah dan terus bertambah sampai kau rela menjual organmu untuk santapan mewah Ratu Buaya, maka utangmu lunas,” ujar ayah babi hitam.

“Kenapa imbalannya tiga kali lipat lebih besar dari biaya yang tuan keluarkan untuk perawatanku? Itu tidak adil dan tidak boleh. Sebab itu ziyadah. Tuhan murka dengan hal itu!” ujar Mouke.

“Jangan bawa nama Tuhan di hadapanku. Tanpa peduli dengan Tuhanpun aku hidup makmur!” lagi-lagi Mouke ditinggalkan sendiri.

“Kakek, aku bedosa padamu. Aku meninggalkanmu untuk mengejar kenikmatan hidup yang hanya sementara ini,” kera menangis pilu meratapi kehidupannya yang semakin sulit dan sengsara.

***

Segerombolan buaya berkumpul di permukaan air. Mereka menunggu babi menyerahkan santapan mewah untuk sang ratu.

“Aku membawakannya untukmu. Tetapi berikan dahulu 15 kilogram emas yang dijanjikan,” ujar ayah babi.
“Lepaskan kera malang itu, karena utangnya sudah lunas dibayar oleh kera tua yang mendatangiku kemarin,” ucapan buaya membuat Mouke sesak. Mouke meyakini kera tua itu adalah kakeknya.

“Ya sudah, berikan imbalannya sekarang!” babi hitam pun melepas ikatan Mouke. Mouke berlari menaiki pohon seri, menyaksikan apa yang akan terjadi antara babi dan buaya.

“Kalian para babi turunlah ke air. Dari tepi danau hanya dua meter saja. Sebab aku dan kawanku sudah lelah mengangkat emas 15 kilogram ini,” ujar buaya.

Tanpa pikir panjang para babi turun ke danau dengan semangat penuh nafsu. Tetapi dalam sekejap teriakan demi teriakan menggema di danau tersebut. Merah pekat mewarnai danau itu dengan iringan pilu menyedihkan. Beberapa saat kemudian semuanya hilang. Sepi. Seolah tak pernah terjadi apapun.

Pada saat itulah kesunyian menyelusup ke dalam desir dan terasa getar tubuh halus menyapa. Mouke memejamkan mata sambil mencoba merenungkan gema ucapan yang baru saja ia dengar. Sewaktu membuka mata tak ada satupun yang dilihatnya selain danau berlingkup kabut.

Mouke pun berjalan ke arah batu ditepi danau, berharap kakeknya akan muncul di sana. Namun hanya sia-sia yang Mouke lihat. Hanya gumpalan kabut yang saling bersangkut-paut satu sama lain. “Ziyadah menghancurkan kamu dan orang di sekitarmu.”

Minggu, 31 Maret 2019
(Penulis adalah mahasiswi Bimbingan Konseling Islam UIN Sultan Maulana Hasanudin Banten)

Keterangan
1Ziyadah = Riba atau melebih-lebihkan
2Khatiya = Dosa

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *