oleh

Ketika Residivis Perampokan Beraksi di Dua Negara

Tangerang7.com, Tigaraksa – Dalam kurun 3 pekan, polisi berhasil mengungkap kasus perampokan toko emas di Balaraja, Kabupaten Tangerang. Dua orang pelaku merupakan warga negara Malaysia, masing-masing berinisial MNFR (26) dan MNI. Pelaku MNI tercatat sebagai residivis di Malaysia.

Kapolresta Tangerang Kombes Pol Sabilul Alif mengatakan, ada beberapa kesulitan dalam proses pengungkapan kasus itu, sehingga membutuhkan waktu hingga 3 minggu. Perampokan di Toko Emas Permata terjadi pada Sabtu (15/6/2019), sementara pelaku dapat ditangkap pada Selasa (2/7/2019).

Setelah kejadian, polisi mempelajari modus operandi para pelaku. Dari hasil penelurusan, pelaku di Toko Emas Permata tidak terdeteksi di jaringan Indonesia. Menurut Sabilul, mengungkap kasus perampokan bagaikan melakukan permainan menyusun gambar atau puzle.

“Tidak seperti kasus pembunuhan, mengungkap kasus perampokan sama saja dengan menyusun rangkaian puzle yang tercecer di banyak tempat,” ujar Sabilul seperti dikutip Tangerang7.com dari unggahan akun Instagram @m.sabilul_alif, Jumat (12/7/2019).

Di mana, polisi harus menelusuri satu per satu puzle atau petunjuk. Kemudian petunjuk itu dirangkai menjadi satu kesatuan. “Setelah puzle terbentuk, diperoleh petunjuk yang mengarah pada kedua tersangka,” tandas Sabilul.

View this post on Instagram

Terkait telah terungkapnya peristiwa pencurian dengan kekerasan di Toko Emas Permata, Balaraja pada Sabtu, 15 Juni 2019, dapat kami sampaikan bahwa kasus itu dapat diungkap dalam waktu 3 minggu. Durasi waktu itu kami butuhkan karena adanya beberapa kesulitan dalam proses pengungkapan. Agar dapat diketahui masyarakat, Kamis, 11 Juli 2019, kami merilis ungkap kasus itu di Polresta Tangerang. Setelah kejadian, kami mempelajari modus operandi para pelaku. Dari hasil penelurusan, para pelaku di Toko Emas Balaraja tidak terdeteksi di jaringan Indonesia. Tidak seperti kasus pembunuhan, mengungkap kasus perampokan sama saja dengan menyusun rangkaian puzle yang tercecer di banyak tempat. Oleh karenanya, kami harus menelusuri satu per satu puzle atau petunjuk kemudian merangkainya menjadi satu kesatuan. Setelah puzle terbentuk, diperoleh petunjuk yany mengarah pada kedua tersangka. Diketahui, kedua tersangka yang berinisial MNRF dan MNI merupakan WN Malaysia. Bahkan sebelum beraksi di toko emas, keduanya juga beraksi merampok SPBU di Balaraja. Menjadi masuk akal bila keduanya tidak terdeteksi berjaringan dengan jaringan Indonesia. Namun demikian, setelah koordinasi dengan Divhubinter Atase Polri Malaysia dan Polis Diraja Malaysia (PDRM), kami diperkenankan melakukan pemeriksaan dan keduanya mengakui telah melakukan tindak pidana curas di toko emas dan SPBU Balaraja. Selanjutnya, hal yang tidak kalah penting adalah usaha-usaha pencegahan kejahatan (crime prevention). Masyarakat yang umumnya dijadikan target, diharapkan memproteksi diri guna mencegah terjadinya kejahatan. Masyarakat misalnya dapat memasang kamera CCTV, melengkapi harta benda terutama kendaraan dengan GPS, dan untuk toko emas dengan memasang teralis atau besi penghalang. Dengan usaha proteksi itu, pelaku kejahatan akan mengalami hambatan saat melancarkan aksinya. Masyarakat pun dapat terhindar sebagai target sasaran yang dianggap mudah atau menguntungkan. Untuk rekan-rekan media dan sahabat dunia maya, mohon juga diberitakan mengenai pentingnya melakukan tindakan pencegahan kejahatan. Agar ke depan, tidak terjadi lagi kejahatan serupa yang meresahkan kita semua.

A post shared by M. SABILUL ALIF (@m.sabilul_alif) on

Pada ungkap kasus perampokan Toko Emas Permata, polisi mengamankan barang bukti berupa rekaman CCTV, korek api berbentuk senjata jenis revolver, korek api berbentuk senjata jenis baretta, 1 unit mobil Avanza bernopol B 2069 UFC, 6 buah baki emas, dan 34 dudukan gelang.

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya