oleh

Keluarga Cemara; Drama Ringan, Sederhana dan Bermakna

Tangerang7.com, Tangerang – Ringan, sederhana dan bermakna adalah tiga kata yang dapat menggambarkan film Keluarga Cemara. Kurang lebih selama satu jam 50 menit penonton disuguhi cerita menghibur yang masih menyajikan karakter yang sudah dikenal: Abah, Emak, Euis, dan Ara.

Film Keluarga Cemara sudah dapat ditonton di bioskop-bioskop sejak 3 Januari 2019. Ceritanya pun masih seperti Keluarga Cemara versi sinetron yang muncul sejak 1970-an. Tentang suatu keluarga kecil yang harus bertahan hidup setelah tulang punggung keluarga mereka jatuh miskin. Mereka sampai harus pindah rumah dan anak-anak ikut membantu bekerja.

Diawali dengan adegan-adegan ringan, perlahan kisah Keluarga Cemara mulai menggugah emosi. Beberapa adegan membuat penonton ikut terenyuh, misalnya ketika Abah dan Emak berbicara bahwa mereka benar-benar bangkrut. Akting Ringgo dan Nirina Zubir patut diacungi jempol.

Keluarga Cemara
Keluarga Cemara. (visinemapictures)
Arti Sebuah Keluarga

Mereka bermain dengan luwes sehingga nyaman disaksikan. Begitu pula dengan Zara JKT 48 yang menjadi Euis dan Widuri Puteri yang memerankan si kecil Ara. Tak hanya menyuguhkan kesedihan, Keluarga Cemara yang pernah populer dalam format sinetron pada 1996 sampai 2004 juga bisa membuat tertawa dan bahagia.

Selain dihibur adegan-adegan humor, kehadiran karakter perempuan nyentrik yang diperankan Asri Welas juga mencuri perhatian. Kepolosan Ara juga terkadang menjadi hiburan tersendiri. Kisah ringan Keluarga Cemara menjadi semakin menarik ketika banyak pesan-pesan yang bermakna sepanjang film. Film ini mengajarkan betapa pentingnya arti sebuah keluarga.

Dengan segala kelebihannya, patut dikatakan bahwa Keluarga Cemara adalah sebuah hiburan yang utuh untuk dinikmati sekeluarga saat akhir pekan. Naskah yang ditulis oleh Gina S Noer dan Yandy Laurens yang juga berperan sebagai sutradara pun saling melengkapi.

Keluarga Cemara tidak kehilangan kehangatan yang membuatnya tenar saat dimainkan Adi Kurdi cs. Ia seakan membuat nostalgia, namun tetap relevan di masa sekarang. Sayangnya, ada beberapa detail kekinian yang justru mengganggu, seperti kehadiran penyedia transportasi daring. Kemunculan yang cukup sering dan dikesankan sebagai penyelamat itu membuat Keluarga Cemara terasa mempromosikan mereka.

Beberapa adegan juga masih terasa seperti sinetron layar kaca. Misalnya saat Abah kecelakaan. Penonton seakan diberi ‘kode’ lewat pergerakan kamera dan dialog bahwa kecelakaan itu akan terjadi, persis seperti adegan-adegan dalam sinetron. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya