oleh

Kekeringan Kian Meluas di Kabupaten Tangerang

Tangerang7.com, Tigaraksa – Krisis air bersih di wilayah Kabupaten Tangerang terus meluas. Hingga pertengahan Agustus 2019, kekeringan terjadi pada 26 kecamatan di kabupaten berjuluk kota seribu industri ini.

Berdasarkan data dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang, Senin (19/8/2019), selain warga kesulitan mendapatkan air bersih, ribuan hektare lahan pertanian kekeringan. Setidaknya, 1.560 hektare sawah tidak teraliri air.

Kekeringan pada ribuan hektare sawah tersebut terdiri dari empat kategori. Di mana, 660 hektare ringan, 411 hektare sedang, 288 hektare berat, dan 201 hektare puso atau gagal panen. Sementara data pada Kamis (8/8/2019) lalu, baru 1.153 hektare sawah kekeringan dan tersebar di 19 kecamatan saja.

26 kecamatan terdampak kekeringan yakni Cisoka, Solear, Tigaraksa, Jambe, Cikupa, Panongan, Curug, Legok, Pagedangan, Cisauk, Pasar Kemis, Sindang Jaya, Balaraja, Jayanti, Sukamulya, Kresek, Gunung Kaler, Kronjo, Mekar Baru, Mauk, Kemiri, Rajeg, Sepatan, Pakuhaji, Teluknaga, dan Kosambi.

Bupati Tangerang Ahmed Zaki Iskandar mengatakan, kekeringan dirasakan hampir tiap tahun saat musim kemarau. Namun, pemerintah daerah setempat tidak tinggal diam dengan keadaan tersebut. Pemerintah Kabupaten Tangerang selalu berupaya memenuhi kebutuhan masyarakat akan air bersih, termasuk untuk area pertanian.

“Setiap musim kemarau pasti ada beberapa wilayah kita yang terdampak kekeringan dan mayoritas adalah wilayah pantura, saya sendiri telah melihat langsung kondisi tersebut. Mudah-mudahan penanggulangan kekeringan ini bisa diatasi dengan baik oleh Pemkab Tangerang dengan langkah-langkah yang tepat,” kata Zaki dalam keterangan tertulis.

Sementara itu, Kepala Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang Azis Gunawan mengatakan, sejauh ini telah dibagikan sebanyak 43 unit pompa air di 18 kecamatan dan 3 sumur pantek di 3 kecamatan. Hal itu sebagai upaya Pemkab Tangerang untuk meminimalisasi dampak musim kemarau.

Selain membagikan 43 unit pompa air dan 3 sumur pantek, pemerintah daerah sudah melakukan berbagai upaya lain untuk penanganan kekeringan. Seperti mengidentifikasi kantong-kantong air dan mengalirkan ke lokasi pertanaman, serta memanfaatkan peralatan di Usaha Pelayanan Jasa Alsintan (UPJA).

“Kami juga melakukan koordinasi dengan instansi terkait yaitu Dinas Bina Marga dan SDA, BPBD, penanggung jawab upaya khusus ke pertanian, dan Kodim 0510/Tigaraksa,” ucap Azis. (rls/odo)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya