oleh

Keberatan Tarif Baru Ojek Online, Pelanggan Bisa Kabur

Tangerang7.com – Sheila (20), warga Kota Tangsel, keberatan dengan kenaikan tarif yang diberlakukan melalui aplikasi ojek daring, Senin (06/05/2019). Hari itu, dia berangkat menuju Universitas Esa Unggul di Jakarta Barat.

Dari Serpong, Kota Tangsel. Sheila terbiasa menggunakan kereta ke Jakarta. Setiba di Stasiun Palmerah, Jakarta Pusat, Sheila memesan ojek daring menuju kampus tempatnya kuliah.

Sheila kaget ketika melihat jumlah biaya yang harus dibayar pada aplikasi ojek daring. Biaya perjalanan itu lebih mahal sekitar Rp3.000 hingga Rp4.000, yakni menjadi Rp17.000.

“Kalau setiap hari pergi dengan harga segitu, saya terpikir untuk bawa kendaraan sendiri. Biar lebih mahal, tapi bisa lebih mengatur mobilitas,” kata Sheila.

Sementara  Yudi (41), salah satu pengemudi ojek daring, merasa diuntungkan. Sebelum kenaikan tarif, dalam sehari dia mendapat sekitar Rp350 ribu dengan 20 kali perjalanan. Dengan tarif baru, hingga pukul 18.00, dia mendapat sekitar Rp400 ribu dengan jumlah perjalanan yang sama.

Kenaikan tarif ojek daring yang berlaku tanggal 1 Mei 2019 ini dikeluhkan sebagian besar penumpang. Dari 3.000 penumpang dari lima kota yang disurvei Research Institute of Socio-Economic Development (Rised), sebanyak 75 persen di antaranya menolak kenaikan itu. Akibatnya, banyak konsumen yang mulai berpikir untuk mencari alternatif transportasi lain.

Sebesar 75,2 persen konsumen ojek daring berasal dari masyarakat berpendapatan menengah ke bawah. Akibatnya, banyak konsumen yang mulai berpikir untuk mencari alternatif transportasi lain.

“Pengguna ojek daring sangat sensitif terhadap perubahan tarif. Bagi yang mempunyai alternatif kendaraan lain, seperti angkot, mereka akan berpindah. Jadi kenaikan tarif yang tujuannya untuk menaikkan pendapatan pengemudi, tidak terwujud karena jumlah penumpang menurun,” kata Ketua Tim Peneliti Rised, Rumayya Batubara, dalam keterangan tertulisnya, Senin (06/05/2019).

Menurut Rumayya, tarif yang diatur pemerintah ini tidak mencerminkan tarif yang harus dibayarkan oleh konsumen. Konsumen harus membayar lagi tarif untuk aplikator yang besarnya 20 persen.

“Contohnya untuk konsumen di Jabodetabek harus membayar Rp2.500 per km. Sementara yang ditetapkan Kemenhub adalah Rp2.000 per km. Tarif ini tarif bersih yang diterima oleh pengemudi,” kata Rumayya.

Menurut dia, rata-rata konsumen bersedia tarif naik hingga Rp5.200 per hari untuk di wilayah Jabodetabek. Sedangkan di luar Jabodetabek sekitar Rp4.900 per hari. Tetapi kenyataannya kenaikan mencapai Rp6.000 per hari di Jabodetabek, dan di luar Jabodetabek mencapai Rp5.000 per hari.

Rumayya mengatakan, kenaikan pengeluaran itu ditolak oleh 47,6 persen kelompok konsumen yang mau menambah alokasi maksimal Rp 4.000-Rp 5.000 per hari. Bahkan sebenarnya ada pula 27,4 persen kelompok konsumen yang tidak mau menambah pengeluaran sama sekali. Totalnya menjadi 75 persen secara nasional.

Sementara Direktur Angkutan Jalan Ditjen Perhubungan Darat Kementerian Perhubungan Ahmad Yani mengatakan, pihaknya telah berbicara dengan lembaga konsumen dan juga pengemudi mengenai tarif baru itu.

“Saya mendengar ada konsumen yang mengeluh tarifnya naik gila-gilaan. Oleh karena itu kami bersama tim independen akan melakukan survei tarif ini. Ada sekitar 10.000 yang akan kami data. Jadi bisa dipertanggung-jawabkan hasilnya karena menggunakan data,” kata Yani.

Menurutnya, survei ini akan dilakukan dalam waktu 10 hari. Hasilnya akan digunakan untuk menentukan, apakah tarif akan tetap atau akan diturunkan. “Kita lihat nanti hasilnya bagaimana,” ujar dia. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya