oleh

Kala Marbut dan Guru Mengaji Mendekam di Penjara

Tangerang7.com, Serpong – Negara Kesatuan Republik Indonesia menjamin kesejahteraan tiap warga negaranya, termasuk perlindungan terhadap hak anak yang merupakan hak asasi manusia. Setiap anak berhak atas kelangsungan hidup, tumbuh dan berkembang serta berhak atas perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi sebagaimana diamanatkan dalam UUD 1945.

Kalimat tersebut dua poin pertimbangan persetujuan bersama DPR dan Presiden untuk menetapkan undang-undang perlindungan anak. Awalnya, lahir Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002. Undang-undang khusus ini kemudian mengalami perubahan dan ditetapkan Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014. Dalam undang-undang ini disebutkan, anak adalah seseorang yang belum berusia 18 tahun, termasuk anak yang masih dalam kandungan.

Kendati demikian, kasus kekerasan terhadap anak kerap terjadi. Terutama kekerasan seksual. Banyak pelaku kekerasan seksual pada anak diseret ke jeruji besi, tetapi seakan hukuman itu terkalahkan dengan nafsu berahi. Pelakunya, rata-rata orang terdekat.

Belum lama ini Kepolisian Resor Tangerang Selatan mengungkap kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur. Jika sebelum-sebelumnya polisi membekuk kakek tiri, ayah tiri, dan teman nongkrong korban atas dugaan pencabulan ataupun pemerkosaan anak yang belum dewasa, kali ini marbut musala dan guru mengaji diseret ke balik jeruji besi.

Polisi menangkap marbut musala berinisial AZ (17) di Kelurahan Cempaka Putih, Kecamatan Ciputat Timur, Kota Tangsel. Ia diduga melakukan persetubuhan terhadap HNF, bocah yang masih mengenyam pendidikan di bangku sekolah dasar.

Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan mengatakan, korban tidak terlalu kenal dengan pelaku. HNF mengenal AZ sebagai sesama penuntut ilmu agama di salah satu musala Kelurahan Cempaka Putih.

Kasus pemerkosaan itu berawal saat HNF pulang mengaji di musala dekat rumah, Minggu (17/1/2019) sekitar pukul 07.00 WIB. Saat dalam perjalanan, ia dipanggil oleh AZ dari dalam sebuah kontrakan kosong. HNF pun masuk ke dalam kontrakan tersebut.

“Kemudian pelaku melakukan persetubuhan secara paksa terhadap korban. Setelah perbuatan pidana asusila tersebut terjadi, pelaku menyuruh korban untuk pulang,” kata Ferdy saat konferensi pers di Mapolres Tangsel, Serpong, Senin (4/3/2019).

Begitu tiba di rumah, HNF mengganti celananya yang terdapat bercak darah. Beberapa saat kemudian, ayah HNF, MNS (60) menanyakan ihwal darah tersebut. Anak sembilan tahun itu pun bercerita kepada sang ayah. Kemudian dilaporkan ke Polres Tangerang Selatan.

Ancaman 15 Tahun Penjara

“Tersangka melakukan tindak pidana kesusilaan karena terdorong keinginan seksual setelah melihat film yang berkonten asusila di HP milik temannya,” jelas Ferdy.

Tersangka dijerat pasal 81 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Ancamannya, hukuman 15 tahun penjara.

Adapun kasus dengan tersangka guru mengaji di Kelurahan Benda Baru, Kecamatan Pamulang, Kota Tangsel. Polisi menangkap pria 60 tahun berinisial B. Tuduhannya, melakukan pencabulan terhadap muridnya, FSZ (8).

Ferdy mengatakan, pencabulan tersebut terjadi pada tanggal 18 Februari 2019 sekitar pukul 15.30 WIB. Sepulang sekolah, FSZ dan sejumlah anak lainnya memang biasa belajar pendidikan agama kepada B.

“Ketika mengajar ngaji korban, tersangka memasukkan tangannya ke kemaluan korban. Ini terjadi pada waktu proses belajar mengaji,” jelas Ferdy.

Usai menuntut ilmu, FSZ pulang ke rumah. Lantaran merasakan sakit pada alat kelaminnya saat buang air kecil, ia memberitahukan kepada orang tuanya. Bocah kelas 3 sekolah dasar itu membeberkan jika dirinya dicabuli oleh B. Lantas ayah korban melaporkan hal itu ke polisi.

“Menurut tersangka, dia melakukan ini karena fantasi seksual karena mengingat tersangka adalah duda yang sudah ditinggal mati istrinya,” ungkap Ferdy.

Atas tindak kekerasan seksual terhadap anak, B dijerat pasal 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perlindungan anak. Ferdy menyebutkan, terdapat klausul pasal 81 ayat 4 UU 35/2014 dalam kasus ini. Di mana pidananya ditambah sepertiga dari ancaman 15 tahun penjara. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya