oleh

Jadi Tersangka Korupsi, Bos PT Gajah Tunggal Buruan KPK

Tangerang7.com, Tangerang – Bos PT Gajah Tunggal Sjamsul Nursalim menjadi buruan Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK). Komisi antirasuah ini menetapkan Sjamsul Nursalim sebagai tersangka dalam kasus dugaan korupsi Bantuan Likuiditas Bank Indonesia (BLBI).

Selain Sjamsul Nursalim, KPK juga menetapkan istri Sjamsul, yakni Itjih Nursalim, sebagai tersangka. KPK telah melayangkan surat panggilan KPK untuk keduanya. Tapi belum juga dipenuhi. Hingga kini Sjamsul Nursalim dan istrinya, Itjih Nursalim belum juga muncul. KPK berharap pasangan suami istri yang sudah jadi tersangka itu segera datang.

Sjamsul dan istri memang tinggal di Singapura. Untuk menemukan keduanya, KPK akan meminta bantuan interpol dan Corrupt Practices Investigation Bureau (CPIB).

Sjamsul disangka merugikan keuangan negara sebesar Rp4,58 triliun terkait kewajiban yang tidak dibayarkan dalam pengambilalihan pengelolaan Bank Dagang Negara Indonesia (BDNI) oleh BPPN.

Katadata.co.id melaporkan, Sjamsul merupakan salah satu orang terkaya dengan bisnis yang menggurita di Indonesia. Wakil Ketua KPK Saut Situmorang mengatakan dalam pertimbangan putusan sejak tingkat pertama hingga banding, majelis hakim telah menyatakan kerugian keuangan negara dalam kasus tersebut sebesar Rp4,58 triliun.

Angka ini merupakan selisih antara kewajiban yang belum diselesaikan sebesar Rp4,8 triliun dengan hasil penjualan piutang oleh PT Perusahaan Pengelolaan Aset (PPA) tahun 2007 senilai Rp220 miliar.

Sjamsul Nursalim dan Itjih Nursalim disangka melanggar Pasal 2 ayat (1) atau Pasal 3 Undang-undang Nomor 31 Tahun 1999 sebagaimana telah diubah dengan Undang-undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi juncto Pasal 55 ayat (1) ke-1 KUHP.

Penetapan status tersangka ini diumumkan KPK pada Senin (10/06/2019). Meski demikian, tak sekali pun Sjamsul menunjukkan batang hidungnya saat dipanggil untuk dimintai keterangan oleh KPK. Saat ini Sjamsul bermukim di Singapura.

Meski tak berada di Indonesia, sejatinya gurita bisnis Sjamsul telah bercokol lama di Tanah Air. Pria bernama asli Liem Tjoen Ho ini merupakan anak pedagang karet di Lampung. Latar belakang usaha karet ayahnya membuat pria kelahiran 1942 ini membangun kerajaan bisnis pertamanya, yakni Gajah Tunggal dengan produk andalan ban mobil merek GT Radial.

Memang tak ada nama Sjamsul dalam struktur kepemilikan saham Gajah Tunggal. Namun, KPK telah mengirimkan surat pemberitahuan penyidikan kepada Sjamsul dengan alamat di Singapura, yakni kantor Giti Tire Pte Ltd, The Oxley, Clunny Road, Singapura. Giti Tire merupakan induk dari Denham Pte Ltd yang menguasai 49,5 persen saham Gajah Tunggal.

Di bawah lini bisnis Gajah Tunggal, terdapat anak usaha PT Polychem Indonesia yang bergerak di bidang usaha serat poliester, PT Prima Sentra Megah sebagai distributor kain ban dan karet sintetis, serta PT Filamendo Sakti sebagai produsen benang kain ban nilon. Kemudian PT IRC Gajah Tunggal Manufacturing Indonesia yang merupakan produsen ban sepeda motor.

“Produksi sedikit mengalami penurunan pada 2018 menjadi 42,7 juta ban (pada 2019) dari 42,8 juta ban (2018),” demikian keterangan resmi Gajah Tunggal menggambarkan kondisi terkini perusahaan pada keterbukaan di Bursa Efek Indonesia.

Bukan hanya itu, lini bisnis Sjamsul meliputi retail. Seperti dikutip Forbes, Sjamsul memiliki saham di PT Mitra Adiperkasa yang menguasai penjualan merek retail ternama seperti Zara, Topshop, Starbucks, Marks&Spencer, Burger King, Lacoste, Bershka, Mango, Pull&Bear, Nike, hingga Reebok.

Laporan Forbes juga menyebut Sjamsul memiliki perusahaan yang bergerak di bidang properti lewat kepemilikan saham di Tuan Sing Holdings. Perusahaan yang tercatat di Singapura itu memiliki sejumlah hunian di negeri jiran tersebut, seperti The Oxley (yang menjadi kantor Sjamsul), Clunny Park Residence, hingga Robinson Point. Tuan Sing juga hadir di Tiongkok dengan hunian Lakeside Ville di Shanghai.

Sebelum itu, Sjamsul dan Itjih juga sempat berbisnis pembalut wanita lewat Softex Indonesia yang dimulai pasangan tersebut pada 2016. Saking tenarnya, merek tersebut, kata ‘Softex’ kerap diasosiasikan sebagai kata ganti pembalut wanita hingga saat ini. Terkait kasus yang menjeratnya, Sjamsul juga sempat berbisnis tambak udang melalui PT Dipasena Citra Darmadja.

Lewat perusahaan tersebut, ia awalnya mempresentasikan aset pinjaman kepada petani/petambak udang itu seolah sebagai piutang lancar. Namun setelah dilakukan Financial Due Dilligence (FDD) dan Legal Due Dilligence (LDD), KPK menyimpulkan aset tersebut tergolong macet sehingga dipandang terjadi misrepresentasi.

Belakangan, Komite Ekonomi dan Industri Nasional (KEIN) meminta Presiden Joko Widodo (Jokowi) menjadikan tambak Dipasena sebagai Proyek Strategis Nasional (PSN). Apalagi, pada masa jayanya, total produksi udang vanamae dan windu di delapan kampung Bumi Dipasena mencapai 200 ton per hari.

Saat ini produksi udang dari wilayah tersebut hanya mencapai 30-40 ton per hari. Produksi ini dihasilkan oleh 7.000 kepala keluarga petambak yang mengerjakan 16.000 petak tambak seluas 16.250 hektare. “Karena semua tahu sebenarnya tambak udang vanamae terbesar di dunia dulunya di Dipasena,” kata M. Najikh, Anggota KEIN pada 2018 lalu.

Dengan keseluruhan bisnis yang dimilikinya, Forbes menempatkan Sjamsul sebagai salah satu orang terkaya di Indonesia pada 2018 lalu. Ia berada di peringkat 36 orang paling kaya seantero republik dengan total harta US$ 810 juta atau Rp 11,5 triliun dengan kurs dolar AS hari ini. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya