oleh

Hari Ibu Bukan Mother’s Day

TANGERANG – Selamat Hari Ibu! Sebuah kalimat sederhana yang mungkin mewarnai media sosial plus foto bersama ibu atau mengucapkan secara langsung sebelum berangkat kerja.

Peringatan Hari Ibu tak memiliki tradisi khas. Peringatannya lebih bersifat personal. Masing-masing pribadi punya cara sendiri dalam memperingatinya.

Tapi, apa Hari Ibu dimaknai sebagai pemberian penghargaan atas jasa mereka dalam keluarga? Dalam lagu Kasih Ibu, terdapat potongan lirik “Kasih ibu kepada beta, tak terhingga sepanjang masa.” Apa iya kasihnya yang ‘sepanjang masa’ ini cukup dihargai dalam sehari apalagi hanya lewat ucapan.

Peringatan Hari Ibu bukanlah soal memberikan penghargaan bagi ibu karena dedikasinya pada keluarga alias peran domestik sebagai pengurus rumah tangga atau ibu rumah tangga. Mengutip pernyataan Wakil Walikota Tangerang Sachrudin, justru Hari Ibu diperingati sebagai momentum mengenang dan menghargai peran pentingnya dalam pembangunan bangsa.

“Seorang ibu adalah sosok yang melahirkan pemimpin dan penerus bangsa,” kata Sachrudin saat menghadiri acara peringatan puncak Hari Ibu ke-90 Kota Tangerang di Mall Balekota, Kamis (20/12/2018).

Sachrudin
Wakil Walikota Tangerang Sachrudin (kiri) saat menghadiri acara peringatan puncak Hari Ibu ke-90 di Mall Balekota, Tangerang, Kamis (20/12/2018). (Foto: Humas Pemkot Tangerang)

Menurut Sachrudin, seorang ibu tak melulu berkutat dengan urusan rumah tangga. Namun, punya peran lebih dalam turut serta membangun bangsa. “Bisa dilihat program dan kegiatan kita berjalan lancar dan berhasil pasti tidak lepas dari peran ibu-ibu,” ujar Sachrudin.

Tahun ini merupakan tahun ke 90 Hari Ibu diperingati. Itu artinya, Hari Ibu sudah ada sejak 1928. Presiden Soekarno menetapkan 22 Desember sebagai Hari Ibu untuk mengabadikan perjuangan kaum perempuan di masa penjajahan.

Awalnya, Hari Ibu diperingati untuk mengenang jasa dan semangat kaum perempuan dalam memperjuangkan dan mengisi kemerdekaan pada masa penjajahan. Namun dalam perkembangannya sekarang ini, Hari Ibu juga dirayakan untuk menghargai jasa ibu dalam berbagai hal, termasuk karier, urusan rumah tangga, dan kodrat alami sebagai ibu.

Dari catatan sejarah yang dihimpun Tangerang7.com, sejarah Hari Ibu diawali ketika kaum perempuan menggelar Kongres Perempoean Indonesia di Yogyakarta Pada 22 Desember 1928. Kongres yang diselenggarakan di Dalem Jayadipuran ini dihadiri oleh sekitar 30 organisasi wanita dari 12 kota di Jawa dan Sumatera.

Kongres berawal dari semangat Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928. Tertular semangat pemuda, kaum perempuan terbakar semangatnya dan menyelenggarakan kongres. Kongres dimaksudkan untuk menggalang persatuan antarorganisasi yang saat itu cenderung bergerak sendiri-sendiri.

Saat kongres yang ketiga di Bandung pada 1938, diputuskan tanggal 22 Desember sebagai Hari Ibu. Kemudian pada 22 Desember 1953 sekaligus peringatan kongres yang ke-25, Presiden Soekarno melalui Dekrit RI No.316 Tahun 1953 menetapkan setiap 22 Desember diperingati sebagai Hari Ibu.

Anehnya, Hari Ibu kini diperingati dengan berbagai cara, mulai dari kata-kata penuh cinta buat ibu, sampai program-program diskon di mal. Tapi rata-rata perayaan itu tak ada hubungan dengan tema-tema yang disampaikan pada Kongres Perempuan, kongres yang menjadi titik mula Hari Ibu. Sebab, Hari Ibu tidaklah sama dengan Mother’s Day di Negara Barat. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya