Harga Telur dan Daging Merangkak Naik di Pasar Jombang

Tangerang7.com, Ciputat – Harga sejumlah bahan pangan merangkak naik menjelang Ramadan di beberapa pasar. Di Pasar Jombang, Kecamatan Ciputat, Kota Tangsel, kenaikan harga terjadi pada telur dan daging sapi.

Pantauan Tangerang7.com, harga telur di pasar ini naik dari sebelumnya Rp23 ribu per kilogram menjadi Rp25 ribu per kilogram. Kemudian harga daging sapi yang semula Rp120 ribu per kilogram menjadi Rp130 ribu per kilogram.

“Hampir setiap tahun menjelang Ramadan harga telur naik. Itu pun tergantung dari distributor telur, kadang naik, kadang turun,” ucap Burhan, penjual telur di Pasar Jombang, Jumat (03/05/2019).

Burhan mengatakan untuk menaikkan harga telur, dia tidak asal menaikkan. Burhan bersama pedagang-pedagang lain berkomunikasi atau melakukan kesepakatan terlebih dahulu supaya kenaikan harga tidak bergejolak di pasar.

Sementara untuk harga daging sapi, kenaikan belum merasa di seluruh pedagang. “Mungkin sehari sebelum bulan puasa naik Rp11 ribu sampai Rp12 ribu,” kata Pian, penjual daging.

Di bagian lain, pemerintah berupaya menjaga harga pangan tetap stabil menjelang Ramadan. Operasi pasar kemungkinan akan dilakukan bila harga di pasar naik dan stok mengalami penurunan.

Bukan hanya pemerintah yang bersiasat menjaga harga pangan tetap stabil menjelang Ramadan. Pengelola warung tegal atau lebih dikenal warteg sudah lama melakukannya. Mereka selalu bersiasat dengan naik turunnya harga bahan kebutuhan. Satu hal yang selalu mereka lakukan, menjaga kesetiaan pelanggaan.

Pagi itu, Dendi (25) memesan ayam goreng, sayur oceng kacang panjang, sambal kentang, tempe mendoan, dan segelas es teh manis di warteg langganannya. Pria asal Anyer, Serang, itu lahap memakan hidangan tersebut. Setelah kenyang, ia bertanya kepada pelayan warteg, ”Berapa, Mbak?”

”Rp 17.000, Mas,” sahut pelayan.

Bagi Dendi, harga murah selalu ramah dengan kantongnya. Warteg menjadi solusi di tengah mahalnya biaya hidup di kota metropolitan. “Gaji saya tidak sampai Rp 5 juta per bulan. Saya harus pandai mengatur uang, salah satunya dengan memilih tempat makan. Warteg tetap menjadi pilihan favorit,” ujar Dendi.

Pengelola warteg memang tidak ingin bermain-main dengan harga makanan. Sebab, sebagian besar konsumen mereka dari kalangan menengah ke bawah. Meskipun harga-harga di pasar melonjak naik, sebisa mungkin dia tidak menaikkan harga atau mengurangi porsi makanan.

Untuk itu, pengelola warteg pun bersiasat, mengatur porsi bumbu untuk menu masakannya. Contohnya, menu telur balado biasanya menggunakan cabai merah 100 gram. Jika harga cabai naik, pengelola warteg hanya menggunakan 50-80 gram. (sof/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya