oleh

Hampir 5 Tahun Buron, Polisi Tangkap Pembunuh Sopir Angkot di Lampung

Tangerang7.com, Tangerang – Lebih kurang 10 hari melakukan pengintaian di daerah Menggala, Kabupaten Tulang Bawang, Provinsi Lampung, namun polisi kehilangan jejak Rifki bin Malik (22). Laki-laki kelahiran Maret 1997 ini diburu atas kasus pembunuhan di area SPBU Pengayoman, Jalan Jenderal Sudirman, Kelurahan Babakan, Kecamatan Tangerang, 1 Mei 2014 silam.

Selama di Lampung, polisi berhasil mengetahui rumah keluarga Rifki. Kala itu keluarga Rifki mengaku bahwa orang incaran polisi tersebut sudah tewas dalam kecelakaan lalu lintas. Tetapi, tim reserse mobil dari Polsek Tangerang dan Polres Metro Tangerang Kota tidak menyerah sampai di situ. Rifki dimasukkan dalam daftar pencarian orang atau DPO.

Hampir lima tahun berlalu. Tepat pada Rabu (13/3/2019), polisi mendapatkan informasi tentang keberadaan Rifki di Menggala.

“Setelah pelaku buron sekitar lima tahun, pada hari Rabu anggota mendapatkam informasi tentang keberadaaan pelaku. Kemudian tim berangkat menuju daerah Lampung. Pada hari Kamis, 14 Maret 2019, pelaku bernama Rifki berhasil diamankan,” kata Kapolsek Tangerang Kompol Ewo Samono dalam konferensi pers di Mapolsek Tangerang, Senin (18/3/2019).

Selama jadi buronan, Rifki kerap berpindah-pindah hingga Sumatra dan Pulau Bangka. Ia pun mengaku terus dihantui arwah Feby Hermanto, sopir angkot yang dibunuh menggunakan pisau.

Ewo menjelaskan, kasus pembunuhan tersebut berawal saat Rifki terlibat cekcok dengan Feby. Pertengkaran dua sejawat sopir angkot jurusan Ciledug-Cikokol ini dipicu rebutan penumpang pada Rabu (30/4/2014) sekitar pukul 19.30 WIB. Saat itu keduanya sempat musyawarah, namun Rifki tak terima.

Rasa dendam mengalutkan pikiran Rifki. Satu bulan kemudian, Kamis (1/5/2014) sore, ketika menunggu penumpang di depan Tangcity Mall, ia melihat Feby sedang mengetem di lokasi tersebut. Rifki lantas menghampiri Feby dan menanyakan ihwal kesalahpahaman di antara mereka.

“Pelaku menghampiri korban dan menanyakan kesalahpahaman yang sebelumnya, mau diselesaikan apa tidak. Namun korban menjawab permasalahannya dilanjutkan saja,” tutur Ewo.

Mendengar jawaban tidak mengenakkan, Rifki meminjam sebilah pisau milik temannya bernama Heri. Ia langsung menyelipkan pisau itu di pinggangnya. Rifki kemudian masuk ke dalam mobil yang dikendarai Feby.

Begitu sampai di SPBU Pengayoman, Feby memukul bahu kiri Rifki. Sontak Rifki langsung mengambil pisau di pinggangnya dan menusuk dada kiri Feby sebanyak satu kali.

“Setelah itu pelaku langsung kabur melarikan diri dan korban akhirnya meninggal di tempat kejadian perkara,” tandas Ewo.

Selain pelaku, polisi mengamankan barang bukti berupa satu bilah pisau bergagang kayu, satu buah celana jeans, satu buah kemeja pendek, dua pasang sandal, dan hasil visum. Rifki dan barang bukti kini diamankan di Mapolsek Tangerang.

Rifki dijerat pasal 76c juncto pasal 80 ayat 3 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau pasal 338 KUHP dan atau pasal 351 ayat 3 KUHP.

Pelaku dijerat pasal undang-undang perlindungan anak mengingat saat kejadian ia berstatus anak di bawah umur. Di mana, kala itu Rifki masih berusia 17 tahun. “Ancaman hukumannya penjara paling lama 15 tahun dan atau denda paling banyak tiga miliar rupiah,” pungkas Ewo. (mus/srh)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya