oleh

Guru Honorer Dipecat, Mengaku Coba Bongkar Pungutan Sekolah

Tangerang7.com, Pondok Aren – Gara-gara ingin membongkar dugaan praktik pungutan di sekolah, seorang guru honorer dipecat. Guru honorer bernama Rumini (44), ini diberhentikan pada 3 Juni 2019. Sebelumnya, Rumini mengajar di SDN 02 Pondok Pucung, Pondok Aren, Kota Tangsel.

Rumini mendapatkan surat pemecatan yang dikirimkan melalui dua pegawai SDN 02 Pondok Pucung saat dirinya akan pergi salat tarawih beberapa waktu lalu. Kepada wartawan, Rumini bercerita, awalnya sekitar Oktober 2018, dirinya sempat mengambil data bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan operasional sekolah daerah (BOSDa) dari komputer sekolah untuk menganalisa anggaran yang didapat sekolah.

Dari data yang ditunjukkan, terdapat anggaran untuk keperluan buku sekolah bagi para siswa. Terdapat juga kejanggalan yang ditemukan Rumini ketika memiliki draft dana BOS dan BOSda itu.

“Jadi dana BOS dan dana BOSDa itu tumpang tindih itu tidak boleh, dalam aturannya tidak boleh tumpang tindih. Jadi misalnya pembelian buku dimasukin ke BOS dan BOSDa harusnya tidak boleh, harusnya salah satunya,” ujarnya seperti dilansir Wartakotalive.com, Kamis (27/06/2019).

Rumini juga memiliki bukti lainnya yaitu surat dari orangtua yang sempat protes tentang pungutan itu. Namun protes itu tiba-tiba meredup.

Rumini menjelaskan soal dugaan pungutan di SDN 02 Pondok Pucung. Dimana setiap murid diharuskan membayar uang untuk keperluan buku mulai dari harga Rp230.000 hingga Rp360.000.

Pungutan lainnya adalah dana laboratorium komputer dan kegiatan sekolah yang harus disetor oleh orangtua murid setiap tahunnya

“Iuran komputer Rp 20.000 setiap bulan per siswa, untuk uang kegiatan siswa Rp 135.000 per tahun,” katanya.

Padahal, kata Rumini, SDN 02 Pondok Pucung masuk sebagai sekolah rujukan nasional yang mendapat bantuan operasional sekolah (BOS) dan bantuan operasional daerah (BOSDa).

Rumini merupakan guru honorer yang sudah bekerja tujuh tahun atau sejak tahun 2012 di sekolah itu. Awalnya Rumini adalah pengajar ekstrakurikuler tari tradisional di akhir pekan.

Delapan bulan kemudian wanita lulusan Universitas Terbuka ini diangkat menjadi guru dan wali kelas pada tahun 2015.

Selama menjadi guru honorer, Rumini pernah memberi keringanan kepada muridnya dengan membiarkan beberapa murid untuk mengkopi buku dengan alasan faktor ekonomi orangtuanya.

Sebab kata Rumini, di tempatnya mengajar, banyak orangtua murid yang berasal dari latar belakang keluarga kurang mampu meski sekolahnya berada di dekat kawasan elit Bintaro.

Kini Rumini tinggal sendiri di sebuah kontrakan sederhana, dirinya belum bekerja kembali setelah pemecatan itu lantaran trauma yang dialaminya.

Sementara Kepala SDN 02 Pondok Pucung yang berstatus Plt, Suriah, enggan berkomentar kepada wartawan terkait pemecatan yang menimpa guru honorer, Rumini (44).

“Tanya saja ke sumbernya,” kata Suriah seperti dikutip dari Wartakotalive.com, Rabu (26/6).

Suriah juga membantah adanya praktik pemungutan yang dilakukan oleh pihaknya kepada orangtua murid. “Nggak ada (pemungutan uang buku),” ujarnya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel Taryono, yang juga menandatangani pemecatan Rumini juga membantah tentang tudingan buku sekolah dan iuran yang dibebankan.

Pemecatan itu kata Taryono tidak ada hubungannya dengan tudingan Rumini terkait praktik iuran orangtua murid di SDN 02 Pondok Pucung.

“Bukan, kalau kaya gitu (ada praktik pungutan) saya dukung (Rumini) bener, saya sudah cek nggak ada. Itu proses panjang sudah lama sekali hampir setahun bukan semata-mata langsung dipecat, karena proses panjang pakai teguran satu kali, dua kali pemanggilan, dan seterusnya,” ungkapnya.

Taryono juga tidak menjelaskan detil alasan pemecatan Rumini, dia meminta untuk menghubungi bawahannya yang berada di bagian PTK Dinas Kependidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya