oleh

Gemerlap Imlek Tanda Akulturasi Makin Membumi

Tangerang7.com, Tangerang – Sehari jelang Tahun Baru Imlek, hiruk pikuk di Pasar Lama Kota Tangerang semakin ramai. Bukan hanya kalangan warga keturunan Tionghoa saja. Masyarakat umum dari berbagai daerah pun penasaran datang untuk menyaksikan gemerlap tradisi ini.

Lampu hias dan lampion di kawasan Pasar Lama semakin menambah keindahan Kota Tangerang pada malam hari. Selain bisa menikmati aneka kuliner ala Tionghoa dan tradisional lainnya, pengunjung Pasar Lama juga bisa berfoto ria di bawah lampu-lampu yang bergantungan.

“Saya ajak anak-anak ke Pasar Lama sambil makan sekalian lihat kemeriahan jelang Imlek,” ujar Asep Sunarya, warga Kutabumi, Pasar Kemis, Kabupaten Tangerang ditemui Tangerang7.com, Senin (04/02/2019) malam.

Warga lainnya asal Periuk, Kota Tangerang, Dewi Isnaeni, juga mengaku takjub dengan pemandangan di sekitar Pasar Lama pada malam hari. Kemeriahan ini semakin meneguhkan bahwa Imlek bukan hanya eksklusif untuk warga Tionghoa tapi juga bisa dinikmati semua elemen masyarakat.

Di Kota Tangerang, warga keturunan Tionghoa dikenal dengan sebutan Cina Benteng, yang merupakan wujud akulturasi. Sejak turun–temurun, mereka berbaur dan menyatu dengan kehidupan dan budaya lokal, tanpa melupakan tradisi leluhur.

Sebenarnya, istilah benteng adalah sebutan lain dari Tangerang lama, sebelum memisahkan diri dari Kabupaten Tangerang. Di situ terdapat benteng pertahanan yang dibangun Belanda di tepi Sungai Cisadane. Benteng ini untuk menahan serangan Kerajaan Banten.

Oey Tjing Eng

Pemerhati dan budayawan Tionghoa, Oey Tjin Eng, menjelaskan, sebagian peranakan Cina di Tangerang menyebut mereka Cina Benteng. Sebagian lagi menyebut dirinya Cina Udik, terutama yang tinggal di pedesaan atau perkampungan yang jauh dari pinggir aliran Sungai Cisadane, seperti di Panongan, Curug, dan Legok yang masuk Kabupaten Tangerang.

Seperti dilansir Kompas, menurut sejarawan asal Inggris yang kini adjunct professor bidang sejarah di Fakultas Budaya Universitas Indonesia, Peter Brian Ramsay Carey, keberadaan Cina Benteng ini sangat menarik karena keunikannya.

“Keberadaan mereka berbeda dengan peranakan Cina yang ada di Lasem dan lainnya,” kata Peter di Kota Tangerang beberapa waktu lalu.

Ia tahu mengenai Cina Benteng setelah mempelajari dan menyelidiki selama 40 tahun mengenai sejarah Diponegoro. Peter juga mendalami Cina Benteng dan tinggal di Tangerang sejak tahun 2008. Peter mengatakan, orang Cina datang ke Tangerang, lalu bermukim dan beranak-pinak di sini.

Melebur dengan Pribumi

Mereka sudah menyatu dengan kebiasaan dan kebudayaan lokal termasuk dalam hal berpakaian dan kuliner. Akan tetapi, warga Cina Benteng masih mempertahankan dan melestarikan adat istiadat nenek moyang dari Cina yang sudah ratusan tahun.

“Ada keunikan tersendiri dari kelompok masyarakat ini (Cina Benteng). Mereka ada di semua lapisan masyarakat. Ini sebuah kemajuan dari masyarakat peranakan yang hampir sudah melebur dengan pribumi (masyarakat lokal),” kata Peter.

Menurut Peter, dalam kehidupan kelompok Cina Benteng ini, tidak ada lagi tuan tanah atau atasan dan bawahan antara peranakan Tionghoa dengan masyarakat lokal. Pada zaman penguasaan tanah oleh VOC, sebagian besar orang Tionghoa menjadi tuan tanah atas tanah partikelir.

“Ini yang menjadi kekhususan Cina Benteng. Mereka (peranakan Tionghoa) sudah berbaur dengan masyarakat lokal dan menjadi masyarakat kebanyakan. Mereka semuanya benar-benar sudah terserap ke dalam masyarakat dan membumi,” tambah Peter.

Kawasan Pasar Lama dipadati pengunjung, Senin (04/02/2019). (Foto: Fandy Achmad/Tangerang7.com)

Menurut Oey Tjin Eng, meski sudah berbaur dengan kehidupan masyarakat lokal, namun dalam kesehariannya, orang Cina Benteng ini masih menunjukkan sifatnya yang asli. Setiap rumah masih ditemukan tempat persembahyangan dan meja abu atau altar nenek moyang.

Mereka masih mengusung tata cara upacara perkawinan dan kematian, serta juga tetap mempertahankan tradisi leluhur seperti Cap Go Meh, Pek Cun (Peh Cun dalam dialek Betawi), Tiong Ciu Pia (kue bulan), dan Pek Gwee Cap Go (hari kesempurnaan).

Kesenian tradisional seperti musik gambang kromong di setiap pesta perkawinan adat, ulang tahun kelenteng atau sejit, dan upacara kematian. Identitas etnis inilah yang menyangkut pada panggunaan simbol-simbol dari segala aspek budayanya, untuk membedakan diri mereka dengan kelompok lainnya.

Dalam kuliner, kata Oey Tjin Eng, beberapa simbol akulturasi pun muncul. Orang Cina Benteng selalu menghadirkan ketupat saat persembahyangan, terutama saat Imlek. Ada juga lontong, lepet, dan beragam makanan kudapan lainnya.

“Ketupat itu kan masakan lokal. Akan tetapi, makanan itu selalu ada saat persembahyangan Imlek. Kalau lontong, adanya pada Cap Go Meh, makanya namanya Lontong Cap Go Meh,” jelas Oey Tjin Eng.

Simbol Kerukunan

Di Kota Tangerang, selain kehadiran kelompok etnik Cina Benteng, juga terdapat sejumlah bangunan peninggalan leluhur Tiongkok yang merupakan simbol kerukunan beragama dan menjadi tujuan wisata keagamaan dan pendidikan di kawasan Pasar Lama. Seperti Kelenteng Boe Tek Bio, Masjid Kalipasir, dan Museum Benteng Heritage.

Di belakang Pasar Lama, tepatnya di Jalan Kali Pasir, ke arah Sungai Cisadane, bisa ditemukan sebuah tangga berwarna merah. Tangga yang bernama Toa Pekong Air atau Prasasti Tangga Jamban itu berada persis di tepi Sungai Cisadane.

“Ini tempat persembahyangan orang Ciben (Cina Benteng). Kalau Imlek, di sini (Toa Pekong Air) pasti ramai sekali. Di altar persembahyangan, banyak buah-buahan untuk sembahyang,” kata Meliani (40), seorang warga di lokasi.

Toa Pekong Air adalah dermaga tua yang dibangun ratusan tahun lalu, saat kepemimpinan Kaisar Thong Tjien dari Dinasti Ching. Sebuah prasasti yang bertuliskan aksara Mandarin berangka tahun 1873, tersimpan di tempat ini.

Pemugaran Toa Pekong Air dilakukan oleh Perkumpulan Boen Tek Bio, Agustus 2010. Sebagai dermaga, tempat ini dulunya tempat berlabuh perahu-perahu kecil yang ingin menyeberangi Sungai Cisadane untuk beribadah ke Kelenteng Boen Tek Bio.

Oey Tjin Eng mengatakan, sebenarnya, di pinggir Sungai Cisadane, tak jauh dari Kelenteng Boen Tek Bio dan Masjid Kali Pasir, terdapat dua tangga yang berbeda, berjarak sekitar 100 meter. Satu Tangga Jamban dan satu lagi Tangga Ronggeng (titik lokasi pinggir sungai tepatnya berada di ujung jalan dari depan Kelenteng Boen Tek Bio.

“Tangga Ronggeng sudah enggak ada lagi, ditutup oleh pemerintah karena ada pembangunan (turap pinggir kali),” kata Oey Tjin Eng.

Dinamakan Tangga Jamban karena di lokasi itu pernah menjadi tempat warga mencuci dan MCK. Kini, tangga itu disebut Dermaga Pek Cun (dalam dialek Betawi disebut Peh Cun). Tempat penyelenggaraan Peh Cun (tanggal 5 bulan 5 dalam kalender Cina).

Tangga Jamban berfungsi untuk menambatkan perahu-perahu kecil yang membawa penduduk Pasar Lama Tangerang menyeberangi sungai atau sebaliknya. Adapun nama Tangga Ronggeng berasal dari tempat mandi para perempuan telanjang. (fdy/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya