oleh

Garang di Jalan, Menangis di Kantor Polisi

Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Alexander Yurikho mengatakan, Adi mendapatkan motor yang dirusak sendiri tersebut melalui jual beli pada Desember 2018 lalu di media sosial Facebook. “Melalui sistem COD (Cash on Delivery) sebesar tiga juta rupiah,” ujar Alex.

Saat dibeli, motor Honda Scoopy hanya dilengkapi STNK, tercatat bernopol B 6382 VDL. Alex mengatakan, motor tersebut patut diduga hasil tindak pidana penipuan dan atau penggelapan yang dilakukan D. Sebab, korban sesungguhnya adalah Nur Ichsan, pemilik sah motor itu.

“Korban menggadaikan motor beserta STNK kepada tersangka D, akan tetapi tanpa seizin pemilik kendaraan bermotor kemudian dijual melalui media sosial. Tersangka D masuk DPO (daftar pencarian orang),” tandas Alex.

Dia menjelaskan, pelat nomor kendaraan B 6395 GLW sebagaimana terpasang pada motor yang dirusak Adi tidak sesuai dengan peruntukannya. Pasalnya, pelat nomor polisi yang seharusnya terpasang adalah B 6382 VDL.

“Pelat nomor yang tidak sesuai peruntukannya tersebut dipasang oleh tersangka setelah proses transaski jual beli motor melalui COD medsos. Pelat nomor yang tidak sesuai peruntukannya itu didapatkan tersangka dari temannya bernama Endi,” pungkas Alex.

Sementara itu, Ahli Psikologi Forensik Reza Indragiri Amriel menduga Adi mengidap intermittent explosive disorder (IED). Yakni kelainan perilaku yang ditandai dengan ledakan kemarahan dan kekerasan, serta seringkali sampai pada tingkat kemarahan yang tidak proporsional dengan situasi yang dihadapi.

Menurut Reza, apa yang dilakukan pengendara motor bukan hanya persoalan pelanggaran Undang-Undang Lalu Lintas. Sebab, di hadapan petugas saja, dia sampai berani berbuat seperti itu. Apalagi saat bergesekan dengan sesama pengguna jalan. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya