oleh

Dendam Terkumpul dari Kenangan Pahit

Tangerang7.com, Jatiuwung – Dendam dan amarah Rosita (27) berujung tewasnya Quina Latisa Ramadani. Bayi perempuan 1,5 tahun itu menjadi korban kekerasan oleh ibu kandungnya sendiri. Nyawanya tak terselamatkan setelah berulangkali dipukuli sang ibu.

Kejadian di RT 004 RW 003 Kampung Gebang, Sangiang Jaya, Periuk, Kota Tangerang, itu bisa jadi yang pertama. Namun menegaskan anak sangat rentan menjadi korban kekerasan. Bahkan oleh orangtuanya sendiri.

Rumah Muhammad Ali Siregar (66) di Jalan H Ikhwan Nomor 117, RT 004 RW 003, Sangiang Jaya, Periuk, Tangerang, beberapa kali didatangi wartawan pada Minggu (20/1/2019). Garasi yang dikontrak RS dan Wage (50), suaminya, kini disegel dengan garis polisi kuning. Rupanya, kontrakan itu menjadi saksi bisu cubitan dan tinjuan Rosita yang dilayangkan kepada Quina Latisa Ramadani setidaknya dua bulan terakhir.

“Empat bulan lalu, si ibu (Rosita  mulai ngontrak di tempat saya. Dua bulan kemudian, suaminya (Wage), ikut kemari. Dia bawa juga anaknya yang selama ini dititipkan ke bapak asuh di Cirebon (Jawa Barat),” kata Ali seperti dikutip dari Kompas Senin (21/01/2019).

Ali dan istrinya, Umi Kalsum (60), hanya mengetahui Quina Latisa Ramadani adalah anak Rosita dari suami sebelumnya yang sama-sama asal Palembang, Sumatera Selatan. Mantan suaminya itu pergi setelah dua bulan Rosita mengandung Quina Latisa Ramadani dan tak pernah kembali hingga putrinya lahir.

Selain Rosita dan Wage, ada pula pasangan Miftah (32) dan Nuraini (32) beserta anak perempuan tiga tahun serta seorang kerabat lain yang mengontrak di sana. Mereka menempati ruang di belakang garasi. Tidak ada satu pun pintu di belakang garasi sehingga keluarga Rosita seakan terisolasi dari pergaulan internal kontrakan. Kendati begitu, suara tangisan dan hardikan dapat menembus tembok garasi.

Ali dan Umi mengaku tidak pernah mendengar tangisan Quina Latisa Ramadani. Sebab, mereka lebih banyak menghabiskan waktu di ruang tengah untuk menonton televisi. Meski demikian, salah satu anaknya, Arif, yang bekerja sebagai pengojek daring, sering mendengar suara tangisan Quina Latisa Ramadani pada malam hari sekitar pukul 23.00.

Miftah yang baru berangkat mengojek sore hari juga kerap mendengar tangisan dan hardikan yang sama dari garasi saat siang hari. Namun, suara-suara itu dianggapnya wajar. “Kalau anak mereka menangis, anak saya, kan, juga menangis. Dia ngingetin buat diem, saya juga gitu. Enggak ada yang aneh,” kata Miftah.

Sekali waktu saat akan berangkat mengojek, Miftah melihat sekitar mata Quina Latisa Ramadani lebam hitam. Ia mengatakan tidak sempat bertanya karena RS yang menggendong Quina Latisa Ramadani keburu menjauh.

Nuraini punya cerita lain. Jika Quina Latisa Ramadani menangis terus, Rosita akan membawanya ke kamar mandi, kemudian mengguyurnya tanpa henti dengan air. “Kalau diguyur terus, kan, anaknya enggak sempat menangis,” katanya. Suara guyuran air sangat jelas karena kamar mandi di garasi terletak di belakang, berhadapan dengan pintu depan kontrakan Nuraini.

Semua penghuni rumah itu menyatakan Rosita dan Wage cukup ramah dan selalu tersenyum jika menyapa atau disapa. Tidak pernah ada masalah apa pun selama empat bulan terakhir. Namun, saat ditanyai kenapa tidak menegur saat merasa ada yang janggal, semuanya berdalih keluarga itu jarang keluar dan agak tertutup.

“Namanya orang jaga toko. Anaknya juga jarang main dengan anak saya karena enggak pernah keluar,” kata Ali.

Semua baru terkuak saat Ratna, anak Ali dan Umi, panik memanggil sang ibu. Umi mendapati Quina Latisa Ramadani  sudah lemas seperti tak bernyawa. Di Rumah Sakit Ibu dan Anak Bunda Sejati, Jatiuwung, gadis mungil itu mengembuskan napas terakhir dengan luka lebam di sekujur tubuhnya.

Kapolsek Jatiuwung Kompol Eliantoro Jalmaf mengatakan, kabar mengenai kematian Quin datang dari Rumah Sakit Bunda Sejati, Jatiuwung. Polisi pun langsung menindaklanjuti laporan tersebut dengan mengecek korban dan tempat kejadian perkara atau TKP.

“Dari hasil cek korban dan TKP, diduga korban meninggal karena akibat pukulan benda tumpul pada punggung dan mukanya. Atas hal tersebut, kemudian dilakukan pengamanan terhadap orangtua korban,” ujar Eliantoro kepada Tangerang7.com. Sabtu (19/01/2019).

Polisi kemudian memeriksa lima saksi. Yaitu orangtuanya dan tetangga di kiri dan kanan rumah. Dari pemeriksaan saksi didapat keterangan ternyata korban sering dicubit dan dipukuli oleh ibunya sendiri.

Kapolsek Jatiuwung Kompol Eliantoro Jalmaf memimpin olah TKP penganiayaan balita hingga tewas di Jalan Ikhwan, Kampung Gebang, Kelurahan Sangiang Jaya, Kecamatan Periuk, Kota Tangerang, Sabtu (19/1/2019). (Foto : Mus Mulyadi/Tangerang7.com)

Sang ibu kini ditahan di Polsek Jatiuwung dan sudah ditetapkan menjadi tersangka. Dari hasil pemeriksaan terungkap persoalan kebencian terhadap mantan suaminya yang kedua. Dendam ini dilampiaskan Rosita dengan memukuli Quina Latisa Ramadani, bahkan saat ia tidak rewel sekali pun.

Hanya teringat pada sang mantan suami bisa meluapkan kemarahannya, lalu ditumpahkan dengan meninju punggung anaknya berkali-kali.

Mantan suami meninggalkan Rosita saat akan melahirkan korban. Penyebabnya belum diketahui. Karena menurut pengakuan tersangka kondisi ekonomi saat itu sangat memprihatinkan. Bahkan Quina Latisa Ramadani sempat dititipkan pada tetangga. Mantan suami dan keluarganya malah kemudian menuduh Rosita menjual bayinya kepada tetangga.

Sekira satu tahun setelah Quina Latisa Ramadani dititipkan, Rosita yang telah menikah dengan Wage (50), seorang pengojek daring, merasa kemampuan finansialnya lebih baik. Bayi itu pun diambilnya kembali. Empat bulan terakhir, mereka tinggal di sebuah bekas garasi mobil dengan biaya sewa Rp 800.000 per bulan. Rumah itu sekaligus digunakan sebagai warung yang dikelola Rosita.

Kehidupan keluarga kecil itu tertutup dari warga sekitar. Warga hanya sering mendengar tangisan anak dan pukulan, bahkan pertengkaran suami-istri, namun tidak lebih dari itu. Dari hasil pemeriksaan, Wage sebagai ayah tiri sering mencegah Rosita mencubit dan memukul Quina Latisa Ramadani. “Pak Wage ini sering mengingatkan, ’dia cuma anak kecil’,” kata Eliantoro simpatik.

Kendati begitu, cegahan Wage tak bisa menghentikan datangnya tragedi yang menimpa bayi tak berdosa itu. Wage harus pergi mengojek, sementara Rosita, yang 24 jam bersama Quina Latisa Ramadani di rumah, bisa teringat sang mantan suami pada jam, menit, dan detik keberapa pun dalam sehari. Nyawa bayi tak berdaya itu sepenuhnya di tangan ibunya.

Perbuatan Rosita melanggar Pasal 80 Ayat 3 Undnag-Undang Nomor 35/2014 tentang Perlindungan Anak. Kurungan maksimal 20 tahun kini menantinya. Penganiayaan terhadap Rosita, kata Eliantoro adalah yang pertama di wilayah hukum Polsek Jatiuwung selama Eliantoro menjabat.

Tempat kejadian perkara penganiayaan balita hingga tewas diberi garis polisi, Sabtu (19/1/2019). (Foto : Mus Mulyadi/Tangerang7.com)

Mengutip Kompas, psikolog Arif Nur Cahyo menilai kekerasan terhadap anak merupakan bentuk kekerasan simbolik, yaitu menghadirkan sosok yang dibenci sebagai sumber kemarahan dalam diri anak. Seringkali, sosok itu adalah pasangan yang menjadi orangtua biologis anak. Ketika teringat kenangan pahit, muncullah dendam tersebut.

“Itu bisa disebabkan teringat peristiwa-peristiwa pahit yang mengakumulasi dendam. Pelaku berpersepsi, ‘karena dia, aku menderita’. Lalu, ia melampiaskan kemarahannya secara spontan dan tak terkendali pada anak sebagai representasi sosok yang dibenci,” kata Arif seperti dilansir Kompas Minggu (20/01/2019).

Relasi kekuasaan antara anak dan orang tua tidak setara sehingga anak sangat rentan menjadi korban kekerasan. Menurut Arif, manusia adalah makhluk yang ingin berkuasa, sementara anak adalah sosok yang lemah secara biologis dan psikologis. Jika anak dilihat sebagai representasi sosok yang dibenci, keselamatannya pun berada pada risiko besar.

Komisioner bidang Sosial dan Anak dalam Kondisi Darurat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susianah Affandy mengatakan, anak sering kali dianggap sebagai barang privat milik orang tua sehingga bebas diapakan saja, termasuk disiksa dan dijadikan sasaran kekerasan oleh orangtua. Di lain pihak, kekerasan pada anak oleh orang tua dianggap masuk ranah privat keluarga sehingga masyarakat tidak ingin ikut campur.

“Padahal, soal kekerasan terhadap anak adalah pidana yang tidak mengenal istilah privat atau publik. Bahkan, UU Perlindungan Anak mengatakan, hukuman kurungan terhadap pelaku ditambah sepertiga dari tuntutan jika pelaku adalah orang tuanya. Polisi wajib menindak secara hukum,” kata Susianah.

Kekerasan terhadap anak yang dibiarkan menahun dapat menyebabkan kekerasan dianggap sebagai sebuah kenormalan. Anak yang menerima kekerasan pun dapat menjadi pelaku kekerasan selanjutnya. Karena itu, selain menegakkan hukum, diperlukan edukasi terhadap masyarakat.

“Saat ini, KPAI bekerja sama dengan pemerintah dengan pendekatan Perlindungan Anak Terpadu Berbasis Masyarakat. Tanpa peran masyarakat sebagai pelopor dan pelapor, sangat sulit melindungi anak Indoensia. Perlu sosialisasi dan edukasi untuk mendobrak paradigma pembedaan publik dan privat,” kata Susianah.

Tantangan lain yang dihadapi dalam penegakan hukum terkait kekerasan terhadap anak adalah pencabutan kasus untuk melindungi nama baik keluarga. Selain itu, pelapor kekerasan terhadap anak juga sering diintimidasi oleh yang dilaporkan. Karena itu, kewaspadaan perlindungan anak di masyarakat mendesak ditingkatkan.

Quina Latisa Ramadani hanyalah satu dari sekian anak yang harus menghadapi kekerasan setiap hari. Tanggung jawab pemenuhan hak anak tak hanya menjadi kewajiban orang tuanya, tetapi juga seluruh lapisan masyarakat. (t7)

 

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya