oleh

DBD Rentan Menyerang di Sekolah, 21 Warga Kota Tangerang Terjangkit

Tangerang7.com, Tangerang – Demam Berdarah Dengue (DBD) masih terus mengancam. Anak-anak sekolah menjadi kelompok yang paling rentan terkena penyakit demam berdarah dengue.

Hal ini dituturkan spesialis penyakit tropik dan infeksi, Departemen Ilmu Penyakit Dalam RSCM, Dr. dr. Leonard Nainggolan, SpPD-KPTI.

“Anak-anak dari pagi dan siang duduk dalam ruang kelas dan kaki mereka tersembunyi di bawah kaki meja, menjadi sasaran empuk nyamuk,” ujarnya, dilansir Antara.

Leo mengatakan, nyamuk yang juga terkenal dengan sebutan nyamuk rumahan ini aktif pada pagi hingga siang hari dan puncaknya pada pukul 08.00-13.00 serta 15.00-17.00.

“Ketimbang jenis nyamuk lainnya, nyamuk vektor demam berdarah dengue, Aedes aegypti dan Aedes albocpictus cenderung menyukai aroma tubuh manusia,” ujarnya.

Leo menyarankan sehabis mengenakan pakaian sebaiknnya masukkan cucian. Bila masih akan dipakai, taruh di dalam lemari yang ada tutupnya.

Waspada DBD Mewabah

Di Kota Tangerang, pemerintah daerah sudah mengirimkan edaran kepada sekolah-sekolah untuk mewaspadai DBD. Tak cuma sekolah, lingkungan tempat tinggal, rumah sakit, instansi medis juga diminta kewaspadaannya menghadapi DBD.

Dinas Kesehatan Kota Tangerang mencatat jumlah pasien DBD sebanyak 21 kasus sejak awal tahun. Kepala Dinas Kesehatan Kota Tangerang Liza Puspadewi menjelaskan, ada tiga kategori dari DBD yang perlu diketahui masyarakat.

“Ada tiga kategori yaitu satu kategori tersangka, kedua demam dengue, dan terakhir demam berdarah dengue,” ucap Liza.

Menurutnya, Dinkes telah bergerak dengan Program Gebrak Pemberantasan Sarang Nyamuk (PSN) 4M Plus yang melibatkan kader-kader lingkungan. Ditambah Juru Pemantau Jentik (Jumantik) yang ada di rumah dan lebih diintenskan lagi gerakan Satu Rumah Satu Jumantik.

“DBD bisa menjadi wabah karena berulang-ulang mengisap darah dari satu orang ke orang lain lewat perantara nyamuk Aides aegypti. Untuk itu 4M Plus dan Jumantik intensitasnya akan ditingkatkan, dilakukan selama sebulan penuh secara kontinyu dan terus menerus,” ujarnya.

4M Plus adalah menutup tempat penampungan air, menguras tempat penampungan air secara rutin minimal seminggu sekali, mengubur tempat penampungan air yang tidak terpakai, dan memantau jentik nyamuk seminggu sekali.

Sedangkan plus di sini artinya menghindari gigitan nyamuk menggunakan repelen antinyamuk, menanam tanaman pengusir nyamuk, melakukan larvasidasi, dan menggunakan kelambu. (t7)

Bagikan:

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya