oleh

Ciptakan Pakan Lele Mandiri, Keuntungan pun Berlipat

Tangerang7.com, Tangerang – Ide kreatif Syahrial sebagai pembudidaya lele ini patut dicontoh. Dia membuat terobosan menghadapi mahalnya harga pakan lele dengan merakit mesin pengolah pakan alternatif.

Mesin pakan alternatif tersebut dirakit dengan sentuhan teknologi tinggi namun berbiaya murah. Meski berbiaya murah, pakan lele yang dihasilkan tak kalah kualitasnya dengan pakan lele pabrikan.

“Pakan lele pabrikan harganya paling murah Rp 11 ribu per kilogram. Sedangkan pakan alternatif cukup membutuhkan bahan baku dari limbah tahu dan ikan sekitar Rp 3.500,” kata Syahrial saat ditemui Tangerang7.com di tempat budidaya lele miliknya, di Desa Kampung Kelor, Kecamatan Sepatan Timur, Kabupaten Tangerang, Rabu (23/01/2019).

Nilai investasi yang dia keluarkan untuk merakit mesin pakan lele ini pun terbilang ringan dibandingkan dengan mesin pakan buatan Jepang yang mencapai Rp 1 miliar. Dengan mesin pakan alternatif sendiri dia hanya membutuhkan Rp 30 juta untuk membeli alat dan mesin.

“Artinya kalau kita beli mesin pakan dari Jepang harganya Rp 1 miliar. Tapi kalau merakit sendiri cukup menyediakan dana untuk membeli feed mill, extruder, mixed dan oven. Nantinya dirakit sendiri,” katanya.

Keuntungan Rp 20 Juta/Bulan

Berkat pakan lele mandiri ini, produksi lele di empangnya berlimpah. Otomatis keuntungannya pun berlipat. Dalam satu bulan, empang yang diberinya nama Istana Raja Lele ini mampu menghasilkan 2 ton lele. Kalkulasi keuntungannya mencapai Rp 20 juta setiap bulannya.

“Permintaan lele semakin meningkat. Lele dari Istana Raja Lele ini dipasok ke Kota Tangerang yang permintaannya memang cukup tinggi setiap harinya,” katanya.

Menurut dia, dalam satu hari kebutuhan lele di Kota Tangerang mencapai 15 ton. Sedangkan pembudidaya di daerah itu hanya mampu memasok lele 1 ton per hari.

“Kebutuhannya memang tinggi, sedangkan produksi lele dari pembudidaya lokal belum mampu mencukupi. Kekurangannya didatangkan dari luar daerah,” katanya.

Pembudidaya lele saat ini kebanyakan masih bergantung pada pakan lele pabrikan yang harganya tinggi. Sehingga keuntungan yang diperoleh tidak maksimal. Kondisi ini mengakibatkan pembudidaya lele tak bisa cepat berkembang dan meningkatkan produksinya.

Syahrial pun menawarkan kepada sesama pembudidaya lele untuk beralih ke pakan lele alternatif ini. Sehingga dapat mendongkrak produksi dan keuntungan.

“Kami terbuka kepada sesama pembudidaya lele yang ingin mencoba untuk menggunakan pakan mandiri ini. Silakan datang ke Istana Raja Lele,” katanya.

Menurut pria yang juga PNS di Kota Tangerang ini, sebenarnya Kota Tangerang memiliki potensi untuk menjadi daerah penghasil komoditas lele. Misalnya dengan menciptakan sentra-sentra budidaya lele. Sehingga nantinya tak bergantung dari pasokan luar daerah.

“Saya melihat potensinya ada. Kalau pembudidaya lele lokal bisa dikembangkan dan dibuat sentra-sentra budidaya lele baru, produksi tentu meningkat,” katanya. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya