oleh

Caleg Milenial Berebut Kursi

Tangerang7.com, Tangerang – Hampir mendekati separuh calon anggota DPRD Kabupaten Tangerang dari Daerah Pemilihan (Dapil) Tangerang 6 tergolong kaum milenial. Selain adanya regenerasi politik, keberadaan mereka diharapkan juga bisa menarik suara pemilih milenial.

Dapil Tangerang 6 ini mencakup empat kecamatan, yakni Pagedangan, Legok, Kelapa Dua, dan Cisauk. Berdasarkan data calon anggota legislatif peserta Pemilu 2019 di Komisi Pemilihan Umum, Senin (11/03/2019), ada 111 caleg Dapil Tangerang 6 yang memperebutkan 8 kursi DPRD Kabupaten Tangerang.

Dari jumlah tersebut, lebih dari 40 caleg masuk dalam generasi milenial atau kelahiran tahun 1980 ke atas. Sebanyak 20 orang berusia di bawah 30 tahun dan 10 orang berusia 31-38 tahun.

Partai politik yang paling banyak menyodorkan caleg milenial di Dapil Tangerang 6 adalah Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dan Partai Hanura. Kedua parpol tersebut menyodorkan masing-masing 7 caleg berusia muda.

Ketujuh caleg yang disodorkan PSI ini berusia 28-33 tahun. Antara lain Arief Faturohman, Ratna Sianturi, Fakhriy Dinansyah, Luber Sitanggang, Winda Annisaningtias, Rudy Windu Lubis, dan Dian Mayasari.

Sementara caleg yang diajukan Partai Hanura berusia antara 25-38 tahun. Mereka adalah Abdul Qodir Zaelani, Chartina Sholichyan Silitonga, Chaerina Anggraeni, Hari Santoso, Sari Prasetya, Rizky Tirtha Mangalir, dan Sani Hariadi.

Kemudian berikutnya Partai Persatuan Pembangunan menyodorkan 4 caleg milenial, disusul Perindo, Gerindra, Golkar, dan Demokrat masing-masing 3 caleg. Adapun caleg yang paling muda berusia 23 tahun, yakni Adhan Ihwan dari Partai Nasdem.

Pengajar Komunikasi Politik pada program Pascasarjana Komunikasi Universitas Paramadina, AG Eka Wenats, menilai positif munculnya caleg-caleg muda. Fenomena itu, menurut Eka, memberikan gambaran yang riil tentang politik dan anak muda. Ada lapisan anak muda yang apatis pada politik, tetapi ada juga anak muda yang berminat terjun ke arena politik praktis.

“Mungkin mereka muncul karena dimotivasi kejengahan pada situasi politik yang selama ini didominasi orang tertentu, lu lagi-lu lagi. Caleg muda ini memberi kesegaran,” ujarnya.

Dengan segala keterbatasannya, terutama jam terbang politik, lanjut Eka, caleg-caleg muda ini punya peluang bagus untuk mendulang suara. “Pemilih muda yang akan memilih mereka itu rasional. Yang mereka lihat adalah kemampuan caleg dalam kerja politik dan profesionalitas,” ujarnya.

Pengajar di FISIP Universitas Sultan Ageng Tirtayasa Serang Abdul Hamid, juga menilai positif munculnya caleg muda dalam jumlah banyak. Ini menunjukkan adanya kaderisasi di parpol. Meski demikian, proses merekrut para caleg muda itu juga harus dilihat.

Direktur Eksekutif Saiful Mujani Research & Consulting (SMRC) Djayadi Hanan berpendapat, caleg milenial harus punya rencana konkret ketika duduk di parlemen. Tanpa hal itu, caleg akan terombang-ambing.

Contoh lain, dalam bidang anggaran bisa fokus pada program peduli kaum perempuan dengan perluasan jangkauan pemberian makanan bernutrisi untuk anak-anak kurang mampu. Caleg mencanangkan program dan memperjuangkan hal tersebut.

Selain itu, caleg milenial juga harus punya ketertarikan dan rencana jangka panjang dalam politik. Sebagai anggota partai politik, dukungan dari partai dan kekuatan fraksi sangat menentukan.

“Terus berhubungan dengan masyarakat di dapil. Ketika ada tekanan dari partai dan fraksi, kekuatan publik (dapil) berguna untuk melawan tekanan yang datang. Penting juga untuk mencari rekan atau teman milenial dan senior yang punya semangat memperbaiki kinerja anggota dewan. Punya visi yang sama, berkoalisi walaupun berbeda partai lain,” tuturnya. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya