Bayi-Bayi itu Tak Diinginkan Lahir

Tangerang7.com, Serpong – Kasus penemuan bayi yang baru lahir terulang lagi. Bayi itu dibuang karena tak diinginkan oleh ibunya. Ada yang ditemukan masih dalam keadaan bernapas, ada juga yang sudah meninggal dunia.

Di Kota Tangerang Selatan baru-baru ini, dua jasad bayi ditemukan. Bayi yang ditemukan itu disebut sebagai bayi ‘x’. Mereka lahir dari rahim dua perempuan berprofesi sebagai pembantu rumah tangga.

Februari lalu, LSS (20), pekerja rumah tangga di Perumahan Arinda Permai, Pondok Aren, melahirkan tanpa bantuan medis di kamar pembantu. Perempuan berbadan gempal itu membekap mulut anaknya hingga tewas. Lalu, bayi x dibuang di belakang rumah majikan.

Polres Tangsel mengadakan konferensi pers pada 20 Februari 2019. LSS turun dari lantai dua kantor Polres, dikawal oleh dua Polwan bersenjata laras panjang. Tak bisa diketahui ekspresi LSS, sebab ia mengenakan balaclava: songkok hitam yang sering dikenakan para tersangka yang menjadi tahanan.

Pola serupa terulang pada Senin, 4 Maret 2019. R (17), pembantu rumah tangga yang bekerja di salah satu rumah di Perumahan Urbana Place, Kecamatan Ciputat, juga melahirkan secara mandiri. R, yang tidak pernah menempuh pendidikan formal itu, membekap anaknya dengan kain batik. Jasadnya dibuang ke tong sampah di depan rumah majikan.

Dua orang petugas kebersihan menemukan jasad itu terbungkus kantong plastik merah. Lalu mereka melapor ke polisi.

Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Alexander Yurikho mengatakan, dua ibu muda itu mengandung dalam sunyi. Lingkungan sekitar tak ada yang mengetahui kehamilan mereka, termasuk majikan. “LSS berbadan gempal. Oleh sebab itu tak ada yang bisa membedakan apakah ia hamil atau memang perutnya yang demikian,” kata Alex.

Sementara R, tidak kelihatan batang hidungnya. Alex tidak menghadirkan R dalam konferensi pers pada Rabu (13/3/2019) siang. Alasannya, R masih berstatus remaja. “Menyangkut kode etik,” katanya.

Namun Alex menginformasikan, R berpostur sedang. Sehari-sehari, ia menggunakan pakaian longgar. Menurut Alex, motif kedua tersangka ini sama, yaitu malu melahirkan anak yang lahir di luar pernikahan. Pria yang diduga sebagai ayah biologis bayi x itu masih diburu polisi.

LSS terancam hukuman penjara seumur hidup. Sementara R, berhubung masih di bawah umur, terancam 15 tahun penjara.

Berdasarkan catatan Polres Tangsel, sebanyak tiga jenazah bayi ditemukan di wilayah hukum Polres Tangsel pada triwulan pertama 2019. Dari tiga temuan, baru dua kasus di atas yang diketahui pelakunya.

Tahun lalu, ada 6 bayi x ditemukan. Tempat penemuan bayi x itu pun beragam, seperti tong sampah, kolong tol, dan lahan kosong. Dari enam temuan, baru satu kasus yang bisa diungkap.

Psikolog klinis Ellen Susila mengatakan, tahap pertama yang perlu dilakukan dalam melihat kasus itu adalah memeriksa kondisi kejiwaan pelaku. Jika tak ada yang bermasalah, besar kemungkinan pelaku memilih jalan pintas karena merasa kehamilannya tidak diterima lingkungan sekitar.

Hamil tanpa didampingi orang terdekat, menurut Ellen, membuat pelaku merasa stres. Setiap individu memiliki daya tahan yang berbeda dalam menghadapi tekanan. Dalam konteks ini, pelaku beranggapan anak yang dikandung sebagai sebuah beban.

“Ketika diberitahu, mungkin keluarga atau orang terdekat protes. Tetapi seiring berjalannya waktu tentu mereka akan menerima juga. Nah, kalau diumpeti seperti itu, kan tidak ada yang tahu seberapa besar beban yang ditanggung pelaku,” kata dia.

Komisioner Bidang Sosial dan Anak Dalam Kondisi Darurat Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI) Susianah Affandy menduga, besar kemungkinan pelaku tidak mendapat pengasuhan yang layak dari orang tua.

Mereka tumbuh dewasa tanpa perhatian yang cukup dari orang terdekat. Akibatnya, mereka mencari perhatian dari orang lain, dalam hal ini mencari pacar.

Yang tidak mereka sadari, kata Susianah, pacaran yang kebablasan bisa berujung pada kehamilan. Di sisi lain, mereka belum sepenuhnya siap menjadi orang tua. Semua kompleksitas kehamilan selama sembilan bulan itu ditanggung sendiri. Tak ada tempat untuk bercerita.

“Jika sudah begitu, dia tidak melihat solusi lain selain membunuh anaknya itu,” kata Susianah. (isb/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya