oleh

Bayi Baru Lahir Dibunuh Menggunakan Tangan dan Dibekap

Tangerang7.com, Serpong – 14 Februari 2019 lalu, seorang asisten rumah tangga (ART) berinisial LSS (20) di Perum Arinda Permai, Kelurahan Pondok Aren, Kecamatan Pondok Aren, Kota Tangerang Selatan, mengalami pendarahan. Akibatnya, LSS pingsan. ART lainnya di rumah tersebut pun panik.

Teman sejawat LSS, Sutarti, melaporkan kejadian itu kepada majikannya. Sang majikan yang mendapat kabar melalui sambungan seluler, langsung meninggalkan kantor tempat ia bekerja dan bergegas pulang ke rumah.

Setelah tiba di rumah, si majikan melihat LSS dalam keadaan tak sadarkan diri dan pendarahan. Ia kemudian membawa LSS ke Rumah Sakit Aqidah Parung Serab, tetapi tidak bisa dirawat. Lalu dirujuk ke Rumah Sakit Umum Permata Ibu. Kepada majikannya, LSS mengaku terjatuh dari tangga rumah.

Namun, aroma kebohongan LSS tercium. Empat hari kemudian, tepat tanggal 18 Februari 2019, Sutarti mencium bau menyegat dari arah gudang di bagian belakang rumah. Lantaran penasaran, ia mencari tahu sumber bau tidak sedap itu.

Sutarti akhirnya menemukan sebuah dus mencurigakan. Saat dibuka, ia sangat kaget melihat sosok bayi terbungkus plastik putih. Orok tersebut sudah tidak bernyawa.

Lagi-lagi, Sutarti melaporkan hal itu kepada majikannya. Setelah itu si majikan melaporkan ke Kepolisian Resor Tangerang Selatan (Polres Tangsel). Kasus tersebut ditindaklanjuti Unit Pelayanan Perempuan dan Anak Satuan Reserse Kriminal Polres Tangsel.

Usai melakukan cek dan olah tempat kejadian perkara (TKP), polisi menangkap LSS. Kala itu ia diduga melakukan pembunuhan seorang bayi baru lahir. Setelah melakukan serangkaian penyelidikan, polisi menetapkan LSS sebagai tersangka.

Korban tak lain orok dari rahim tersangka sendiri. Berbulan-bulan LSS berupaya menyembunyikan kehamilannya kepada majikannya dan beberapa ART lainnya di rumah tersebut.

Tidak hanya mengumpulkan sejumlah barang bukti dan memeriksa saksi-saksi. Polisi menggelar reka ulang atau rekonstruksi perkara guna kelengkapan penyidikan. Rekonstruksi dilaksanakan di Jalan Lengkong Gudang Timur, Kecamatan Serpong, Selasa (26/2/2019).

Bercerai Tahun 2017

Rekonstruksi dipimpin Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Alexander Yurikho. Polisi juga menghadirkan LSS, para saksi, serta kuasa hukum tersangka. Setidaknya, LLS memperagakan 20 adegan menggunakan boneka.

LSS pun hanya terdiam tak bersuara. Ia memperagakan adegan di sebuah kamar mandi. Mulai dari ia melahirkan secara mandiri hingga menghabisi nyawa anak tak berdosa itu. LSS memotong plasenta atau ari-ari menggunakan gunting kuku.

Berdasarkan rekonstruksi tersebut, terungkap sejumlah fakta baru. Antara lain tersangka membunuh bayi berjenis kelamin laki-laki secara paksa dengan menggunakan tangan. Di mana kepala bayi yang dalam keadaan telentang ditekan ke lantai.

“Benar, bayi tersebut dihilangkan nyawanya secara paksa oleh ibu kandungnya atas nama tersangka LSS dengan cara dua hal. Yang pertama menggunakan tangan untuk ditekan di lantai,” ujar Alexander di lokasi rekonstruksi.

Si bayi sempat menangis. Khawatir tangisan itu terdengar orang lain, LSS membekap mulut sang bayi menggunakan kain. Anak tak berdaya itu menemui ajalnya. Ia mengembuskan napas terakhir di tangan ibu kandungnya.

“Agar suara tangisan bayi tersebut tidak terdengar, kemudian dibekap dengan kain,” tandas Alexander.

Dari 20 adegan yang diperagakan LSS, tindakan eksekusi terhadap bayi yang baru dilahirkan tampak pada adegan ke 9, 10, dan 11.

Di luar rekonstruksi, Alexander menyebutkan fakta baru terkait dugaan ayah dari bayi yang dibunuh oleh tersangka. Pada tahun 2017 LSS bercerai dengan suaminya. Mantan suami LSS itu kini berada di daerah Cianjur, Jawa Barat.

Sementara di tahun 2018, tersangka sempat berhubungan badan dengan seorang pria berinisial MM (23) di daerah Jakarta. Sampai saat ini belum diketahui status hubungan antara MM dengan LSS.

“Pada Juni 2018, tersangka LSS pernah berhubungan dengan seseorang di sebuah daerah di Jakarta,” tandas Alexander.

Atas perbuatan menghilangkan nyawa orang lain, LSS dijerat dengan pasal 80 ayat 3 dan ayat 4 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 tentang perubahan atas Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang perlindungan anak dan atau pasal 341 KUHP. Ancaman hukumannya penjara paling lama 15 tahun. (isb/srh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya