oleh

Bayang-Bayang Politik Uang Pemilu di Kota Tangsel

Tangerang7.com, Tangsel — Badan Pengawas Pemilu Kota Tangsel memperkirakan penyelenggaraan Pemilu 2019 di kota ini masih akan dibayangi politik uang. Ini didasari pengalaman penyelenggaraan pemilu sebelumnya.

Ketua Bawaslu Kota Tangsel Muhammad Acep mengatakan, pada pemilihan kepala daerah tahun 2010, Bawaslu mengendus ada aliran uang dari Pamulang menuju Setu, Pondok Aren, Ciputat, Serpong, dan Serpong Utara. Uang pecahan Rp 50.000 dan Rp 100.000 terbungkus amplop diangkut menggunakan mobil ke wilayah tersebut.

“Bahkan, ketika Pemilu Legislatif 2009, saya yang waktu itu bergabung sebagai Panitia Pemilihan Kecamatan (PPK) pernah ditawari Rp 50 juta untuk dibagi-bagi ke anggota PPK,” katanya. Uang itu diberikan agar anggota PPK mencurangi hasil pemilu.

Saat ini, Bawaslu Tangsel sedang menyusun indeks kerawanan pemilu Tangsel. Indeks tersebut disusun berdasarkan lima poin, yakni politik uang, netralitas aparatur sipil negara, netralitas penyelenggara pemilu, akses pengawasan, dan partisipasi pemilih. Politik uang, kata Acep, kemungkinan masih menduduki peringkat tertinggi pada indeks kerawanan pemilu yang akan dirilis 13 April mendatang.

Berdasarkan data Komisi Pemilihan Umum, jumlah pemilih di Kota Tangsel mencapai 948.571 orang. Mereka tersebar di 3.819 tempat pemungutan suara (TPS).

Menurut Koordinator Divisi Pencegahan dan Hubungan Antarlembaga Bawaslu Tangsel Slamet Santosa, sekitar 30 persen dari jumlah TPS itu berpotensi terkena politik uang. Adapun indikator dari TPS yang rentan politik uang antara lain berada di dekat posko pemenangan kandidat dan berada di sekitar tempat tinggal masyarakat miskin.

Acep menambahkan, pemilih kalangan miskin rentan menerima suap. Ada kecenderungan pemilih untuk tidak datang ke TPS jika tidak dibayar. Pemilih ini tersebar di wilayah Setu, Pondok Aren, Ciputat, Serpong, dan Serpong Utara.

Menurut Acep, akan ada apel tim patroli antipolitik uang bentukan Bawaslu di Jakarta. Sementara Bawaslu Tangsel bekerja sama dengan Kepolisian Resor Tangsel untuk melakukan razia pada malam sebelum pencoblosan. Mereka akan menahan kendaraan yang membawa uang tunai ataupun amplop dalam jumlah banyak.

Dilansir Kompas (11/04/2019), warga Kampung Parigi Lama, RT 001 RW 021 Parigi, Pondok Aren, Kota Tangsel beramai-ramai memasang poster menolak politik uang. Poster itu menegaskan bahwa warga kampung ini tidak bersedia hak suaranya “diuangkan”.

“Selamat Datang di Kampung Antipolitik Uang,” demikian poster yang terpampang di depan pintu masuk Kampung Parigi Lama.

Di samping pintu masuk kampung, poster milik Badan Pengawas Pemilu (Bawaslu) bertuliskan “Tolak Uangnya Laporkan Pelakunya”, menutupi poster salah satu partai politik.

Poster itu terpasang di sepanjang Jalan Tidore, jalan utama Kampung Parigi Lama. Rumah Hasnah berada di pinggir jalan itu.

Salah seorang warga, Hasnah, mengatakan Pemilu 2019 adalah hajatan lima tahunan yang rutin dia ikuti. Tidak pernah sekalipun ia golput atau tidak memilih. Beberapa kali ia sempat mencuri dengar bahwa ada tim sukses calon legislatif yang menawari uang. Ia bergeming. “Kalau uang mah ora (tidak), kita mah memilih yang adil. Maunya memilih yang sesuai di hati saya sendiri, begitu,” katanya.

Sebuah poster Bawaslu terpampang di depan rumahnya. Hasnah buta huruf. Tetapi dari sosialisasi akhir Maret lalu, ia mengetahui bahwa poster itu berpesan untuk tidak menerima uang dari kandidat yang berlaga di Pemilu 2019. Pesan itu ia terima.

“Saya takut mengambil uang. Saya buta huruf, nanti diseret Komisi Pemberantasan Korupsi,” katanya sambil menunjuk poster di depan rumahnya.

Nur (40) sudah 26 tahun tinggal di Kampung Parigi Lama yang bersebelahan dengan Situ Parigi ini. Selama itu pula, ia tidak pernah absen mencoblos. “Pemilu cuma lima tahun sekali. Nyoblos itu hak kita, rugi kalau tidak digunakan,” katanya.

Dalam pemilu sebelumnya, ia pernah terkena operasi “serangan fajar”. Pada suatu pagi, ujug-ujug datang seseorang memberi amplop dengan syarat harus memilih kandidat tertentu.

Agar orang itu tidak tersinggung, dia mengatakan akan mengikuti saran orang tersebut. Sementara amplop tidak dia ambil. “Di TPS (tempat pemungutan suara), saya tetap coblos calon yang sesuai dengan pilihan saya,” katanya. (t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya