oleh

Antrean Masih Panjang, Obat Juga Beli di Luar

Tangerang7.com, Karawaci – Lamanya antrean saat berobat di rumah sakit masih menjadi persoalan yang paling dikeluhkan sejumlah pasien peserta BPJS Kesehatan. Rata-rata mereka harus mengantre paling cepat delapan jam di rumah sakit yang menjadi rujukan.

Hal ini disampaikan sejumlah keluarga pasien pemegang Kartu Indonesia Sehat (KIS) Jaminan Kesehatan Nasional (JKN) saat berobat di salah satu rumah sakit di Karawaci, Kota Tangerang, Rabu (06/02/2019).

Supriyati misalnya. Keluarga pasien rujukan dari Puskesmas Kutabumi ini mengantre selama delapan jam mulai dari pemberkasan, bertemu dokter sampai mengambil obat. Padahal, dia sudah mengambil nomor antrean secara online melalui aplikasi rumah sakit tersebut beberapa hari sebelumnya.

“Saya mengantar suami datang jam 10-an dapat nomor antrean 37. Nunggu dipanggil sekitar tiga jam baru bisa masuk ruang periksa bertemu dokter. Sedangkan di ruang periksa nggak sampai lima menit,” kata dia kepada Tangerang7.com.

Menurut Supriyati, dalam kondisi lemas dan kepayahan, dia bersama suaminya masih harus menunggu lagi di loket resep obat usai diperiksa dokter. Antrean di sana bejubel. Sang suami menunggu di kursi tunggu. Sementara dia berdiri di depan loket bersama keluarga pasien lainnya karena seluruh kursi tunggu di rumah sakit itu penuh terisi.

Nama suaminya dipanggil petugas melalui pengeras suara setelah 1 jam mengantre. Dia menerima secarik kertas bertuliskan jumlah dan jenis obat lengkap dengan total harga. Kertas tersebut kemudian diserahkan ke bagian pengambilan obat khusus pasien BPJS. Antrean di sini pun tak kalah sesaknya. Keluarga pasien berkerumun di depan loket pengambilan obat.

“Di loket pengambilan obat antrenya sampai 2,5 jam. Kalau dihitung dari awal tiba di rumah sakit sampai dapat obat, ya hampir delapan jam di sini,” katanya.

Obat Sering Kosong

Tak cuma soal lamanya antrean. Supriyati juga mengeluhkan jumlah obat yang dia dapat untuk suaminya tak sesuai resep dokter. Ada jenis obat yang saat itu kosong sehingga dia harus membelinya di luar. Kondisi ini sering dialaminya setiap berobat rujukan ke rumah sakit.

“Bulan-bulan kemarin juga begini. Harusnya dapat enam jenis obat sesuai resep dokter. Tapi sekarang ini cuma dapat lima jenis. Satu jenis lagi nggak ada karena kata petugas obatnya kosong. Sedangkan kalau membeli di luar, harganya lumayan mahal,” kata dia.

Sejak setahun terakhir, Supriyati membeli jenis obat tertentu sendiri setiap bulannya. Obat tersebut ia beli di apotek dengan uang pribadi. Sekali beli, ia bisa menghabiskan biaya sekitar Rp90 ribu.

Selain jenis obat tertentu itu, Supriyati pun kerap membeli persediaan seluruh obat sendiri setelah suaminya berobat. Rumah sakit tempatnya berobat memberi obat untuk dikonsumsi selama seminggu. Padahal, obat itu harus diminum setiap hari. Obat itu baru bisa diperoleh lagi saat kontrol kesehatan bulan depan.

“Setiap bulan sudah rutin bayar iuran BPJS. Tapi tetap saja mengeluarkan uang beli obat. Padahal, katanya, semua biaya pengobatan gratis dengan BPJS. Buat orang yang tidak mampu, ini bisa membebani,” katanya.

Diagnosa Membingungkan

Supriyati menambahkan, pelayanan kesehatan yang diterima suaminya pun tidak selalu memuaskan. Bahkan, hingga kini, ia tidak tahu pasti penyakit apa yang menyerang suaminya. Kadang didiagnosa diabetes melitus. Kadang saat kontrol berikutnya didiagnosa vertigo.

Pernah juga didiagnosa dengan nama medis yang dia tidak paham. Padahal dalam setiap kunjungan ke dokter, keluhan yang dirasakan dan disampaikan suaminya selalu sama. Dokter pun hanya menyarankan untuk terus mengonsumsi obat sesuai resepnya.

“Hasil diagnosanya membingungkan. Saat bertemu dokter juga suami saya sering cuma ditanya keluhannya apa dan setelah itu dikasih resep obat. Jarang-jarang pakai stetoskop,” kata dia.

Walaupun begitu, dia dan suami belum pernah melapor ke pihak BPJS Kesehatan soal kendala yang dialami. Mereka mengaku tidak tahu prosedur untuk melapor.

Keluhan yang disampaikan Supriyati ini seragam dengan yang disampaikan keluarga pasien lainnya di rumah sakit tersebut. Mustofa, warga Periuk, Kota Tangerang juga mengalami hal yang sama. Begitu juga dengan Siti Maesaroh, keluarga pasien asal Sepatan, Kabupaten Tangerang. Mereka juga mengeluhkan lamanya antrean pasien BPJS.

Maesaroh dan pasien BPJS pada umumnya, membutuhkan waktu hingga dua hari untuk memperoleh perawatan yang dibutuhkan. Hari pertama, mereka habiskan di Puskesmas untuk memperoleh rujukan. Besoknya, baru ke rumah sakit. “Jangan ditanya antre berapa lama di rumah sakit,” ujarnya.

Kadang, ia baru bisa bertemu dokter setelah jam makan siang. Ia memaklumi hal ini karena memang pasien BPJS di rumah sakit langganannya sangat ramai. Menurut Maesaroh, untuk mengatasi antrean panjang ini, banyak kawan-kawannya memutuskan menggunakan asuransi swasta. Selain prosesnya lebih sederhana, antreannya pun tak panjang. (fdy/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya