oleh

5 Kasus Kekerasan Seksual pada Anak dalam 3 Pekan

Tangerang7.com, Serpong – Polres Tangsel mengungkap lima kasus kekerasan atau ancaman kekerasan yang memaksa persetubuhan terhadap anak di bawah umur. Pengungkapan lima kasus ini dilakukan selama hampir tiga pekan terakhir, sejak akhir Januari sampai pertengahan Februari 2019.

Tiga kasus kekerasan seksual dilakukan ayah kepada anak tirinya di lokasi berbeda pada akhir Januari. Usia anak yang menjadi korban adalah 6 tahun, 12 tahun, dan 14 tahun. Satu kasus dilakukan seorang kakek terhadap cucu tirinya yang berusia 9 tahun dan dua tersangka melakukan pencabulan kepada siswi 17 tahun.

Komisi Nasional Perlindungan Anak (Komnas PA) pernah menyatakan ada empat faktor yang menyebabkan kekerasan seksual pada anak bisa terjadi. Faktor pertama adalah ada anak yang berpotensi menjadi korban.

Anak yang berpotensi ini adalah anak yang cenderung penakut, berbaju ketat, dan hiperaktif. Komnas PA juga menyarankan orang tua baiknya waspada jika anak sering bermain di rumah tetangga yang tidak ada anak kecilnya, anak suka mandi bersama, anak tidur bersama, dan tidur di tempat terbuka.

Penyebab berikutnya adalah ada anak atau orang dewasa yang berpotensi menjadi pelaku kekerasan. Hal ini terjadi bisa saja akibat dari meniru dari orang tua, televisi, video game, dan film. Rata-rata anak yang menjadi pelaku karena mereka merupakan korban kekerasan. Sedangkan untuk pelaku orang dewasa, yang berpotensi menjadi pelaku adalah mereka yang maniak dan kecanduan pornografi, miras, dan narkotika.

Ada Peluang

Berikutnya adalah adanya peluang kekerasan. Ini bisa terjadi karena kurangnya pengawasan dan perlindungan orang dewasa terhadap anak-anak. Kondisi yang menyebabkan hal tersebut dapat terjadi, antara lain anak hanya tinggal dengan pembantu atau ayah tiri atau ibu tiri atau pamannya saja.

Anak juga hendaknya tidak dibiarkan sendiri di toilet dan ruang terbuka. Selain itu anak semestinya diawasi walaupun sedang bermain dengan orang dewasa.

Yang keempat adalah ada pencetus dari korban dan pelaku. Komnas PA menyebut bahwa anak yang biasanya menjadi pencetus adalah yang sering dipeluk, dipangku, dan dicium tetapi tidak berani menolak. Sedangkan untuk pelaku yang menjadi pencetus biasanya memiliki dorongan seksual yang tidak tersalurkan dengan wajar.

Kasat Reskrim Polres Tangsel AKP Alexander Yurikho mengatakan pihaknya masih menelusuri mengapa kasus kekerasan seksual terhadap anak di bawah umur banyak terjadi. Polres Tangsel akan meminta bantuan para ahli untuk mencari tahu.

Para pelaku dijerat dengan Pasal 81 dan atau 82 Undang-Undang Nomor 35 Tahun 2014 atas Perubahan Undang-Undang Nomor 23 Tahun 2002 tentang Perlindungan Anak. Pelaku diancam hukuman maksimal 15 tahun penjara.

Pelaku Ditembak

Dalam keterangan pers saat merilis kejadian kekerasan seksual pada anak, Selasa (12/02/2019), Kapolres Tangsel AKBP Ferdy Irawan mengatakan, pihaknya telah melakukan tindakan tegas dan terukur kepada SW (29) dan Sa (24). Keduanya adalah pelaku yang telah melakukan tindak pidana kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa persetubuhan terhadap anak di bawah umur, MHK (17.

Timah panas bersarang di kaki kanan SW, karyawan swasta yang merupakan warga Kampung Ciakar Hilir, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang. Peluru juga ditembakkan polisi ke kaki kiri Sa (24), buruh yang merupakan warga Kecamatan Legok, Kabupaten Tangerang.

“Tindakan tegas dan terukur ini diberikan petugas karena para pelaku berusaha melarikan diri dan melawan petugas,” ujar Ferdy kepada wartawan.

Teman Nongkrong

Kejadian itu terjadi pada 18 Januari 2019. Awalnya, dua teman, Se dan NTA, mengajak korban nongkrong di salah satu tempat di Desa Medang Lestari, Kecamatan Pagedangan, Kabupaten Tangerang yang merupakan wilayah hukum Polres Tangsel. Di lokasi itu, mereka bertemu dengan para pelaku.

Seusai nongkrong, mereka pulang. Korban ikut dengan kedua pelaku yang sudah dikenal saat bertemu di lokasi. Ia diajak naik sepeda motor hingga wilayah Kecamatan Pagedangan. Saat berada di tempat sepi, mereka memeluk korban. Satu tersangka memegang tangan korban dan satu pelaku lain membekap mulut korban. Seusai menyetubuhi korban, para pelaku mengantar korban hingga dekat rumah korban.

Korban menceritakan perbuatan kedua pelaku kepada temannya. Selanjutnya, temannya menceritakan peristiwa itu kepada orang tua korban. Didampingi EA, ibunya, korban melaporkan kejadian tersebut kepada Polres Tangsel.

”Didampingi orangtua korban dan petugas P2TP2A Tangerang Selatan, kami sudah memeriksa korban,” ujar Ferdy. Korban juga menjalani visum et repertum.

Dari keterangan korban dan saksi, termasuk kedua temannya, polisi mengejar pelaku. Sebagai tindak lanjut, kata Ferdy, pihaknya akan melakukan pendampingan psikologis terhadap korban dengan bantuan petugas P2TP2A Kota Tangsel.

Sebelumnya, polisi mengungkap kasus tindak pidana kekerasan atau ancaman kekerasan memaksa persetubuhan terhadap anak di bawah umur yang dilakukan pelaku LH (52) kepada cucu tirinya, JQ (9), siswi kelas 3 sekolah dasar, di rumah pelaku di Kelurahan Kademangan, Kecamatan Setu, Kota Tangsel.

Saat pelaku menyetubuhi cucunya, UR (46) memergokinya dan segera melaporkannya kepada ibu korban, CA. Selanjutnya, mereka melaporkan kejadian itu ke polisi. Sebelumnya, pada akhir Januari 2019, Polres Tangsel mengungkap tiga pelaku pencabulan terhadap masing-masing anak tirinya. Peristiwa yang berlangsung pada tahun 2018 itu terjadi saat ibu kandung korban sedang tidak berada di rumah karena bekerja dan berjualan di pasar. (isb/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya