oleh

414 Penyandang Disabilitas Bekerja di Alfamart

Tangerang7.com, Pinang – Keterbatasan fisik tak menjadi kendala untuk bekerja. Terlebih bila perusahaan memiliki program khusus agar kaum difabel atau disabilitas dapat mewujudkan mimpi dalam berkarier.

Seperti dilakukan Alfamart. Jaringan ritel milik PT Sumber Alfaria Trijaya Tbk ini telah meluncurkan program Alfability sejak 2016. Hingga kini, ratusan penyandang disabilitas menjadi karyawan Alfamart.

Human Capital Director Alfamart Tri Wasono Sunu mengatakan, konsep Alfability merupakan upaya perusahaan menuju perusahaan inklusi. Yakni mengembangkan lingkungan kerja yang terbuka dan peduli kepada penyandang disabilitas.

“Alfamart percaya bahwa penyandang disabilitas memiliki potensi yang bisa digali, untuk itu kami terbuka dan memberi kesempatan kepada penyandang disabilitas untuk bergabung dengan kami,” kata Tri dalam diskusi inklusi Hari Disabilitas Internasional di Alfa Tower, Pinang, Tangerang, beberapa waktu lalu.

Corporate Communication General Manager Alfamart Nur Rachman menyebutkan, sampai dengan November 2019 tercatat sebanyak 414 karyawan disabilitas di Alfamart. 414 karyawan tersebut menempati beberapa bagian, mulai dari toko, gudang, hingga kantor.

Nur menyebut Alfability merupakan pintu lebar Alfamart untuk penyandang disabilitas. Belum lama ini salah satu karyawan disabilitas Alfamart, Bayu Setyo Hartanto, mendapat promosi atau kenaikan grade atas prestasinya selama bekerja.

Penghargaan kepada ayah dari satu orang anak itu diberikan atas kontribusinya selama ini di toko dan mampu mencapai target yang diberikan perusahaan. Padahal, fisik pria asal Banjarnegara itu tidak sempurna, di mana hanya memiliki satu kaki.

“Tapi performancenya bahkan tidak kalah dibanding karyawan lainnya yang ada di toko kita. Wajar kalau kemudian ada penghargaan atas itu, bukan karena rasa iba. Namun memang secara kinerja juga baik sekali,” ujar Nur.

Sementara itu, tantangan terbesar bagi Bayu bukanlah bekerja dan bersikap profesional seperti orang kebanyakan. Apalagi sudah tiga tahun dia bekerja di Alfamart.

“Tantangan terbesar itu melawan pandangan orang lain terhadap kita. Serta melawan rasa percaya diri sendiri. Bukan masalah teknis pekerjaan,” kata dia.

Bayu masuk Alfamart berawal dari info yang ia dapat dari salah satu rumah sakit, bahwa Alfamart menerima karyawan untuk penyandang disabilitas. Ia pun langsung mengikuti rangkaian tes untuk menjadi karyawan baru. Sempat hampir gagal pada salah satu tahapan, namun ia akhirnya memenuhi syarat dan dinyatakan lolos sebagai kru toko.

“Sudah dua tahun saya menjadi kru toko dan alhamdulillah teman-teman mengerti keinginan saya, bahwa saya tidak ingin dibedakan. Meski saya tahu mereka ingin membantu, tapi saya ingin berusaha semampu saya dulu. Jangan dikasihani, tapi beri saya dukungan,” ujar Bayu.

Ketika menghadapi konsumen, ia mengaku hampir tidak ada kendala saat memberikan pelayanan. Hal itulah yang membuatnya makin nyaman bekerja, karena memang tidak ingin ada perhatian khusus atas keterbatasannya.

“Mungkin anak-anak kecil yang lihat saya seperti aneh, tapi saya bisa maklum. Saya berterima kasih untuk Alfamart sudah memberikan kesempatan bagi saya dan teman-teman penyandang disabilitas lainnya untuk bisa menunjukkan kemampuan kami, bahwa kami bisa berkarya dan mandiri,” kata Bayu. (***)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya