oleh

11 Kecamatan di Kabupaten Tangerang Krisis Air Bersih

Tangerang7.com, Legok – Musim kemarau berdampak kekeringan di sejumlah wilayah Kabupaten Tangerang. Sebanyak 11 dari 29 kecamatan di kabupaten berjuluk kota seribu industri ini mengalami krisis air bersih.

Kepala Badan Penanggulangan Bencana Daerah Kabupaten Tangerang Agus Suryana mengatakan, krisis air bersih telah terjadi dua pekan terakhir. Padahal, berdasarkan perkiraan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika, puncak kemarau akan terjadi pada Agustus mendatang.

“Kalau berdasarkan permintaan air sudah 11 kecamatan, masyarakat meminta dikirim air sebagai dampak kekeringan,” ujar Agus, Rabu (24/7/2019).

Ke-11 kecamatan tersebut terdiri dari Tigaraksa, Legok, Curug, Jambe, Panongan, Jayanti, Teluknaga, Kosambi, Sindang Jaya, Kronjo, dan Mauk. Menurut Agus, kekeringan baru berdampak pada kali dan sungai, sementara air bawah tanah masih ada.

“Kalau yang bergantung sama kali dan sungai, airnya sudah tidak ada. Selain di kampung-kampung, ada permintaan dari sejumlah institusi karena debit airnya kosong banget, seperti Rumah Sakit Hermina Bitung karena kebutuhan pasien banyak ya kita kirim buat isi tandon,” ujar Agus.

Guna memenuhi kebutuhan masyarakat, BPBD Kabupaten Tangerang melayani tiap permintaan air bersih. Permintaan bisa disampaikan melalui ketua RT/RW atau kepala desa setempat. Agus mengatakan, BPBD Kabupaten Tangerang memiliki sumber air yang tidak pernah kekeringan.

“Kalau permintaan sangat banyak dan kita keteter, kita koordinasi dengan PDAM TKR (Perusahaan Daerah Air Minum Tirta Kerta Raharja),” kata dia.

Agus menyebutkan, dampak lain kekeringan adalah kekurangan pasokan air ke lahan pertanian di wilayah utara, di antaranya Mauk, Pakuhaji, Kresek, dan Gunung Kaler. Berdasarkan informasi dari Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan Kabupaten Tangerang, ada 400 hektare lahan pertanian mengalami kekeringan.

Sementara itu, Camat Legok Nurhalim mengatakan, krisis air bersih di Kecamatan Legok tepat di Desa Palasari dengan lebih kurang 100 kepala keluarga terdampak. “Itu pun hanya satu kampung, di perumahan. Kita sudah kirim bantuan beberapa tangki air,” katanya.

Bantuan air bersih di Palasari bersumber dari BPBD Kabupaten Tangerang, serta ada inisiatif anggota DPRD Kabupaten Tangerang. Menurut Nurhalim, Desa Palasari memang sering dilanda kekeringan karena tanahnya merupakan lempung putih. Sehingga jika kemarau beberapa hari saja, debit air sudah tidak ada.

Sejauh ini sudah dilakukan berbagai upaya untuk mengatasi persoalan itu seperti membuat sumur bor. Namun, masalah kekeringan tidak pernah tuntas karena kedalaman pengeboran terbatas. “Paling dalam 50 meter dan itu cepat kering. Kecamatan tidak cukup anggaran untuk pengadaan alat canggih,” kata dia.

Nurhalim berharap, Dinas Perumahan, Permukiman dan Pemakaman Kabupaten Tangerang segera memberikan solusi berupa pengeboran menggunakan alat canggih. Adapun untuk jangka panjang, PDAM TKR sudah merencanakan untuk membangun Intake, Instalasi Pengolahan Air dan Jaringan Distribusi Sistem Penyediaan Air Minum di Zona A.

“Program PDAM sudah ada tetapi belum realisasi, beberapa waktu lalu disosialisasikan. Nanti pipa dari PDAM melewati beberapa desa mulai dari Legok, Kemuning, dan masuk ke Palasari. Mudah-mudahan tahun ini bisa terealisasi,” pungkas Nurhalim. (srh/srh)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya