oleh

1.805 Peserta Ikuti UNBK Paket C, Siswa Homeschooling Ramaikan Ujian

Tangerang7.com,  Ciputat – Sejumlah siswa homeschooling atau sekolah rumah meramaikan Ujian Nasional Berbasis Komputer (UNBK) untuk Paket C di Kota Tangerang Selatan. Mereka ingin mendapatkan ijazah Paket C untuk melanjutkan kuliah dan mencari kerja.

Dinas Pendidikan Kota Tangsel mencatat, UNBK Paket C yang dimulai Jumat (12/04/2019) diikuti 1.805 peserta. Mereka berasal dari 17 Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

Salah satu peserta, Badar, mengikuti UNBK Paket C di SMA Negeri 1 Kota Tangsel. Badar menjalani sekolah rumah ketika masih kelas II SD. “Waktu kelas I SD, aku sering berantem. Kelas II SD, sudah agak tobat, tapi keluarga kami pindah-pindah, makanya mama bilang untuk homeschooling saja,” kata Badar.

Menurut Badar, sekolah rumah lebih menyenangkan karena waktu belajar fleksibel. Setelah mendapat ijazah, ia berencana melanjutkan studi ke Universitas Terbuka. “Kalau bisa sebelumnya aku cari kerja dulu,” katanya.

Peserta lain, Ziwank (19), hanya sampai kelas III SD menjalani sekolah formal. Setelah itu, ia memilih sekolah rumah. Jadi, dia rutin menjalani pendidikan kesetaraan atau paket. Mulai dari Paket A, B, dan C.

“Hubungan sama guru lebih santai. Kita tidak dituntut tahu banyak hal, jadi merasa tidak terbebani,” katanya.

Setelah mendapat ijazah, Ziwank ingin melanjutkan studi dengan mengambil jurusan informatika. Menurut dia, disiplin ilmu ini lebih berguna pada era revolusi industri gelombang keempat.

Badar dan Ziwank merupakan 2 dari 254 peserta UNBK Paket C dari PKBM Ki Hajar Dewantara. Ketua PKBM Ki Hajar Dewantara Nenen Rohaeti mengatakan, dari semua peserta, sekitar 20 persen merupakan anak sekolah rumah. Sebagian lagi merupakan anak yang belajar mandiri dan diajar orang tuanya di rumah. Jumlah peserta yang masih usia sekolah lebih dari 50 persen.

Selama dua tahun terakhir, kata Nenen, PKBM Ki Hajar Dewantara diisi anak homeschooling. Trennya terus meningkat. ”Padahal, tiga tahun sebelumnya jumlah anak sekolah rumah dengan orang dewasa yang mencari kesetaraan pendidikan masih berimbang,” katanya.

Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kota Tangsel Taryono menjelaskan, sekolah rumah hadir bagi orang tua yang bermobilitas tinggi. Selain itu, sekolah rumah juga dipilih oleh anak dengan keterbatasan fisik dan tidak cocok dengan iklim sekolah formal. Dia menyebutkan, fenomena sekolah rumah sudah menjadi gejala umum di Tangsel. Bahkan, dia sendiri berencana memasukkan anaknya sekolah rumah.

”Hadirnya homeschooling bukan bentuk ketidakpercayaan terhadap sekolah formal, melainkan ini menjadi opsi alternatif bagi anak untuk mendapat akses pendidikan,” katanya.

Sekolah rumah mulai marak di Amerika sekitar tahun 1960-an. Metode ini lahir dari keprihatinan seorang guru bernama John Caldwell Holt. Dia mengembangkan sistem pembelajaran dengan memberi kebebasan kepada anak untuk mengikuti kepentingan mereka sendiri dengan berbagai macam sarana dan sumber belajar. Di Indonesia, sekolah rumah muncul sekitar tahun 1996 dan makin berkembang tahun 2005. Data Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan (Kemendikbud) tahun 2015 mencatat, 11.000 anak usia sekolah menempuh sistem belajar di rumah ini.

Berdasarkan jadwal, UNBK Paket C hari pertama menguji mata pelajaran Bahasa Indonesia. Bagi jebolan sekolah internasional, seperti Angela Michelle (17), soal Bahasa Indonesia bikin keningnya berkerut. Dalam memahami soal, ia harus menerjemahkan terlebih dahulu ke dalam Bahasa Inggris.

”Ada soal tentang peribahasa yang dikasih titik-titik. Jadi, kita disuruh melanjutkan peribahasa tersebut. Aku pusing. Ini soal apa?” katanya. (sof/t7)

Komentar

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Berita Lainnya